Mengejar-Ngejar Penulis, Dari Gorontalo ke Jakarta

mengejar-mengejar-mimpiJudul Buku : Mengejar-Ngejar Mimpi, Diary Kocak Pemuda Nekat
Penulis : Dedi Padiku
Tahun Rilis : 2014
Publisher : Asma Nadia Publishing House

Setiap orang mempunyai mimpinya masing-masing. Bedanya adalah, ada yang hanya menyimpan mimpinya, ada yang sempat berupaya tapi surut setelah tahu menggapai mimpi tidak semudah ‘bermimpi’, tapi ada juga yang dengan gagah berani terus berupaya mengejar mimpi ; pantang berhenti sebelum impian menjadi nyata. DEDI PADIKU boleh jadi masuk di katagori ketiga, setidaknya itulah yang tergambar ketika membaca buku pertamanya MENGEJAR-NGEJAR MIMPI, DIARY KOCAK PEMUDA NEKAT ini.

Impian Dedi mungkin sederhana : menjadi penulis. Di jaman seperti sekarang ini sepertinya menjadi penulis tidak lagi ‘ribet’ seperti era sebelumnya. Di masa lalu, menerbitkan buku membutuhkan proses yang tidak mudah. Selain publisher terbatas, mereka juga sangat selektif dalam menerbitkan karya tulis seseorang yang belum dikenal. Sementara jaman sekarang, teknologi internet telah memungkinkan seseorang menjadi penulis melalui blog, bebas menuliskan apa saja tanpa takut karyanya ‘disetir’ oleh publisher atas nama pasar. Kemudahan juga memungkinkan seseorang menerbitkan bukunya sendiri secara indie tanpa campur tangan publisher. Tapi memang, berhasil menerbitkan buku yang dipublish oleh major publisher seperti punya gengsi tersendiri.

Buku ini -seperti judulnya- memang ditulis dengan gaya bertutur layaknya menulis diary. Dibagi dalam 2 chapter, bagian pertama menceritakan kisah semasa SMK sementara bagian kedua menceritakan pengalaman Dedi selepas SMK. Cerita dutulis secara runtut, menampilkan bagaimana Dedi berupaya mengejar mimpinya dari kota asalnya Gorontalo, kemudian ke Palu, Manado, Makassar dan berakhir di Jakarta.

Yang menarik dari buku ini adalah perjuangan Dedi itu sendiri dalam mengejar mimpinya menjadi penulis. Ada hal-hal tidak terduga yang telah dialami Dedi saat mengejar mimpinya (terutama saat dia nekat pergi ke Jakarta). Apa yang dialami Dedi di Jakarta mungkin banyak dialami juga oleh mereka yang nekad merantau ke Jakarta tanpa tujuan jelas, dari menggelandang di Monas, menjadi kuli bangunan, ditawari menjadi gigolo bahkan hampir direkrut menjadi teroris! Mungkin banyak dari mereka yang mengalami nasib lebih ‘tragis’ dari Dedi saat datang ke Jakarta, tapi di tangan Dedi, kisah itu bisa ditampilkan dengan kocak dan penuh inspirasi.

Dedi berhasil menampilkan sosoknya di buku ini dengan karakter yang lugu, naif, kocak sekaligus positive thinking. Culture shock yang dialaminya di Jakarta digambarkan tanpa ‘malu’ seperti pengalaman pertamanya mengonsumsi tablet vitamin C Effervescent. Alih-alih mencampurnya dengan segelas air, Dedi langsung memasukkan tablet itu ke mulutnya. Bisa dibayangkan ? hehehehe…

Hanya saja, kepolosan dan keluguan ini menjadi agak ‘kontradiktif’. Dedi menulis dengan gaya penulisan yang cerdas, dengan istilah-istilah yang cukup keren, sementara dirinya digambarkan naif dan polos, yang bahkan di bagian kata pengantar dari ISA ALAMSYAH disebutkan sangat jelas kepolosan Dedi menyebut DESIGN dengan DESING, atau SIDE BAR yang disebut SI DEBAR. Boleh jadi buku ini memang sudah melalui proses editing sehingga gaya bertuturnya menjadi berubah.

Apapun, buku ini layak dibaca. Segar sekaligus inspiratif. Tidak heran kalau dalam waktu dekat buku ini akan diadaptasi ke layar lebar. Ceritanya sendiri sudah sangat filmis. Bakal bisa menjadi sesuatu bila ditangani oleh sineas yang tepat.

Advertisements

Supernova 5 : Gelombang Mimpi Thomas Alfa Edison

gelombangJudul Buku : Supernova 5 – Gelombang
Penulis : Dewi ‘Dee’ Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka, 2014

Sejak muncul pertama kali di tahun 2001, serial SUPERNOVA tulisan DEWI LESTARI memang berhasil memberikan kejutan di dunia penulisan fiksi Indonesia. Episode pertama KSATRIA, PUTERI DAN BINTANG JATUH sukses membetot perhatian banyak kalangan dan berhasil mendapat banyak penghargaan, termasuk menjadi 5 besar KHATULISTIWA AWARD 2001. Selepas buku pertama, seri selanjutnya muncul dan juga berhasil sukses diterima pasar : AKAR (2002), PETIR (2004) dan PARTIKEL (2012).

Tahun 2014 ini, serial terbaru SUPERNOVA kembali dirilis dengan judul GELOMBANG. Bagi pembaca setia Supernova, kisah lanjutan ini tentu sudah sangat ditunggu. Di buku kedua AKAR sudah dijelaskan Dewi bahwa ada tokoh-tokoh yang akan menjadi bagian dari serial ini yaitu BODHI, ELEKTRA, ZARAH dan ALFA. BODHI sudah menjadi sentral di buku AKAR, ELEKTRA berperan di buku PETIR, ZARAH ambil peranan di buku PARTIKEL, dan tentu saja GELOMBANG menampilkan ALFA sebagai pemeran utama.

Tokoh-tokoh itu ditampilkan dengan utuh di masing-masing buku, dengan karakter mereka masing-masing yang sangat kuat, juga latar belakang tokoh yang juga dipaparkan jelas. Di buku kelima ini, tokoh ALFA digambarkan berasal dari SIANJUR MULA MULA, sebuah daerah di Sumatera Utara yang konon kabarnya merupakan asal mula orang Batak. Paruh awal novel ini menceritakan jelas bagaimana masyarakat Batak, bagaimana agama asli yang disebut UGAMO MALIM, serta bagaimana ‘tradisi’ orang Batak yang kerap memberi nama anaknya dengan nama-nama orang besar, termasuk ALFA yang nama lengkapnya adalah THOMAS ALFA EDISON SAGALA, berikut dua kakaknya ALBERT EINSTEIN SAGALA dan SIR ISAAC NEWTON SAGALA.

Digambarkan mereka hidup tentram, sampai sebuah upacara GONDANG merubah hidup Alfa dan keluarganya. Sejak upacara malam itu, Alfa dihantui oleh makhluk misterius yang disebut SI JAGA PORTIBI, sesosok makhluk hitam bersayap dengan sepasang mata kuning yang menyeramkan. Mendadak Alfa menjadi perbincangan di kalangan orang-orang sakti yang memperebutkannya sebagai murid. Alfa juga kerap mengalami mimpi buruk yang akhirnya membuatnya tidak pernah tidur di malam hari.

Alfa terus mengalami kejadian buruk bila tertidur dan bermimpi, seperti ada seuatu yang menunggunya di alam mimpi, bahkan ketika kemudian dia pindah ke Amerika sebagai imigran gelap. Alfa sampai harus terbang ke Tibet untuk mengurai misteri yang hadir dalam mimpi-mimpinya. Disanalah rahasia besar perlahan terkuak.

Buku ini menjadi pemecah misteri tentang ASKO yang sudah disebut-sebut di buku kedua. Sedikit demi sedikit mulai terkuak tentang hubungan BODHI, ELEKTRA, ZARAH dan ALFA, serta GIO dan pencariannya pada DIVA yang hilang. Hanya saja, keping-keping yang tercecer menjadi susah ‘digali’ karena lamanya jarak terbit antar buku. Kalau ingatan kita ‘kuat’ mungkin tidak masalah. Tapi bagi yang daya ingatnya pas-pasan, setidaknya harus membaca lagi buku AKAR kalau akan membaca buku ini karena kaitannya sangat kuat. Banyak hal-hal yang di buku AKAR dibahas sekilas, kemudian dibahas lebih jelas di buku GELOMBANG.

Kekuatan Dewi Lestari dalam menulis adalah kebisaannya merangkum kata-kata yang mengajak pembacanya larut, ikut ‘berpetualang’ dalam alur cerita, dan selalu berhasil ‘memutarbalikkan’ sesuatu yang selama ini kita anggap simpel menjadi sesuatu yang ternyata serius. Di buku pertama ‘keseriusan’ itu tampak nyata dari banyaknya footnote dan membanjirnya istilah-istilah fisika kimia. Setelah membaca buku keempat PARTIKEL, pembacanya juga akan memandang JAMUR dengan cara yang tidak sama lagi. Di buku kelima ini, Dewi mengajak kita untuk memasuki dunia mimpi. Percayalah, setelah membaca buku ini mungkin kita akan mencari ‘jangkar’ sebelum tidur. Apa itu ‘jangkar’? baca dulu buku ini hehehe..

Satu hal yang buat saya agak mengganjal adalah titik awal diadakannya upacara Gondang yang merubah hidup Alfa itu. Digambarkan seorang bernama BONAR SIMARMATA akan maju ‘nyaleg’ DPR dan minta restu kepada leluhur yang dimanifestasikan dengan diadakannya upacara Gondang. Yang ‘mengganggu’ adalah, setting cerita berlangsung tahun 1990, dimana Indonesia masih dalam masa Orde Baru. Tentu kita semua faham kalau di masa itu DPR dipilih tidak melalui Pemilu Legislatif seperti saat ini, jadi belum ada orang yang maju ‘nyaleg’. Atau kalaupun memang ‘maju’ yang dimaksud tokoh Bonar adalah ‘kompetisi internal’ partai, maka setting tahun 1990 juga tidak tepat karena PEMILU di Indonesia diadakan tahun 1987 kemudian 1992.

Overal, buku ini wajib dibaca bagi yang mengikuti serial Supernova. Bagi yang belum pernah membaca buku-buku Supernova, buku ini tetap bisa dinikmati meskipun memang ada beberapa bagian yang akan membuat kening berkerut. Masih ada satu seri lagi dari serial ini yang berjudul INTELEGENSI EMBUN PAGI yang entah kapan akan ditulis dan dirilis, mudah-mudahan dalam waktu cepat agar semua misteri terpecahkan.

Sekarang, mari kita tidur, dan mencari gelombang mimpi kita sendiri 🙂

Review UNHAPPY ENDING : Dodo Harahap

Ini adalah repost postingan DODO HARAHAP tentang buku gue UNHAPPY ENDING 

UNHAPPY ENDING (KARENA HIDUP TIDAK BISA DITEBAK)

COVER-UHEPermasalahan hidup tidak ada habisnya, selalu datang bertubi-tubi. Permasalahan yang satu selesai tiba-tiba permasalahan yang lainnya sudah menanti di depan mata, itulah yang namanya hidup.

Setidaknya itu adalah cara seorang Aldi Wirya untuk memaparkan realita yang ada di sekitar kita, atau bahkan kehidupan anda sendiri. Sebuah buku yang merupakan kumpulan cerita pendek berjudul Unhappy Ending mampu membuat saya penasaran untuk membacanya dan menikmati setiap konflik yang ada di dalamnya. Buku ini baru saja selesai saya baca. Awalnya saya memiliki asumsi bahwa buku ini adalah hanya kumpulan cerpen biasa yang endingnya sudah bisa ditebak. Ya memang endingnya pasti sesuai dengan judul bukunya, Unhappy Ending. Akan tetapi ternyata seorang Aldi Wirya memiliki cara sendiri bagaimana dia mengakhiri setiap cerita di dalam cerpennya. Tidak bisa ditebak dan jika anda sudah mengetahui endingnya, anda akan berkata di dalam hati “gila ya” (itu versi saya).

Buku Unhappy Ending ini cocok untuk anda yang selalu tertarik dengan konflik percintaan yang sesungguhnya ada atau pernah anda alami di kehidupan sehari-hari. dengan gaya bahasa dan kemampuan menulis seorang Aldi Wirya yang ciamik dalam memainkan kata-kata mampu membuat yang membaca nyaman dalam memahami setiap adegan, kejadian dan konflik. simple, namun menusuk hati. Ada hal yang membuat saya takjub di dalam buku ini yaitu gaya bercerita sang penulis dengan memposisikan tokoh utama sebagai objek penderita dan menceritakan secara lugas serta gaya bahasa yang berbeda-beda di setiap ceritanya. Ada 11 cerita di dalam buku ini dengan permasalahan yang beragam.

Jadi, untuk anda yang sangat menyukai drama, buku ini mampu membawa anda tenggelam ke dalam drama yang ada di setiap ceritanya. Unhappy Ending tidak membatasi persepsi anda bagaimana endingnya nanti, siapkan hati untuk membaca buku kumpulan cerpen ini. Unhappy Ending, You never know what will happen.

Review : Perahu Kertas (Dee)

  • Judul Buku : Perahu Kertas
  • Penulis : Dee (Dewi Lestari)
  • Penerbit : Truedee & Bentang Pustaka

perahuSejak melejit dan mencengangkan banyak orang karena novel SUPERNOVA jilid pertama KSATRIA, PUTERI & BINTANG JATUH, nama DEWI LESTARI a.k.a. DEE memang menjadi lebih dikenal sebagai penulis, setelah sebelumnya orang-orang sudah kadung mengenal dia sebagai penyanyi dari trio kondang RSD. Sukses buku itu kemudian membawa Dee menelorkan karya-karya berikutnya : 2 jilid Supernova selanjutnya (AKAR & PETIR), FILOSOFI KOPI, serta RECTOVERSO.

Novel PERAHU KERTAS adalah karya kesekiannya yang dirilis, tapi sebenarnya novel ini justru sudah ditullis sebelum novel Supernova terbit. Draft awal novel ini sudah ditulis tahun 1996 dengan judul KUGY & KEENAN, tapi belum sempat tamat, Dee sudah berhenti menulis ceritanya sampai bab 34 saja. Barulah tahun 2007 ketika ditawari sebuah perusahaan content provider untuk menerbitkan buku digital, Dee teringat dengan proyek lamanya ini. Niat awal menerbitkan novel-novel yang sudah terbit ke dalam format digital akhirnya berubah menjadi menerbitkan novel ini kedalam format digital pada bulan April 2008 dengan judul PERAHU KERTAS. Sementara novel versi cetaknya baru terbit bulan Agustus 2009, dan sepertinya mendapat sambutan yang cukup bagus.

Novel ini memang sedikit berbeda dengan novel-novel DEE sebelumnya. Kalau di Supernova jilid pertama penuh dengan bahasa-bahasa sains, atau di Supernova jilid kedua yang membawa kita berpetualang ke kawasan Asia, PERAHU KERTAS terasa lebih ‘ringan’. Mungkin seperti membaca novel KSATRIA, PUTERI & BINTANG JATUH hanya pada bagian cerita FERRE-RANA-ARWIN-DIVA saja, tanpa bagian DIMAS-REUBEN yang penuh bahasa-bahasa sains itu.

Ya.. ini memang murni novel roman. Ceritanya tentang KUGY & KEENAN. Kugy adalah seorang perempuan mungil yang unik (baca : berantakan) dalam berpakaian, pengkhayal, suka menulis dongeng dan merasa dirinya adalah agen mata-mata dari Neptunus sang Dewa Laut. Sementara Keenan adalah sosok laki-laki dari keluarga mapan yang nyeniman, cerdas, jago melukis dan penuh kejutan. Satu ‘benang merah’ yang mengaitkan mereka adalah mereka punya kesamaan, yaitu mengorbankan cita-cita utama mereka (menjadi penulis dongeng dan menjadi pelukis) untuk hal lain yang lebih ‘pasti’. Kugy merasa menjadi penulis dongeng adalah profesi yang sulit diterima saat ini, jadi dia harus mengubur dulu impiannya itu dengan menulis cerita yang lebih diminati pasar, sementara Keenan yang ditentang menjadi pelukis oleh ayahnya membuatnya memilih mengikuti lebih dulu keinginan ayahnya.

Ketertarikan antara mereka berdua tidak bisa dihindari, tapi ternyata tidak semudah itu mereka bisa bersatu. Dan apakah akhirnya mereka bisa bersatu?

Membaca buku ini memang mengasyikkan. Dee memang piawai merangkai kata-kata. Beberapa bagian terasa menyentuh, di bagian lain kocak dan membuat tertawa, sementara di bagian lainnya membuat kita merenung karena beberapa kata yang mempunyai kedalaman makna. Memang novel ini terasa lebih ringan dibandingkan novel-novel sebelumnya, tapi bukan berarti kehilangan bobot. Hanya saja, ada bagian yang mengingatkan pada cerita ARWIN-RANA dalam Supernova jilid 1. Untuk yang pernah membaca Supernova 1 mungkin akan merasakan itu.

Dewi (dan editornya) juga kurang teliti. Di Bab 11 (SAKOLA ALIT), diceritakan bahwa KUGY, AMI & ICAL datang ke sebuah kampung untuk membuka sekolah terbuka :

“Pak Somad, kenalkan, ini teman-teman saya yang nanti ikut ngajar,” Ami memperkenalkan ketiga temannya satu per satu.

Padahal mereka cuma bertiga : Ami, Kugy & Ical, sementara Ami memperkenalkan KETIGA temannya, berarti ada tiga orang plus Ami jadi 4 orang !!!

Diluar ketidaktelitian itu, novel ini layak dibaca dan dikoleksi. Alurnya lancar dan sangat filmis. Sangat mungkin untuk diangkat ke layar lebar, dan bukan tidak mungkin akan menjadi film laris kalau digarap oleh sutradara yang tepat dan dimainkan oleh pemain yang pas pula.

Bintang 3 1/2 untuk PERAHU KERTAS, masih kalah dari SUPERNOVA : KSATRIA, PUTERI & BINTANG JATUH yang mendapat bintang 4 1/2 dari gue…

The Glam Girls : Reputation

img_1236

“Menurutmu kami cantik, dan diam-diam kamu benci setengah mati karenanya. Malamnya, dalam doa kamu bertanya, kenapa Tuhan bisa sebegitu nggak adilnya.  Well, itu anugerah. Kalo kamu benci kami karena sesuatu yang dibawa sejak lahir, apa akan adil kalo kami juga membencimu karena pintar ?”

 

Itulah sekelumit kalimat yang diambil dari back cover novel baru serial THE GLAM GIRLS terbitan GAGAS MEDIA berjudul REPUTATION yang ditulis oleh TESSA INTANYA. Membaca kalimat itu memang sepertinya sudah bisa menggambarkan apa isi novel ini. Terlebih embel-embel THE GLAM GIRLS sudah jelas-jelas menunjukkan tentang apa novel ini berkisah.

 

Yup, ini memang kisah tentang sebuah clique (baca : geng) yang terdiri dari 3 orang cewek cantik dan tajir : RASHIDA AGASHI a.k.a Rashi, SHINA MAESSA WIJAYA a.k.a Maybella dan ADRIANNA FERNANDHITA FAUZI a.k.a Adrianna. Mereka bertiga adalah murid grade 10 di VOLTAIRE INTERNATIONAL SCHOOL, sebuah sekolah Internasional yang murid-muridnya hanya terdiri dari dua katagori : Kalo nggak kaya banget ya pinter banget.

 

Buku ini sendiri adalah buku kedua dari serial The Glam Girls. Buku pertama ditulis oleh NINA ARDIANTI dengan mengambil cerita dari sudut pandang Adrianna, yang menceritakan bagaimana si Ad yang tadinya membenci Rashi dan clique-nya tapi malah belakangan bergabung dengan clique dan mendepak MARION THEROUX dari anggota clique. Di buku kedua yang ditulis Tessa, cerita mengambil sudut pandang Rashi. Dan di buku ketiga nanti yang akan segera dirilis berjudul UNBELIEVABLE, cerita diambil dari sudut pandang Maybella dan ditulis oleh WORO LIANA.

 

REPUTATION mengupas habis soal Rashi. Dari keluarga besarnya yang complicated karena bapaknya 4 kali menikah, kehidupan percintaan, kebenciannya pada sang Ibu kandung, hobi belanja barang-barang branded, sampai upaya Rashi mempertahankan reputasinya karena sebuah blog telah menulis hal-hal buruk yang bisa menjatuhkan reputasinya itu. Tessa menulis cerita dengan teknik bertutur yang lancar dan runtut, tentu dengan -ini memang ciri khas Tessa- taburan kalimat berbahasa Inggris yang tersebar dalam narasi ataupun dialog. Bagi yang jago bahasa Inggris memang tidak bermasalah, tapi bagi mereka yang bahasa Inggrisnya pas-pasan, membaca novel ini setidaknya harus memegang kamus. Tapi mengingat kemasan novel ini, kayaknya pasar yang dituju memang anak muda yang sudah ‘melek’ bahasa Inggris, which is mereka yang ada di kota-kota besar, jadi taburan bahasa Inggris itu memang ‘sesuai segmen’.

 

Tessa cukup lihai mengatur plot cerita. Tapi ada beberapa hal yang gue anggap ’mengganggu’.

 

PERTAMA : kebencian Rashi kepada ibu kandungnya. Digambarkan Rashi sangat membenci ibunya, sampai-sampai dalam narasi cerita dia menyebut ibunya dengan namanya saja ’Ayu’ tanpa embel-embel. Tapi penjelasan soal kenapa Rashi membenci ibunya rasanya kurang meyakinkan.

 

KEDUA : peristiwa malam tahun baru 2006. Diceritakan disitu bahwa Indah, salah seorang frenemy (teman tapi musuh) Rashi membuat ulah dengan merebut cowok yang sudah punya pacar dan kemudian malah Indah memberikan cowok itu kunci kamar hotelnya lalu mereka menghabiskan malam tahun baru berdua di kamar. Setting cerita saat ini umur Rashi dan Indah 16 tahun, dan kejadian itu diceritakan terjadi tahun 2006, which is umur Indah masih 13 tahun !!! rasanya gak masuk akal aja seorang cewek berumur 13 tahun ’berani’ menyerahkan kunci hotel tempatnya menginap kepada seorang cowok. Atau apakah memang sudah lazim terjadi di kalangan jetset kita ???  

 

KETIGA : membaca ’kalimat’ di back cover yang gue kutip diatas tulisan ini, rasanya sudah jelas kalo clique ini berisi sosok-sosok cantik yang ’tidak pintar’ (kecuali Ad), tapi membaca novel ini malah terkesan Rashi itu cewek yang cerdas, bahkan diceritakan berhasil membuat blog fashion yang cukup mengagumkan. Rasanya blog semacam ini hanya bisa dibuat oleh orang yang ’pintar’.

 

KEEMPAT : bertebarannya  berbagai merk dan jenis branded fashion dalam cerita cukup mengganggu (buat gue sih, mungkin buat mereka yang benar-benar ngerti branded fashion gak  bermasalah), soalnya biar mikir sampai jedotin kepala, gue gak bakalan kebayang seperti apa bentuknya oversized intrecciato tote bag  Bottega Venetta, gaun crepe de chine Kitten, cocktail ring Maison Martin Margiela, dan masih banyak lagi fashion item yang gak kebayang sama sekali di kepala gue, padahal barang-barang itu dipakai untuk menggambarkan sebuah adegan, yang akhirnya ‘gagal’ gue bayangin seperti apa.

 

Apapun, novel ini cukup enak dibaca, terutama oleh mereka yang mengerti fashion, dan tentu saja mereka-mereka yang jago berbahasa Inggris. Sebuah karya yang sedikit banyak menggambarkan kehidupan anak-anak muda (super) kaya di negeri ini.   

Review : Maryamah Karpov (Mimpi Mimpi Lintang)

marJudul : Maryamah Karpov (Mimpi Mimpi Lintang)
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Cetakan Pertama : November 2008
Halaman/Bab : xii + 504 halaman / 73 Bab
ISBN :978-979-1227-45-2
Harga : Rp. 79.000,00 + discount 10%

Lama banget nunggu buku terakhir dari tetralogi LASKAR PELANGI tulisan ANDREA HIRATA terbit, akhirnya ketika buku terakhir berjudul MARYAMAH KARPOV (MIMPI MIMPI LINTANG) dirilis, gak nunggu lama-lama langsung aja datang ke acara launching supaya bisa dapetin itu buku sesegera mungkin. Dan sepertinya memang banyak orang yang berpikiran sama dengan gue, gak heran acara launching itu padat pengunjung, dan tentu saja tumpukan Maryamah Karpov yang memenuhi area MP Bookstore langsung menyusut dengan cepat. Konon bahkan hanya dalam waktu dua hari buku itu udah habis (padahal cetakan awal buku ini adalah 100.000 eksemplar… jumlah yang fantastis !!!).
Buku terakhir ini sekaligus menjadi buku yang paling tebal diantara 3 buku lainnya. Dan sepertinya Andrea memang ingin merangkum 3 buku sebelumnya dalam buku terakhir ini. Maka di buku ini hampir semua tokoh dari ketiga buku sebelumnya muncul, mulai dari 11 anggota Laskar Pelangi, A Ling, Tuk Bayan Tula, Arai, Bang Zaitun, Maryamah dan Nurmi, Dosen dan teman-teman Ikal di Sorbonne, dan tentu saja tokoh-tokoh baru seperti Drg. Diaz Tanuwijaya.
Seperti biasa, Andrea sangat mahir menuliskan kata-kata yang membuat pembacanya mengharu biru : sedih, senang, tertawa, berganti-ganti sejak dari lembar pertama. Dua bab awal dengan ironis menceritakan nasib Bapaknya Ikal yang ‘naik pangkat’, satu peristiwa yang menjadi alasan kuat mengapa Ikal bertekad mencari ilmu setinggi-tingginya, tidak seperti bapaknya yang menjadi anggota ‘republik tak berijazah’. Bab-bab selanjutnya melompat ke ujian tesis Ikal sampai akhirnya lulus dan kembali ke Belitong. Di Belitong-lah sebagian besar cerita terjadi. Bagaimana nasib Ikal menjadi ‘pengangguran paling intelek’ di Belitong, bagaimana pertemuan kembali Ikal dengan anggota Laskar Pelangi, bagaimana juga nasib percintaan Arai dan Zakiah Nurmala, Bang Zaitun sang flamboyan yang ditinggal keempat istrinya dan memulai kehidupan baru sebagai sopir bus, Lintang yang tetap brilliant dan genius dan bahkan menemukan ‘dalil lintang’, dan banyak cerita-cerita sederhana yang ditampilkan Andrea dengan istimewa.
Membaca buku ini gue jadi tambah pengetahuan baru, tentang budaya orang Melayu di Belitong yang senang bergosip dan menjuluki orang seenaknya bahkan sampai ketika orang itu meninggal, di nisannya yang tertulis adalah nama julukan, bukan nama asli. Gue ketawa pas ngebaca julukan-julukan ajaib orang-orang Melayu Belitong seperti : TANCAP bin Seliman, Mustahaq DAVIDSON, Munawir BERITA BURUK, Rustam SIMPAN PINJAM, Syamsiar BOND dan masih banyak lagi. Bahkan Cik Maryamah pun mendapat julukan KARPOV sehingga menjadi Maryamah Karpov. Apa dan bagaimana proses pemberian julukan itu sepertinya lebih enak dibaca sendiri di novelnya…
Seperti juga di Laskar Pelangi yang ‘mengeksploatasi’ kecerdasan Lintang, di Maryamah Karpov Lintang juga ‘dieksploatasi’ untuk memecahkan masalah-masalah pelik. Kali ini adalah obsesi Ikal untuk mengarungi Selat Karimata menuju Batuan mencari A Ling, sementara perahu tidak punya dan Ikal memutuskan untuk MEMBUAT SENDIRI perahu itu !!! Dengan bantuan Lintang berdasarkan rumus-rumus ilmiah, akhirnya Ikal berhasil membuat perahu serta memunculkan kembali sebuah perahu yang sudah karam ratusan tahun dibawah jembatan sungai Linggang.
Ikal akhirnya bersama Mahar dan dua tokoh baru (Kalimut dan Chung Fa) berlayar menembus Selat Karimata menemui Tuk Bayan Tula dan meminta bantuannya agar bisa sampai ke Batuan, sebuah pulau Bajak Laut, untuk mencari A Ling. Ya. Ikal akhirnya memang bertemu A Ling… mereka mengulangi lagi-lagi romansa komidi putar seperti masa lalu… A Ling bahkan minta ‘dicuri’ oleh Ikal dari pamannya, sebuah bahasa halus untuk siap dipinang. Tapi apakah mereka benar-benar menikah ??? Baca sendiri ya novelnya… 🙂
Secara keseluruhan buku ini asyik dibaca. Meskipun ketika merefleksikan keseluruhan isi buku dengan judul MARYAMAH KARPOV sepertinya gak nyambung. Membaca judul dan melihat design cover yang sangat cantik dengan perempuan menggesek biola, awalnya gue berpikir buku ini bakal banyak menceritakan tentang perempuan ini. Ternyata gue salah. Peran tokoh Maryamah Karpov dalam cerita ini sangat kecil, bahkan kalaupun dihilangkan juga tidak berpengaruh. Bahkan sebenarnya sub judul MIMPI MIMPI LINTANG malah bisa lebih pas dijadikan judul, karena itulah nama yang diberikan Ikal pada perahu bikinannya. Seperti biasa Andrea menuliskan sesuatu dengan ‘bombastis’ atau kata anak sekarang ‘lebay’… suka gak realistis. Ini terjadi ketika Ikal digambarkan bisa membuat perahu sendiri (dibantu anggota Laskar Pelangi), atau menimbulkan kembali perahu jaman baheula yang udah terkubur lumpur ratusan tahun di bawah jembatan sungai Linggang. Memang Andrea dengan lihai membeberkan teori dan rumus-rumus yang memungkinkan semua peristiwa itu make sense secara ilmiah, tapi tetap saja ‘lebay’ buat gue. Sempet juga ada kejanggalan, kalau dalam istilah dunia perfilman adalah blooper alias tidak continuity antara adegan satu dengan adegan lain. Di buku ini, saat menceritakan teman-teman Laskar Pelanginya saat reuni di SDN Muhammadiyah Gantong, Ikal mengatakan bahwa tidak ada anggota Laskar Pelangi selain dirinya yang merantau keluar Belitong. Padahal di buku Laskar Pelangi diceritakan bahwa Syahdan mendapat kesempatan kuliah di Tokyo !!! Memang tidak mempengaruhi keseluruhan cerita, tapi kenapa bisa begini gak ngerti juga… Hal yang sama juga sebenarnya terjadi di buku kedua SANG PEMIMPI, yang menceritakan Ikal merantau ke Jakarta berdua saja dengan ARAI, padahal di buku Laskar Pelangi diceritakan Ikal merantau ke Jakarta bersama dengan SYAHDAN dan KUCAI (seharusnya TRAPANI berencana ikut tapi tidak datang ke dermaga karena tidak bisa berpisah dari ibunya). Untuk sebuah tetralogi yang mestinya keseluruhan cerita nyambung jadi satu, blooper seperti ini rasanya cukup mengganggu.
Apapun, tetralogi ini memang fenomenal. Film LASKAR PELANGI saja berhasil memecahkan rekor penonton 4.3 juta (data dari jaringan bioskop 21 tanggal 28 November 2008) hanya dari kota utama. Ini angka fantastis… tidak heran buku kedua SANG PEMIMPI sedang disiapkan untuk difilmkan, dan rencananya akhir 2009 sudah bisa ditonton. Untuk Maryamah Karpov sendiri Andrea Hirata secara pribadi bilang, ingin melihat buku ini difilmkan.
Oke… 3 Bintang untuk MARYAMAH KARPOV dari gue, sama seperti EDENSOR. Sementara 4 bintang buat LASKAR PELANGI.. dan 5 bintang untuk SANG PEMIMPI. Yup… buat gue pribadi, SANG PEMIMPI adalah buku tervavorit dari rangkaian tetralogi ini.