Mengejar-Ngejar Penulis, Dari Gorontalo ke Jakarta

mengejar-mengejar-mimpiJudul Buku : Mengejar-Ngejar Mimpi, Diary Kocak Pemuda Nekat
Penulis : Dedi Padiku
Tahun Rilis : 2014
Publisher : Asma Nadia Publishing House

Setiap orang mempunyai mimpinya masing-masing. Bedanya adalah, ada yang hanya menyimpan mimpinya, ada yang sempat berupaya tapi surut setelah tahu menggapai mimpi tidak semudah ‘bermimpi’, tapi ada juga yang dengan gagah berani terus berupaya mengejar mimpi ; pantang berhenti sebelum impian menjadi nyata. DEDI PADIKU boleh jadi masuk di katagori ketiga, setidaknya itulah yang tergambar ketika membaca buku pertamanya MENGEJAR-NGEJAR MIMPI, DIARY KOCAK PEMUDA NEKAT ini.

Impian Dedi mungkin sederhana : menjadi penulis. Di jaman seperti sekarang ini sepertinya menjadi penulis tidak lagi ‘ribet’ seperti era sebelumnya. Di masa lalu, menerbitkan buku membutuhkan proses yang tidak mudah. Selain publisher terbatas, mereka juga sangat selektif dalam menerbitkan karya tulis seseorang yang belum dikenal. Sementara jaman sekarang, teknologi internet telah memungkinkan seseorang menjadi penulis melalui blog, bebas menuliskan apa saja tanpa takut karyanya ‘disetir’ oleh publisher atas nama pasar. Kemudahan juga memungkinkan seseorang menerbitkan bukunya sendiri secara indie tanpa campur tangan publisher. Tapi memang, berhasil menerbitkan buku yang dipublish oleh major publisher seperti punya gengsi tersendiri.

Buku ini -seperti judulnya- memang ditulis dengan gaya bertutur layaknya menulis diary. Dibagi dalam 2 chapter, bagian pertama menceritakan kisah semasa SMK sementara bagian kedua menceritakan pengalaman Dedi selepas SMK. Cerita dutulis secara runtut, menampilkan bagaimana Dedi berupaya mengejar mimpinya dari kota asalnya Gorontalo, kemudian ke Palu, Manado, Makassar dan berakhir di Jakarta.

Yang menarik dari buku ini adalah perjuangan Dedi itu sendiri dalam mengejar mimpinya menjadi penulis. Ada hal-hal tidak terduga yang telah dialami Dedi saat mengejar mimpinya (terutama saat dia nekat pergi ke Jakarta). Apa yang dialami Dedi di Jakarta mungkin banyak dialami juga oleh mereka yang nekad merantau ke Jakarta tanpa tujuan jelas, dari menggelandang di Monas, menjadi kuli bangunan, ditawari menjadi gigolo bahkan hampir direkrut menjadi teroris! Mungkin banyak dari mereka yang mengalami nasib lebih ‘tragis’ dari Dedi saat datang ke Jakarta, tapi di tangan Dedi, kisah itu bisa ditampilkan dengan kocak dan penuh inspirasi.

Dedi berhasil menampilkan sosoknya di buku ini dengan karakter yang lugu, naif, kocak sekaligus positive thinking. Culture shock yang dialaminya di Jakarta digambarkan tanpa ‘malu’ seperti pengalaman pertamanya mengonsumsi tablet vitamin C Effervescent. Alih-alih mencampurnya dengan segelas air, Dedi langsung memasukkan tablet itu ke mulutnya. Bisa dibayangkan ? hehehehe…

Hanya saja, kepolosan dan keluguan ini menjadi agak ‘kontradiktif’. Dedi menulis dengan gaya penulisan yang cerdas, dengan istilah-istilah yang cukup keren, sementara dirinya digambarkan naif dan polos, yang bahkan di bagian kata pengantar dari ISA ALAMSYAH disebutkan sangat jelas kepolosan Dedi menyebut DESIGN dengan DESING, atau SIDE BAR yang disebut SI DEBAR. Boleh jadi buku ini memang sudah melalui proses editing sehingga gaya bertuturnya menjadi berubah.

Apapun, buku ini layak dibaca. Segar sekaligus inspiratif. Tidak heran kalau dalam waktu dekat buku ini akan diadaptasi ke layar lebar. Ceritanya sendiri sudah sangat filmis. Bakal bisa menjadi sesuatu bila ditangani oleh sineas yang tepat.

Advertisements

One thought on “Mengejar-Ngejar Penulis, Dari Gorontalo ke Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s