Marlina, 4 Babak Yang Menggugat

Judul Film : Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts)
Sutradara : Mouly Surya
Skenario : Mouly Surya & Rama Adi
Cerita : Garin Nugroho
Cast : Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egi Fedly
Produser : Rama Adi & Fauzan Zidni
Produksi : Cinesurya & Kaninga Pictures

 

DKk73sHUMAAmFzO

Apa yang bisa dilakukan seorang perempuan, janda, tinggal sendiri di sebuah rumah di tengah perbukitan tandus berumput kering tanpa tetangga, ketika 7 orang penjahat datang dan menyikat habis ternak yang dimilikinya, sekaligus merenggut kehormatannya ? Pasrah pada keadaan, mengakui bahwa kodrat wanita memang diciptakan lemah tanpa daya, terlebih dalam situasi serba tidak memungkinkan seperti itu ? Atau ada pilihan lain?

Marlina (Marsha Timothy), tokoh utama dalam film MARLINA THE MURDERER IN FOUR ACTS atau dalam bahasa Indonesia menjadi MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK mengalami hal tersebut. Dirampok, diteror, diperkosa, serta dalam kondisi serba tidak memungkinkan, tapi Marlina memilih menggugat dengan caranya sendiri. 4 Babak film ini menggambarkan upaya Marlina untuk membuktikan bahwa perempuan punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya, mencari keadilan dalam keteguhan sekaligus kepolosan, serta menunjukkan bahwa perempuan mempunyai dua sisi : kelembutan dan  kekuatan dalam waktu yang bersamaan.

Kelembutan, sopan santun dan kepatuhan yang menjadi tipikal perempuan Sumba berhasil ditunjukkan Marlina saat para penjahat itu menyambangi rumahnya. Tidak ada perlawanan saat mereka mengangkut hartanya ke dalam truk. Tidak nampak juga rasa ketakutan saat Markus (Egi Fedly) menerornya dengan kata-kata yang  mengancam. Marlina justru menimpali kata-kata Markus dengan pasti, tidak melawan tapi juga tidak terlihat ‘menyerah’.

Seperti pada cuplikan dialog Marlina – Markus yang kurang lebih seperti berikut :

Marlina : Apa yang kalian inginkan ?

Markus : Semua uang kamu, semua ternak kamu. Kalau masih ada waktu, kita bertujuh tidur dengan kamu. Malam ini kamu adalah perempuan yang paling beruntung.

Marlina : Saya perempuan yang paling sial malam ini…

Dialog itu diucapkan tidak dengan nada menggelegak penuh emosi layaknya adegan penjahat dalam film-film mainstream. Marlina sang korban pun tidak dengan menangis meratap-ratap ketakutan. Dialog itu datar saja. Tapi justru terdengar menggetarkan.

Marlina tetap menunjukkan kepatuhan dan kesopanannya saat para penjahat itu minta dimasakkan makan malam. Tapi dengan caranya sendiri, Marlina mencoba melepaskan diri dari bahaya yang mengintainya. Dengan kepolosan, kepatuhan dan kesopanan yang ditunjukkan itu, Marlina justru bisa menghabisi para perampok itu lewat masakan sop ayam beracun yang disuguhkannya.

Dan untuk Markus sang pemerkosa, Marlina menghabisi dengan cara memenggal kepalanya. Dan dari sanalah ceritanya dimulai.

Marlina mencoba mencari keadilan dengan menenteng kepala Markus itu menuju kantor polisi, tanpa perlu dibungkus atau dimasukkan ke dalam tas. Menyeramkan? sepertinya iya. Tapi disinilah letak kehebatan film ini (juga akting Marsha tentunya). Adegan yang sebenarnya creepy ini justru terasa ‘dimaklumi’ oleh kita para penonton karena ikut larut dalam cerita, merasakan apa yang dirasakan Marlina. Padahal tidak hanya itu, tidak cukup hanya membawa kepala Markus saja. Sosok Markus tanpa kepala juga terlihat mengikuti Marlina kemanapun Marlina pergi. Kalau ini adalah film thriller atau horor mainstream, pasti para penonton akan saling berteriak. Hebatnya, di film ini penonton diam.

Marlina-si-Pembunuh-dalam-Empat-Babak-BookMyShow-Indonesia-1-e1510040941725

Sebuah pencapaian baru dari film Indonesia. Mouly Surya sang sutradara berhasil menunjukkan kelasnya sebagai sineas muda yang patut diperhitungkan. Tidak hanya berhasil menuangkan ide cerita bikinan Garin Nugroho dengan  tepat, Mouly juga berhasil menggarap keseluruhan elemen dari film ini menjadi satu kesatuan yang solid. Akting pemain sangat terjaga, meskipun hanya ‘menjual’ nama Marsha Timothy tapi Mouly berhasil membuktikan bahwa tanpa deretan pemain bintang yang sedang punya nama besar, dia mampu menghasilkan film yang memikat.

Credit untuk casting director yang berhasil menemukan Dea Panendra yang sangat natural memerankan Novi (teman Marlina, perempuan hamil yang tidak kunjung melahirkan setelah 10 bulan mengandung). Atau Yoga Pratama yang meskipun sudah eksis dari anak-anak tapi jarang tampil. Di film ini Yoga juga tampil keren sebagai salah satu penjahat, penggambaran bahwa ‘penjahat juga manusia’ berhasil ditunjukkan saat dia beberapa kali terlihat menangis, atau saat berdua bersama Marlina di dapur saat Marlina sedang memasak Sop Ayam. Pemain-pemain lain dengan peran kecilpun tampil maksimal, seperti aktris teater kawakan Rita Matu Mona yang kebagian peran jadi ibu-ibu penumpang bus, atau Ozzol Ramdan yang menjadi polisi saat Marlina melaporkan kejadian yang dialaminya.

Akting Marsha Timothy jelas tidak diragukan lagi. Dialah pusat dari pesona film ini. Tidak heran predikat ‘The Best Actress’ berhasil direbutnya di ajang Sitges International Fantastic Film Festival Spanyol dan mengalahkan Nicole Kidman!! Bukan hanya itu penghargaan yang diraih film ini dari berbagai festival. Tercatat antara lain award dari Five Flavours Film Festival yang diselenggarakan di Polandia, juga penghargaan untuk Skenario terbaik pada FIFFS Maroko, Film terbaik Asian NestWave dari The QCinema Film Festival Filipina, serta meraih Grand Prize dalam Tokyo Filmex International Film Festival. Film ini juga diputar dalam festival-festival film internasional bergengsi seperti Directors Fortnight, Cannes Film Festival, Toronto International Film Festival, juga di beberapa festival film negara-negara seperti Denmark, Jerman, India, Spanyol, USA, Taiwan, Polandia dan Switzerland.

film marlina

Kekuatan lain film ini adalah gambar-gambar indah pemandangan alam Sumba yang dihadirkan dalam wide angle. Meskipun perbukitan dengan warna rumput kering yang kuning terlihat memenuhi layar, tetap terlihat memukau. Bahkan scene ketika Marlina dan Novi kencing di rerumputan pun terlihat keren.

Penata make up juga boleh… Marsha Timothy yang putih mulus bisa berubah menjadi berkulit coklat eksotis ala perempuan Sumba. Penata kostum juga mantap. Penggunaan dialek Sumba oleh semua pemain juga menambah nilai plus film ini.  Menunjukkan bahwa Indonesia punya banyak kekayaan tradisi yang sebenarnya masih bisa digali.

Good job Mouly Surya serta semua cast dan crew.

Advertisements

Impian anak gaul jaman old

Tadi sore jalan-jalan. Iseng aja sebenernya karena sejak pagi ngerjain report kerjaan padahal hari minggu yeekan.. makanya kelar ngerjain kerjaan selepas ashar gue langsung aja jalan. Dan seperti biasa kalo jalan-jalan gak niat mau ngapain ini biasanya suka beli yang aneh-aneh.

Kan.. lewat ACE Hardware terus pengen masuk dan akhirnya keluar-keluar nenteng satu set sprei bed cover. Bener-bener unpredictable kan, itulah bahayanya kalo jalan-jalan gak niat.

Niatnya mau balik. Eh, pas lewat tempat pijit ala ala gitu di mall, terus mampir totok wajah biar seger. Tuh kan.. Kelar totok wajah udah maghrib. Mampir ke musholla, terus ke CFC aja sekalian makan karena udah waktunya.

Abis itu mau pulang kan… ehhh.. koq ya mata gue mentok sama sebuah gerai dengan logo yang familiar dan mendadak pikiran gue melayang ke masa lalu…

abf219c5d3a66c27ca0855dc8fcd1f24.PNG

Gerai Hammer di Margo City Depok (photo credit : sopsip.com)

. . . . . . H A M M E R . . . . . .

Untuk anak muda awal era 90an, brand ini udah semacam item wajib yang harus dimiliki kalo mau dibilang gaul. Iklan brand ini di majalah-majalah remaja juga gencar sehingga membuat anak-anak muda masa itu berlomba-lomba untuk membeli dan memakainya. Meskipun di masa itu ada banyak brand lain yang juga cukup kondang semacam Country Fiesta, Osella, Hassenda, Arnett, Basic Element, Oto Ono, Walrus dan banyak lagi, tapi HAMMER memang lebih bergengsi. Selain corak dan bahannya yang keren, harganya juga relatif lebih mahal.

Ya.. Mahalll..

Setidaknya buat gue saat itu yang uang saku sekolah per harinya hanya ngepas buat naik angkot dan jajan pas istirahat. Mau nabung buat sekedar beli T-Shirt Hammer yang relatif lebih murah aja sepertinya susah, karena baru terkumpul dikit-dikit udah langsung buat beli kaset atau majalah. Jadinya gue hanya bisa memandang takjub saat jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan melewati deretan Polo Shirt Hammer yang tergantung di hanger. Gak kebeli. Minta nyokap juga paling bakalan diceramahin. Sementara temen-temen gue udah pada pake Hammer, gue cuma bisa nulis di diary. Iya. Serius. Gue masih inget, gue gunting logo Hammer di majalah, trus gue tempel di lembar diary, dan gue tulis di bawahnya “HAMMER, KAPAN GUE BISA MAKE ELO”

Menyedihkan… hahahahaha… sayang diary gue itu ilang entah kemana. Kalo masih ada pasti kocak.

Dan saking ngebetnya buat pake Hammer, akhirnya gue beli versi bajakannya.. hahahaha… Tapi kwalitasnya KW super karena temen-temen gue gak ada yang nyangka kalo itu palsu. Apakah gue puas ? tentu tidaaaak… karena gue belum bener-bener pake Hammer yang asli.

Demam Hammer emang gila-gilaan saat itu. Kalo gue bela-belain beli produk bajakannya (lumayan lah ya masih ‘modal’), ada temennya temen yang bahkan nekad nyolong di Matahari demi bisa pake produk hits ini. Warbiyasaakkk..

20635100_347216272381055_5721242934758604800_n

Iklan Hammer di majalah era 90an dengan bintang sensasional saat itu : Sophia Latjuba & Titi DJ  (photo credit : @asevw)

Dan sayangnya sampai gue kelar sekolah, ‘impian’ gue buat pake Hammer gak kesampaian. Gue baru bisa beli Hammer ‘beneran’ saat gue udah kerja. Dan saat itu Hammer sudah bukan lagi ikon anak gaul. Udah lewat masanya. Gue beli juga karena iseng aja waktu itu.

Dan sudahlah… gue juga udah gak pernah ‘tertarik’ untuk beli Hammer lagi. Kayaknya terakhir gue beli produk Hammer itu lebih dari 17 tahun lalu.. Buset dah… Sering juga kalo pas jalan lihat produk ini masih dijual tapi gak pernah tertarik beli.

Sampai tadi ini, pas abis makan dan gue udah niat pulang, tiba-tiba gue masuk ke gerai Hammer. Lihat-lihat, sentuh-sentuh.. Secara design ternyata produk ini nyaris gak ada perubahan. Polo Shirt garis-garis yang ikonik itu masih ada. Perubahan hanya di logonya saja. Kalo dulu logonya gambar palu dan ada tulisannya HAMMER, sekarang ini cuma gambar palu aja tanpa ada tulisan. Dan entahlah.. ‘dendam’ anak gaul jaman dulu ini seperti menyeruak ( ah elah bahasanya..). Dari nyentuh-nyentuh dan lihat-lihat, akhirnya gue pilih-pilih.. ke kamar pas.. dan akhirnyaaaaaa…

WhatsApp Image 2017-11-19 at 21.34.39

3 Polo Shirt masuk ke kantong belanja aja sodara-sodara…

Memang kacrut nih kalo jalan-jalan gak niat tapi akhirnya malah belanja banyak. Tapi entah kenapa keluar dari gerai Hammer gue senyum-senyum aja bawaannya. Inget mimpi si anak gaul jadul ini… pengen pake Hammer aja pake nulis-nulis diary.. pake beli yang KW cuma buat nampang… giliran udah mampu beli malah gak pengen beli karena udah gak ngehits…

Hidup kadang memang lucu ya.. Selucu gue yang pulang dari mall tiba-tiba kepikiran buat pake 3 kaos itu terus foto-foto gak jelas dan bikin kolase ala-ala iklan Hammer di majalah jadul. Gak papa kan ya.. itung-itung menuntaskan mimpi masa lalu yang gak pernah kesampaian…

hammm

Gimana ? cukup bikin mual kan posenya ? Hahahahahahahahaaaaa..  udah ah…

Kecopetan :(

Kejadiannya udah 3 minggu lalu sih… Sabtu 21 Oktober 2017. Ceritanya naik kereta Commuterline dari Depok menuju Bekasi. Ini adalah rute yang udah sangat sering gue lewatin dan biasanya aman-aman saja.

Maka hari itu gue naik seperti biasa. Dan di tengah jalan dari Depok menuju stasiun transit Manggarai, gue dengerin lagu pake smartphone gue. Ini juga hal yang walaupun gak selalu tapi sering gue lakukan saat naik kereta CL, dan biasanya juga aman-aman saja. Pas turun di Manggarai gue langsung ke jalur 4 buat nunggu kereta ke Bekasi. Hari itu tumben rameeee banget yang antri kereta gak kayak biasanya. Belakangan baru tau ternyata orang-orang rame pada mau ke Cikarang karena baru dibuka jalur kesana. Tapi gue cuek aja lah ya. Udah biasa kalo naik CL kan emang suka gila-gilaan ramenya yeekan..

Kereta datang, gue pun bersiap dan berdesakan dengan calon penumpang lain yang akan naik kereta, sambil tetep dengerin musik, dan yang lagi keputer adalah lagunya ANGGUN – SNOW ON THE SAHARA. Pas kereta berhenti, gue mulai berusaha naik bersama banyak penumpang lain. Berdesakan. Gue berhasil masuk. Tapi tiba-tiba… Anggun berhenti nyanyi. Dalam keadaan masih berdesakan gue susah buat ngecek smartphone di kantong jeans gue. Jadi butuh beberapa detik buat gue bisa berdiri tegak dulu. Dan yaa… smartphone di kantong udah raib. Tinggal headset yang masih nyantol di kuping gue.

Kejadiannya hanya dalam hitungan detik, dan gue udah gak bisa ngelacak siapa yang ngambil smartphone gue. Orang sekeliling gue juga biasa aja, cuek bebek saat gue panik nyari-nyari dan berharap smartphone gue cuma jatuh di lantai CL. Ada bapak-bapak yang nanya dan gue jawab ‘HP saya ilang. ‘ Dan setelah itu ya udah, pada lempeng semuanya.

Gue langsung turun gak jadi naik. Masih berharap siapa tahu smartphone gue itu jatuh di kolong kereta. Tapi ternyata nggak 😦

Nyesek sih. Secara itu smartphone baru gue beli 3 bulan dan harganya cukup lumayan. Tapi gue ikhlasin aja lah…

Satu pelajaran bahwa jangan lagi-lagi naruh smartphone di kantong pas naik commuterline.

IMG_0784

ini penampakan smartphone yang dicopet 😦