Tika Bisono sang Kupu-Kupu

1429888508658
Bertemu dan ngobrol dengan orang-orang hebat selalu membuat gue semangat. Inilah salahsatu bagian yang menyenangkan dari seorang Penyiar Radio karena sering mewawancarai orang-orang hebat. Jumat lalu gue kebagian ngobrol sama TIKA BISONO, yang saat ini mungkin lebih dikenal sebagai psikolog kondang. Tapi tentu saja interview gue di acara INDOLAWAS gak akan membahas kiprah Tika sebagai Psikolog, melainkan karirnya di dunia musik yang pernah membesarkan namanya. Berikut hasil interview yang gue tulis ulang.

Karir bernyanyi Tika diawali sejak kelas 4 SD saat bermukim di Riau. Saat itu Tika mewakili sekolahnya mengikuti pop singer anak-anak tingkat Kabupaten, meskipun awalnya ‘dipaksa’ oleh gurunya. Lagu yang harus dibawakannya adalah lagu sedih berjudul MERANTAU, hits dari TITIEK SANDHORA. Tika yang tidak berpengalaman bernyanyi di hadapan banyak orang merasa takut dan grogi sampai akhirnya menangis saking takutnya. Untungnya, meskipun ketakutan, cara bernyanyi Tika tidak salah dan bisa tune dengan iringan musik. Inilah yang menjadi berkah karena Dewan Juri menyangka tangisan Tika karena penghayatan total atas lagu yang dibawakan, sehingga Tika pun keluar sebagai juara pertama!!

Setelah itu karir bernyanyi Tika berlanjut saat membentuk group RIMERKA bersama teman-teman SD nya. Group ini dibuat karena terinspirasi oleh JACKSON FIVE dan THE OSMONDS yang saat itu sedang berjaya. Bersama kelompok ini Tika sering bernyanyi di acara-acara ulangtahun, sunatan, karnaval dan sebagainya. Ini adalah pengalaman yang menurut Tika adalah masa-masa yang sangat menyenangkan.

Selepas SD Tika melanjutkan sekolahnya ke Jakarta, dan kemudian ke Texas, Amerika. Di Texas-lah akhirnya Tika menemukan sesuatu yang kemudian menjadi ciri khasnya : suara falsetto. Awalnya adalah karena disana Tika banyak mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu country, sehingga referensinya kemudian mengacu pada JOHN DENVER, ANNE MURRAY, JOAN BAEZ, JAMES TAYLOR dan sebagainya. Tidak disangka, saat menyanyikan lagu-lagu itu Tika menyanyikan dengan teknik falsetto. Jadilah teknik itu menjadi ciri khas yang terus melekat, meskipun sebenarnya Tika juga mampu bernyanyi menggunakan suara perut sebagaimana penyanyi lain.

lclr 80 copySetelah kembali ke Indonesia, Tika tetap bermusik dengan membentuk vokal group dan juga kursus gitar di YMI. Namanya mulai mencuat saat terpilih menjadi finalis di ajang pemilihan PUTRI REMAJA di majalah GADIS. Saat tampil di malam final, Tika menyanyi sambil bermain gitar. JAMES F. SUNDAH yang malam itu menyaksikan penampilan Tika kemudian kepincut dan mengajak Tika untuk rekaman. Jadilah Tika bernyanyi di ajang bergengsi LOMBA CIPTA LAGU REMAJA PRAMBORS 1980 lewat lagu WAWASAN NUSANTARA, lagu yang cukup banyak mendapat sambutan dari pencinta musik. Kiprah Tika di LCLR juga berlanjut di tahun 1981 lewat lagu BILAMANA dan SANCTA CITRA. Kemudian tahun 1982/1983 lewat lagu MENANTI SARJANA PULANG KE DESA dan PINTA DALAM DOA. Tapi nama Tika paling dikenal saat itu ketika menyanyikan lagu ciptaan GURUH SUKARNO PUTRA dalam album pagelaran UNTUKMU INDONESIAKU berjudul MELATI SUCI.

guruh untuk copyLagu MELATI SUCI sedemikian lekat dengan sosok Tika sampai saat ini, meskipun sudah sempat dirilis ulang oleh beberapa penyanyi. Perpaduan aransemen, materi lagu, serta teknik bernyanyi Tika menjadikan lagu ini terdengar PERFECT. Guruh seperti sangat mengenali karakter suara Tika sehingga berhasil menciptakan lagu yang tepat untuknya. Gue awalnya beranggapan begitu, tapi ternyata salah. Lagu ini dibikin Guruh sebenarnya bukan untuk Tika. Guruh bahkan belum mengenal Tika saat membuat lagu ini. Lagu ini awalnya dibuat untuk dinyanyikan oleh ANNA HARAHAP, salahseorang personel kelompok TRIO BEBEK. Musik yang digarap CHANDRA DARUSMAN pun direkam di Jepang. Tapi sayang, saat suara Anna direkam untuk lagu ini, hasilnya tidak sesuai dengan keinginan Guruh. Lagu ini membutuhkan penyanyi bersuara lembut, halus, megawang-awang. Chandra Darusman sang arranger kemudian teringat dengan Tika, yang lalu merekomendasikan kepada Guruh dan diterima. Pesan Chandra sebelum take vokal lagu ini adalah, dia mengaransemen lagu ini dengan gaya ‘mengawang-awang’ sehingga Tika harus bernyanyi dengan membayangkan suaranya adalah kupu-kupu yang meloncat-loncat di awang-awang. Sebuah metafora yang sebenarnya sulit dipahami tapi bisa diterjemahkan Tika dengan baik, walaupun sebenarnya nada dasar lagu ini kurang tinggi untuk suara Tika. Tika sudah minta nadanya diubah tapi di jaman itu teknologi belum memungkinkan, sementara untuk rekaman ulang jelas tidak mungkin karena dengan begitu harus kembali ke Jepang dan mengeluarkan banyak biaya. Untungnya Tika berhasil menyanyikan dengan baik dan tidak ada yang menyangka kalau nadanya kerendahan. Satu hal yang sebenarnya susah saat menyanyikan nada rendah menggunakan teknik falsetto. Tika memang berhasil menjadi Kupu-kupu yang meloncat-loncat 🙂

Fase karir Tika berikutnya adalah kedekatannya bersama kelompok PAHAMA. Pasca ditinggal BRAM MANUSAMA dan DIANE CARRUTHERS yang hijrah ke Australia, PAHAMA kemudian mengajak Tika untuk bernyanyi bersama. Kolaborasi mereka ternyata menghasilkan harmonisasi yang unik, terlihat saat mereka bernyanyi di album SUARA PERSAUDARAAN lewat single HARI INI DIA ESOK SIAPA. Sepertinya semua setuju kalau harmonsisasi mereka di lagu ini sangat ‘mahal’ dan susah disamai. Di fase ini Tika juga membuat album duet bersama DENNY HATAMI salahseorang personel PAHAMA. Hits mereka KENANGAN BERDUA berhasil menjadi lagu wajib patah hati saat itu. Kerjasama dengan PAHAMA juga terus berlanjut saat Tika merilis album solo PAGI dan KETIKA SENYUMMU HADIR, di album-album ini PAHAMA tampil sebagai backing vocal.

tikaAlbum PAGI (1987) digarap Tika bersama arranger-aranger dan komposer handal saat itu seperti CHRISYE, ADJIE SOETAMA, ERWIN GUTAWA, DIAN PRAMANA POETRA, DEDDY DHUKUN, CANDRA DARUSMAN, DODO ZAKARIA dan TITIK HAMZAH. Album ini cukup bagus di pasaran. Berlanjut dengan KETIKA SENYUMMU HADIR (1990) yang sukses besar di pasaran. Saking ngetopnya lagu ini, sebuah film bahkan diproduksi dengan judul sama. Tapi siapa nyana, suksesnya album ini justru menjadi pemicu ‘hengkangnya’ Tika dari dunia musik. Saat karir Tika sedang berada di puncak, Tika tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Suatu hari dia mendatangi ADI NUGROHO dari PRO SOUND, label yang menaunginya saat itu, dan mengatakan “I QUIT !”

Saat ditanyakan alasan pasti kenapa memutuskan untuk pergi, Tika mengatakan bahwa dia merasa mati rasa dengan industri musik yang tidak berpihak pada artisnya. Tika saat itu menemukan ada data yang berbeda antara angka di lapangan dengan angka di back office. Karena tidak mau ‘berantem’ Tika memilih untuk pergi disaat namanya melambung tinggi, dan memilih menekuni profesi baru sesuai latar belakang pendidikannya sebagai Sarjana Psikologi.

Meskipun tidak lagi berkiprah di depan layar, sampai saat ini Tika masih aktif di dunia musik lewat organisasi PAPPRI. Lewat organisasi ini Tika berusaha untuk mengangkat ‘harkat’ artis penyanyi dan pencipta. Saat ini mereka sedang merancang Undang Undang Musik Indonesia.

Bravo Tika Bisono..

Advertisements

Story Behind The Song

Siaran acara INDOLAWAS bikin gue jadi tahu tentang cerita di balik lagu-lagu hits era 80an. Ya, ini memang pertanyaan yang sering gue tanyain sama penyanyi atau pencipta lagu yang jadi bintang tamu. Rasanya seru aja bisa tahu latar belakang penciptaan sebuah lagu, kadang ada cerita-cerita unik yang sayang kalau dilewatkan. Ini beberapa Story Behind The Song yang berhasil gue kulik dari beberapa tamu di Indolawas. cekidoot…

1. KATAKAN SEJUJURNYA (Rinto Harahap – Christine Panjaitan)
christine katakan copyLagu KATAKAN SEJUJURNYA adalah lagu yang sangat hits dari CHRISTINE PANJAITAN, boleh dibilang menjadi salahsatu yang terngetop dari seluruh albumnya. Tapi siapa sangka kalau RINTO HARAHAP menciptakan lagu ini gara-gara curhatan dari RIA RESTY FAUZY ? Ya, salahsatu kebiasaan Rinto sebelum menciptakan lagu untuk seorang penyanyi adalah mengajak penyanyinya ngobrol untuk mempermudah penghayatan bila lagunya sudah jadi. Saat itu Rinto diminta menciptakan lagu untuk Ria sehingga diapun mengajak Ria ngobrol dan akhirnya ‘keluarlah’ curhatan Ria tentang kisah cintanya saat itu yang kemudian menginspirasi Rinto membuat lagu KATAKAN SEJUJURNYA. Ria pun sukses menyanyikan lagu itu dan dipersiapkan menjadi jagoan untuk album debutnya. Hanya saja, ketika sudah siap dirilis, AKURAMA RECORDS tempat Ria bernaung tiba-tiba mengubah ‘image’ Ria dari awalnya disiapkan menjadi penyanyi pop melankolis menjadi penyanyi pop ceria sehingga akhirnya lagu CINTAKU SEDALAM LAUTAN ATLANTIK lah yang dikedepankan menjadi lagu jagoan, dan lagu KATAKAN SEJUJURNYA malah tidak dimasukkan ke dalam album. Rinto sempat ‘marah’ saat tahu hal ini, tapi kemudian lagu ini diserahkan kepada CHRISTINE PANJAITAN dan ternyata.. boom.. lagu ini meledak di pasaran.

2. CINTAKU SEDALAM LAUTAN ATLANTIK (Adriyadie – Ria Resty Fauzy)
riaIni adalah lagu yang awalnya tidak disiapkan menjadi lagu andalan. Bahkan menurut pengakuannya, RIA RESTY FAUZY tidak sreg ketika harus menyanyikan lagu ini. Ria yang merasa lebih tune dengan lagu-lagu pop melankolis ‘terpaksa’ menyanyikan lagu ini untuk memenuhi kuota album yang membutuhkan 10 lagu. Menjelang album pertamanya rilis, tiba-tiba lagu ini ‘naik kelas’ dan dijadikan lagu andalan sekaligus judul album. Ria sempat protes tapi ‘tidak berdaya’ sehingga akhirnya menurut saja. Bahkan untuk recording ulang agar lagu ini lebih ‘layak’ untuk jadi lagu andalanpun tidak dilakukan karena khawatir Ria tidak mood saat menyanyikannya. Maka, lagu yang direkam ‘apa adanya’ karena tidak diniatkan menjadi lagu andalanpun dirilis dan ternyata berhasil meraih penjualan tinggi. Gara-gara inilah Ria akhirnya menyimpan impiannya menjadi penyanyi lagu pop melankolis.

3. KUNCUP HATI LAYU PASTI (Dian Piesesha)
Konon, peristiwa yang dialami sendiri adalah inspirasi paling ‘mudah’ untuk menciptakan lagu. Terlebih bagi seorang pencipta lagu yang juga penyanyi. DIAN PIESESHA adalah satu dari sedikit penyanyi wanita yang juga piawai menciptakan lagu, meskipun tidak menjadi lagu andalan album. Lagu KUNCUP HATI LAYU PASTI adalah salahsatu lagu ciptaannya yang dinyanyikan sendiri yang terinspirasi dari kehidupan perkawinannya saat itu yang baru seumur jagung tapi sudah mendapatkan masalah. Diciptakan dalam keadaan kondisi fisiknya yang sedang sakit, saat sedang menyepi di Surabaya. Malam hari Dian merenung sendiri di belakang rumah, di hadapan kebun cabe dan jagung dan hamparan rawa-rawa. Menggunakan gitar yang dimainkannya sendiri, terciptalah lagu KUNCUP HATI LAYU PASTI, sebagai gambaran dari suasana hatinya saat itu. Lagu ini kemudian masuk di album TAK INGIN SENDIRI yang meskipun tidak diandalkan tapi berhasil menjadi hits.

4. TAK INGIN SENDIRI (Pance Pondaag – Dian Piesesha)
dian takSaat mempersiapkan album keempatnya, DIAN PIESESHA menderita sakit yang cukup berat. Penyakit ini tidak diceritakan kepada siapapun termasuk keluarganya, Dian menyimpan sendiri rahasia penyakitnya itu. Merasa butuh sesuatu untuk membuatnya lebih tegar, Dian kemudian meminta PANCE PONDAAG untuk menciptakan lagu. Pance kemudian menciptakan lagu TAK INGIN SENDIRI. Meskipun lagu ini terkesan sebagai lagu cinta, sebenarnya lagu ini menceritakan harapan Dian yang menunggu keajaiban dari Tuhan. Kesetiaan dan pengharapan pada Tuhan ini dimanifestasikan Pance dalam sebuah lagu pop melankolis yang berhasil dibawakan Dian dengan bagus. Lagu ini berhasil meledak di pasaran, bahkan menjadi salahsatu album terlaris Indonesia sepanjang masa.

5. BILA KAU SEORANG DIRI (Rinto Harahap – Nur Afni Octavia)
Nur Afni_Bila Kau Seorang DiriSaat hendak menciptakan lagu untuk NUR AFNI OCTAVIA, RINTO HARAHAP mengajak Afni ngobrol tentang apa yang sedang dirasakan saat itu. Afni kemudian curhat tentang kesendiriannya sebagai penyanyi daerah yang baru hijrah ke Jakarta. Rinto kemudian berusaha ‘menghayati’ kesendirian yang sedang dirasakan Afni dengan mancing di laut. Suasana hening dan ‘kesendirian’ di tengah laut berhasil memantik ide Rinto untuk menciptakan lagu BILA KAU SEORANG DIRI yang kemudian berhasil dibawakan Afni dengan bagus. Lagu ini kemudian meledak di pasaran dan menjadi salahsatu lagu Afni yang paling terkenal.

6. IBU (Rinto Harahap – Nur Afni Octavia)
afni ibu copyKembali lagu ciptaan RINTO HARAHAP yang terinspirasi dari cerita nyata penyanyinya. Adalah NUR AFNI OCTAVIA yang saat itu baru saja menikah dan harus ‘terpisah’ dari sang Ibu yang selama ini menemaninya kemana saja. Karena sudah berumahtangga maka peran ibu dalam kehidupannya mulai berkurang, dan itu membuat Afni menjadi merasa sedih. Rinto kemudian menciptakan lagu berjudul IBU yang bercerita tentang kerinduan seorang anak kepada ibunya. Melodi yang melankolis dengan lirik yang dalam membuat Afni tidak kuasa menyanyikannya saat harus take rekaman. Baru beberapa baris dinyanyikan sudah membuatnya menangis. Rinto kemudian menghentikan sesi rekaman dan menyuruh Afni menghabiskan tangisnya. Afni pun menangis sejadi-jadinya sampai emosinya terlepaskan, barulah sesi rekaman dimulai lagi dan berhasil. Hasilnya memang terlihat, penghayatan Afni begitu total karena memang sesuai dengan apa yang sedang dirasakannya. Lagu inipun berhasil menjadi hits besar saat dirilis di pasaran.

Segitu dulu yaaaa… nanti diinget-inget lagi… 🙂

Filosofi Kopi : Penambahan sesuai porsi

Judul Film : Filosofi KopiFilosofi-Kopi Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Cerita : Dewi Lestari
Skenario : Jenny Jusuf
Produser : Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono
Cast : Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo Djarot, Jajang C. Noor, Otig Pakis

Mengadaptasi film berdasarkan buku laris memang bukan perkara baru di industri film kita. Di era 70-80an trend seperti ini sempat mewabah, sehingga muncul film-film laris berdasarkan buku laris dari nama-nama penulis seperti MARGA T, MIRA W, IKE SOEPOMO atau EDDY D. ISKANDAR. Di era sekarang, banyak pula judul-judul buku yang diadaptasi ke layar lebar, dan salahsatu penulis yang bersinar -nyaris- sendirian adalah DEWI LESTARI alias DEE. Karya-karyanya satu persatu dihidupkan lewat film-film yang juga diterima baik di pasaran, dimulai dari PERAHU KERTAS 1 & 2, MADRE, RECTOVERSO, SUPERNOVA KSATRIA PUTRI DAN BINTANG JATUH, serta yang terakhir FILOSOFI KOPI.

Berbeda dengan judul-judul sebelumnya yang merupakan novel dan novelette, atau cerpen-cerpen yang disatukan dalam film omnibus, FILOSOFI KOPI adalah sebuah cerita pendek yang diangkat ke layar menjadi sebuah cerita panjang. Cerita aslinya sendiri sudah sangat menarik, dengan ending yang unpredictable, tapi tentu saja masih kurang untuk menjadi sebuah film yang membutuhkan durasi tertentu. Disini dibutuhkan kerja penulis skenario yang harus ‘menambah cerita’ untuk kepentingan durasi, sebuah kebalikan dari proses adaptasi novel ke layar lebar yang harus membuang-buang banyak cerita untuk kepentingan durasi pula. Secara proses tentu lebih susah ‘menambah’ daripada ‘membuang’ karena menambah berarti mengisi banyak hal, memperpanjang konflik, atau menciptakan cerita-cerita dan tokoh-tokoh baru.

Skenario FILOSOFI KOPI ditulis oleh JENNY JUSUF, yang kemudian mengisi kekosongan-kekosongan dengan cukup cerdas. Di versi cerpen, kita hanya mengenal BEN dan JODY yang berkongsi membuat kedai kopi bernama FILOSOFI KOPI. Tapi di film, kita mengenal BEN dan JODY secara utuh, bagaimana masa lalu mereka, bagaimana mereka bisa dekat dan bersahabat, plus penambahan ‘bumbu’ berupa tokoh perempuan bernama ELAINE yang tidak ada di versi cerpen. Cerita tentu saja berubah, meski tetap pada kerangka yang sama dengan versi cerpen, dan tentu saja dengan ending yang berbeda.

Hadirnya tokoh ELAINE ini sempat membuat gue menebak-nebak bahwa akan ada semacam love triangle atau apalah namanya yang akan menjadi salahsatu konflik di film ini, tapi ternyata… konfliknya ada tapi bukan karena love triangle. Mungkin ini twist yang memang sengaja dibuat untuk membuat calon penontonnya penasaran.

Baiklah… seperti biasa gue kulik akting para pemainnya…

BEN dimainkan oleh CHICCO JERIKHO
benAktor terbaik FFI 2014 lewat film CAHAYA DARI TIMUR ini memang pantas diandalkan. Sosok Ben sang peracik kopi berhasil dihidupkan Chicco dengan luwes. Sifatnya yang undpredictable, seenaknya, cuek, temperamental sekaligus sentimentil kalau menyangkut kopi tampil utuh lewat visualisasi sosok Chicco yang berambut gondrong, jaket robek, wajah lusuh tapi tetap ‘bersinar’. Chemistry antara Ben dengan kopi terlihat nyata. Konon karena Chicco sampai harus kursus menjadi barista untuk pendalaman karakter. Good job.

JODY dimainkan oleh RIO DEWANTO
jodySahabat Ben ini tampil bertolak belakang dengan sosok Ben. Jody adalah sosok yang apik, rapi, fashionable, dewasa dan ngemong. Meskipun sering marah-marah karena ulah Ben, tapi Jody lebih terlihat seperti seorang kakak yang sangat menyayangi Ben. Dan Rio tampil pas. Lewat film ini gue baru sadar kalau ternyata tampang Rio itu oriental. Pas.

ELAINE dimainkan JULIE ESTELLE
elEntah karena yang berperan Julie atau memang skenarionya begitu, tokoh Elaine digambarkan sebagai orang Indonesia keturunan Perancis yang tentu fasih berdialog Perancis. Di dunia nyata, Julie berdarah Perancis, dan ini tentu memudahkannya memerankan Elaine, seorang penulis yang keliling Asia untuk mengulas kopi-kopi terbaik. Elaine dihadirkan Julie apa adanya, tidak berbeda dengan permainannya di film-film terdahulu yang stereotip (kecuali aktingnya di The Raid 2). Elaine tampil sebagai pemanis. Yang memang manis.

BAPAK dan IBU SENO dimainkan SLAMET RAHARDJO DJAROT dan JAJANG C. NOOR
senPara senior berhasil tampil pas. Sosok suami istri petani kopi yang bersahaja berhasil dihadirkan Slamet dan Jajang dengan bagus. Mereka dengan telaten menghadapi Ben yang emosional, seperti sosok orangtua kepada anaknya.

Beberapa cameo juga tampil bagus seperti MELISA KARIM dan TANTA GINTING. Meskipun tampil sekilas, mereka cukup mencuri perhatian.

Gambar-gambar di film ini juga keren. Lanskap pegunungan ditampilkan dari atas menghasilkan view yang keren. Tata artistik juga cukup keren menyulap bangunan ruko tua menjadi kedai kopi yang cozy. Soundtracknya juga keren, ada MALIQ N D’ESSENTIAL lewat lagu SEMESTA yang bagus bangeet… ada juga trio GLENN FREDLY, MONICA TAHALEA dan IS PAYUNG TEDUH, dan tentu saja DEWI LESTARI sang empunya cerita yang juga menyumbangkan lagunya. Sayangnya karena film ini disponsori oleh produk kopi dan gadget, maka jangan heran kalau produk-produk itu berseliweran. Tidak mengganggu cerita sih, tapi yaaa gitu dehhh…

Overall, sebagai sebuah karya yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek, FILOSOFI KOPI terhitung berhasil. Mereka yang sudah pernah membaca cerita aslinya justru seperti ‘terlengkapi’ oleh penambahan cerita yang sesuai porsi. ANGGA DWIMAS SASONGKO sebagai sutradara kembali berhasil menunjukkan kelasnya. Memang tidak secemerlang CAHAYA DARI TIMUR tapi jelas film ini bukan film biasa-biasa.