Legenda Rajawali..

Bagi anda yang mendambakan..
Kenyamanan dan kepuasan..
Dalam menikmati sebuah film
Kini dapat anda wujudkan di Rajawali Theatre
Rajawali Theatre selalu menyajikan film-film bermutu
Rajawali Theatre dengan Dolby Stereo System
Dan central AC..
Dambaan mereka yang berselera tinggi
Selalu tahan gengsi…

Gak tahu kenapa lagu itu tiba-tiba muncul dalam alam ingatan gue dan gak bisa hilang sejak tadi sore. Ya, jangan sedih kalo gak tahu itu lagu apaan karena memang sifatnya sangat lokal. Tapi bagi gue, dan mungkin semua orang yang mengalami masa 80-90an di Purwokerto, yang pernah nonton film di RAJAWALI THEATRE, pasti pernah denger lagu itu. Yap, sebelum film diputar, saat lampu sudah mulai meredup, intro lagu dengan aransemen sederhana itu akan muncul, dan suara laki-laki yang menyanyikan lagu itu akan terdengar. Karena gue suka nonton, dan walaupun jarang nonton di Rajawali karena harga tiketnya tergolong mahal untuk ukuran gue waktu itu, tapi karena lagu itu sedemikian ‘kuat’ menancap di otak gue, maka gak heran kalau gue masih apal SAMPAI DETIK INI.

ratapan-anak-tiri-lirik-lagu-anakGue masih inget pengalaman pertama gue berkenalan dengan sebuah tempat bernama BIOSKOP. Saat itu gue diajak nonton film paling hits di masa itu berjudul RATAPAN ANAK TIRI. Sore-sore udah mandi wangi dan berbedak putih, gue digandeng nyokap memasuki GARUDA THEATRE, Sebuah bioskop yang terletak di dekat Alun-Alun Purwokerto. Gue masih kecil banget, tapi masih jelas terekam kejadian saat itu. Gue excited saat diajak nonton karena it was my first time. Tapi saat langkah gue masuk ke gerbang bioskop gue mendadak ciut. Posisi gedung Garuda Theatre agak jauh dari jalan utama, melewati gerbang dan jalan menurun sekitar 150 meter. Di sisi kanan kiri setelah gerbang itu terpasang gambar lukisan film ukuran besar, dengan gambar kepala pemainnya yang tentu saja sangat besar untuk ukuran gue yang masih berumur 3 tahunan. It was a nightmare. Gue ketakutan ngelihat gambar-gambar itu dan nangis minta pulang. Batal acara nonton RATAPAN ANAK TIRI.

film jadul TIADA SEINDAH CINTAMUSetelah ‘tragedi’ itu, gue tetap dicoba untuk dibawa ke bioskop, dan kali ini gue dibawa ke SRIMAYA THEATRE. Karena di Srimaya tidak ada gambar-gambar ukuran raksasa itu maka gue kalem, sukses masuk untuk menonton sebuah film berjudul SEINDAH CINTAMU. Ya. Ingatan gue luarbiasa keren sampai ingat judul film pertama yang gue tonton di Bioskop. Memang gue gak inget ceritanya apa, lagian karena saat itu diajak nonton malem, maka saat film baru diputar beberapa menit gue udah ngantuk dan tidur. Tapi setidaknya saat pertama lihat layar besar, cahaya dari proyektor memantulkan gambar dan suara, gue benar-benar takjub. Dan setelah itu gue benar-benar jatuh cinta pada film. Film Indonesia.

Setelah gue masuk SD dan udah mulai bisa jalan sendiri kemana-mana, Bioskop adalah salahsatu tempat wajib yang gue kunjungi. Bukan untuk nonton film karena gue gak punya duit tentunya, tapi gue sangat suka liat-liat poster film. Mengamati judul, Sutradara, para aktor dan aktris yang tercantum di poster film, plus photo still adegan-adegan yang terpampang disana sudah membuat gue cukup puas. Pulang sekolah biasanya setelah ganti baju dan makan siang, gue mulai jalan. Yang paling sering adalah ke NUSANTARA THEATRE karena terhitung paling deket sama rumah gue. Jalan kaki melewati rel kereta api melintasi Stasiun Timur Purwokerto, gue akan sampe ke Nusantara Theatre, setelah lihat-lihat poster film, gue akan langsung ke NUSANTARA MUSIC CASSETTE, toko kaset di sebelah bioskop. Disana gue akan lihat-lihat kaset-kaset terbaru. Ya. Film dan Musik memang sudah jadi kecintaan gue dari kecil.

Bioskop Nusantara di era 80an. Foto koleksi Puskom UNSOED

Bioskop Nusantara di era 80an. Pada zaman dulu bioskop ini bernama ELITA. Foto koleksi Puskom UNSOED

Saat itu di Purwokerto ada 6 Bioskop dengan target market yang terbagi dua : menengah atas dan menengah bawah. Untuk kalangan menengah atas ada bioskop NUSANTARA, PRESIDENT dan RAJAWALI. Sesuai dengan segmen yang dituju, harga tiket di bioskop-bioskop ini terhitung mahal. Selain itu secara fisik dan fasilitas bioskop-bioskop ini dilengkapi AC dan tata suara Dolby Stereo, kecuali Nusantara yang tidak ber-AC dan Tata Suara Dolby, maka harga tiketnyapun lebih murah dibandingkan President dan Rajawali. Film-film yang diputar tergolong film-film baru.

PRESIDENT

President Theatre era 80an, Gedung besar di sebelahnya adalah gedung Istana Olahraga (ISOLA). Saat ini baik ISOLA maupun President Theatre sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan. Foto Koleksi Puskom UNSOED

Untuk segmen menengah ke bawah ada bioskop NEW KAMANDAKA, SRIMAYA dan GARUDA. Film-film yang diputar bukan film yang baru rilis, mungkin sudah sebulan atau dua bulan sebelumnya diputar di Nusantara Cs. Harga tiketpun lebih murah, tapi tentu saja dengan fasilitas yang minim semacam toilet yang kumuh dan baunya yang semerbak. Kecuali New Kamandaka yang masih satu kompleks dengan President, gedung dan fasilitas terhitung lebih baik, bahkan lebih bagus dari Nusantara sebenarnya tapi entah mengapa Kamandaka diarahkan menjadi bioskop kelas dua.

SRIMAYA

Bioskop Srimaya awal 90an. Saat diambil gambarnya, Bioskop ini sudah tidak beroperasi. Tidak lama setelah ini, Gedung direnovasi dan berubah fungsi menjadi dealer motor. Pada zaman dulu bioskop ini bernama GLORIA. Foto koleksi Puskom UNSOED

Di akhir 80an muncul lagi bioskop keren bernama DYNASTI yang terletak di area Hotel Dynasti. Bioskop ini mengusung konsep cineplex dengan 3 studio. Pada perkembangannya, RAJAWALI juga berkembang menjadi cineplex. Awalnya satu studio dengan kapasitas 1000 orang yang kemudian dibagi dua sehingga memiliki dua studio, lalu kemudian menambah lagi bangunan sehingga memiliki 4 studio.

Bioskop Rajawali Cinema Purwokerto Siang

Rajawali Theatre era 2000an, masih tetap bertahan sampai sekarang. Foto koleksi Pinoci.Net

Gue lebih sering nonton di Garuda, murah meriah. Banyak film yang gue tonton disini, mulai dari film-film WARKOP DKI, Film-film anak-anak era IRA MAYA SOPHA, RIA IRAWAN, DINA MARIANA dan KIKI SANDRA AMELIA, sampai film-film MERIAM BELLINA, PARAMITHA RUSADY dan sebagainya. Bayar ? TENTU TIDAK !! Lho.. koq bisa ??? Bisa laaah… Secara kondisi gue saat itu gak memungkinkan untuk sering-sering nonton, gue menemukan ‘peluang’ lain untuk bisa nonton. Karena sering main ke Garuda, gue jadi sering mengamati kalau tukang sobek karcis disana kurang teliti sehingga anak-anak kecil suka menerobos masuk ke dalam tanpa diketahui. Temen-temen gue suka melakukan cara ini, istilahnya saat itu adalah ‘nerombol’. Meskipun banyak yang sukses, tapi ada juga yang ketahuan dan akan digelandang lalu diinterogasi macam-macam. Gue gak cukup nyali untuk ‘nerombol’ karena kalau ketahuan pasti orangtua dipanggil ke Garuda. Serem. Maka gue berusaha mencari jalan sendiri untuk bisa nerombol dengan ‘cantik’.

Gue mengamati orangtua yang nonton membawa anaknya. Mereka hanya bawa dua tiket untuk Ayah-Ibu, sementara sang anak yang digandeng tidak perlu membeli tiket. Gue pun akhirnya memberanikan diri untuk ‘berpura-pura’ menjadi anak yang nonton dengan orangtuanya. Gue benar-benar memperhitungkan semuanya. Kalau biasanya ke Garuda dengan baju seadanya, maka gue berusaha mandi sebelum kesana dan memakai baju yang layak untuk ‘dibawa nonton’. Sampai disana, gue akan mengamati calon penonton yang berpasangan. Ketika mereka akan masuk, gue mengikuti tepat di belakang mereka, dan wussss… ternyata GUE BISA MASUK !!! Modus ini cukup sukses membuat gue nonton banyak film tanpa bayar. Memang tidak selalu berhasil kalau ketemu pasangan yang jutek dan terang-terangan tidak ‘mengakui’ gue sebagai anaknya. Kalau ketemu pasangan semacam ini gue akan balik saja. Menunggu besok untuk mencari pasangan yang lebih friendly. Enaknya adalah kalau ketemu pasangan yang baik, mereka tidak jarang justru menggandeng gue masuk ke dalam, seperti sudah paham kemauan gue, walaupun begitu sampai dalam gue akan berlari memisahkan diri mencari tempat duduk sendiri yang memang tanpa nomor, bebas duduk dimana saja. Gue paling seneng kalau ketemu pasangan yang masuk ke kelas 1, karena gue bisa naik ke atas balkon untuk menyaksikan film dengan sensasi berbeda. Ya. Garuda menyediakan balkon di kelas satu ala ala menonton opera.

IMG_0164

Garuda Theatre, tempat nonton favorit karena ‘gratis’ 🙂 Pada zaman dulu bioskop ini bernama CAPITOL

Masa yang sangat menyenangkan. Hobi gue menonton film bisa tersalurkan tanpa butuh biaya. Ilegal memang, tapi namanya juga anak-anak.. hahaha…

Dibandingkan saat ini, fasilitas bioskop mungkin kalah jauh. Tapi ‘kesakralan’ nonton film menurut gue lebih dapet di masa lalu. Dulu Bioskop adalah sebuah tempat yang memang dibangun sebagai bioskop. Orang kalau nonton akan datang ke Bioskop, dengan tukang jualan kacang rebus yang bisa dibeli untuk dimakan di dalam. Jaman sekarang bioskop adalah bagian dari Mall, kadang orang datang bukan karena niat nonton tapi karena tidak tahu mau ngapain di mall, sehingga akhirnya nonton. Satu hal yang juga sangat khas, saat itu ada mobil khusus yang ‘woro-woro’ menyampaikan film-film apa yang sedang diputar sambil membagikan poster film. Mobil ini akan berkeliling kota, dengan suara musik yang khas. Anak-anak akan berlarian merebut poster yang disebarkan.

Rajawalimob

Mobil semacam ini yang selalu berkeliling kota. Rajawali masih mempertahankan tradisi ini setidaknya sampai tahun 2011 seperti di foto, entah apakah sekarang masih ada

Sayangnya, memasuki pertengahan era 90an saat era Laser Disc dan kemudian VCD mulai marak, ditambah maraknya TV Swasta, orang-orang mulai melupakan bioskop. Terlebih kemudian jaringan 21 merajai, sehingga bioskop-bioskop diluar jaringan menjadi kolaps satu persatu. Demikian juga di Purwokerto. Diawali dengan kolapsnya SRIMAYA, kemudian GARUDA, NUSANTARA, PRESIDENT, NEW KAMANDAKA dan DYNASTI. Untunglah RAJAWALI masih tetap bertahan sampai hari ini, sehingga sejarah itu tidak benar-benar terputus di Purwokerto. Salut untuk pemilik bioskop yang karena kecintaannya pada film rela merugi setiap waktu. Kerugian Rajawali dicoba ditutup dengan pendapatan di usaha yang lain. Ya. selain punya Rajawali, sang pemilik juga punya pabrik kosmetik, pabrik roti dan pabrik wig. Dari usaha lain inilah Rajawali disubsidi.

Satu-satunya bioskop di Purwokerto ini sekarang kembali bergairah, seiring industri film nasional yang semakin kuat, dan gaya hidup masyarakat yang kembali ke bioskop. Kalau di masa terberatnya, Rajawali memutarkan film apa saja yang disodorkan distributor, tidak peduli film itu sudah lama dan sudah tersedia VCD nya di pasaran, maka saat ini film-film yang diputar Rajawali adalah film-film yang sama yang sedang diputar di Jakarta. Semoga tetap bisa seperti ini, karena Rajawali adalah Legenda, satu-satunya yang tersisa dari kejayaan bioskop di Purwokerto pada masa lalu.