2014, Sekedar catatan

Gak berasa udah ada di hari terakhir tahun 2014.. Beberapa jam lagi udah ganti tahun, dan disaat gue ngetik ini Jakarta lagi diguyur hujan. Mudah-mudahan ntar malem terang, biar yang udah pada nyusun rencana bisa melaksanakan dengan baik πŸ™‚

Buat gue sendiri tahun ini adalah tahun yang tidak terlalu sibuk dibandingkan tahun 2013. Sibuk dalam artian kerja ke luar kota atau ke luar pulau. Tahun 2013 gue banyak event roadshow yang bahkan sampai ke kota-kota kecil di Sumatera yang namanya aja baru gue denger pas mau event. Tahun 2014 event tetep ada, tapi memang berkurang, mungkin gara-gara PEMILU dan PILPRES kali yaaaa… ya sudahlah…

Selama 365 hari tentu banyak peristiwa yang terjadi.. gak inget juga gue peristiwa apa aja yang udah gue alamin secara gak nyatet di diary (hahaha..), nulis blog juga angot-angotan yeekaan… jadi gue bakal ceritain peristiwa-peristiwa yang memorable aja buat gue..

1. UNHAPPY ENDING
COVER-UHEYaaa.. akhirnya gue rilis buku lagi tahun 2014. Buku kumpulan cerpen yang gue garap lumayan lama secara harus bagi waktu antara kerjaan sama mood juga.. kadang lagi gak ada kerjaan malah mood gak ada.. Alhamdulillah buku ini lumayan disukai sama yang udah baca. Buat gue ini pemicu untuk bikin karya lagi.. dan sekarang ini gue lagi develop novel, sequel dari novel pertama gue absoudre. Masih baru seratusan halaman.. masih jauh dari target.. mudah-mudahan 2015 bisa kelar dan bisa dirilis… aamiin..

2. BATIK
photo 4Tahun ini gue gila-gilaan untuk hal ini. Berasa pengen borong aja kalo masuk ke toko batik. Gara-gara akhir 2013 pas ke Bali mampir ke Krisna trus beli kain batik, terus pas balik nemu tukang jahit deket rumah yang ternyata cocok, akhirnya gue keranjingan beli kain batik. Dari mulai Sarinah, ITC Depok, PGC, sampai Beringharjo dan Pasar Klewer gue jelajahi.. Untungnya kemaren sempet ‘kalap’ belanja di Pasar Klewer sebulan sebelum pasar itu kebakar 😦 Lebih puas buat gue beli kain kemudian dijahitin karena ukurannya pasti pas. Kalo beli jadi gue harus kecilin lagi supaya pas, secara badan model yeekaan.. hahaha..

3. NGEMSI
monasIni pekerjaan yang paling jarang gue lakuin tahun 2014. Entahlah mungkin gue emang gak beruntung di bidang ini hahahaha… Walaupun dari dulu job ngemsi gue mang gak begitu banyak, tapi biasanya lumayan lahh… at least ada beberapa acara gitu. Tahun 2014 tercatat hanya SATU KALI gue kerja ngemsi tahun ini, untuk acara PRJ, yang di MONAS ya.. bukan yang di Kemayoran πŸ™‚ Cukup fun ngemsi di PRJ Monas, walaupun memang gak serame Jakarta Fair Kemayoran. Tapi bagus lah sebagai penyeimbang karena Jakarta Fair tergolong ‘mahal’ untuk masyarakat bawah, sementara yang di Monas ini gratisan.

4. EVENT
photo 3Alhamdulillah tahun ini bisa terlibat lagi di event-event besar. SOUNDRENALINE di dua kota : Surabaya dan Medan. Capek tapi menyenangkan ngeliat acaranya berjalan sukses. IIMS tahun ini juga kebagian kerja di booth ISUZU. Ada beberapa event juga yang lucunya menjadi event pertama di awal 2014 dan event terakhir di akhir 2014, dengan venue yang sama : Sofitel Hotel Bali. Tahun 2014 juga gue ‘berani’ ambil job jadi Show Director, masih event kecil-kecilan sih di Sukabumi hehehe…

5. JALAN JALAN
jg6Tahun 2014 gue jarang jalan-jalan. Sempet jalan-jalan ke Jogja sih… naik mobil rame-rame trus baliknya gue duluan naik kereta karena harus kerja 😦 Trus pas ada temen married di Solo, rame-rame juga pake bus kesana, trus gue extend.. di Jogja… tetep.. gara-gara keranjingan Batik gue jadi demen ke Jogja. Ke Surabaya, Medan, Bali.. tapi dalam rangka kerja.. jadi lupakan jalan-jalan karena gak sempet juga.. Kalo jalan-jalan deket macam ke Bandung, Bogor atau ke Puncak dianggep bukan jalan-jalan kali yaaaa…

6. PIRINGAN HITAM
photo 5Akhir tahun 2013 gue beli turntable, nitip sama temen dari Australia πŸ™‚ Akhirnya gue bisa hunting-hunting Piringan Hitam. Agak susah dan relatif lebih mahal hunting PH dibandingin kaset bekas. Jadi koleksi PH gue belom bisa dibilang banyak sih.. lumayan lah ada KIKI MARIA, CHINTAMI ATMANAGARA, ANDI MERIEM MATTALATTA, IRA MAYA SOPHA, YANTI KOSASIH.. sampai WHITNEY HOUSTON, BARBRA STREISAND dan ELTON JOHN. Udah lama gak hunting PH nih..

7. KASET BEKAS
JISSenasib dengan PH, tahun ini gue juga jarang hunting kaset bekas, sampai-sampai kalo pas hunting di tempat langganan pasti ditanyain ‘kemana aja?’. Sampai saat ini gue gak tahu pasti berapa jumlah kaset yang gue koleksi. Gue belom pernah ngitung soalnya… paling yang bisa gue deteksi yang udah gue posting di Indolawas. Jumlah postingan Indolawas per hari ini ada 2015.. cakeeep.. sama kayak tahun baru hehehe…

8. INDOLAWAS
photo 1Blog gue indolawas.blogspot.com alhamdulillah banyak dikunjungi orang. Sejak dibuat pada Mei 2007, sampai hari ini udah dikunjungi 1.631.295 kali, dengan 3.402.928 halaman yang terbaca. Konsep blog ini juga diboyong ke siaran radio, gue siaran INDOLAWAS bareng MELLY MANUHUTU di 103.4 D FM Jakarta tiap Jumat jam 8 malam. Acara ini lumayan sukses bikin bintang tamu surprised karena bisa lihat album-album lama mereka yang mereka sendiri gak punya. Beberapa yang sempat hadir jadi bintang tamu antara lain IRIANTI ERNINGPRAJA, IKANG FAWZI, ITA PURNAMASARI, BAGOES AA, NETTA KD, REZKY ICHWAN, ERENS F. MANGALO, ADJIE SOETAMA, KEMALA AYU, EMILE S. PRAJA, ENDAH SOEBROTO dan YANA JULIO.

Mudah-mudahan tahun 2015 segalanya menjadi lebih baik.. dan saat sampai gue ngetik ini, hujan masih mengguyur Jakarta..

Kata orang kalo tahun baru hujan bakalan berkah kan.. aamiin..

HAPPY NEW YEAR

Pendekar Tongkat Emas : Pendekar Kelas A

141716825382525_300x430Judul Film : Pendekar Tongkat Emas (The Golden Cane Warrior)Β Cast : Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahardian, Tara Basro, Christine Hakim, Aria Kusumah Sutradara : Ifa Isfansyah Skenario : Jujur Prananto, Seno Gumira Ajidarma, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah Produser : Mira Lesmana Produksi : Miles Films & KG Studio

Tema persilatan adalah tema yang jarang ditemui di perfilman Indonesia masa kini. Dulu, pada masa jayanya komik-komik silat Indonesia, tokoh-tokoh persilatan dari komikpun bermunculan di layar lebar dan terhitung sukses seperti SI BUTA DARI GUA HANTU, WIRO SABLENG, JAKA SEMBUNG atau PANJI TENGKORAK. Seiring pudarnya minat baca komik, bersamaan pula dengan mati surinya perfilman Indonesia saat itu, maka tema persilatan pun menjadi sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh sineas kita saat industri perfilman bangkit kembali. Tema-tema persilatan hanya muncul di sinetron laga, dengan eksekusi yang lebay dan membuat orang malas menontonnya.

Kata SILAT kembali menyentuh industri perfilman saat GARETH EVANS menggarap MERANTAU kemudian THE RAID dan THE RAID 2. Sukses dua film The Raid membuat silat kembali dibicarakan, bahkan di tingkat internasional. Tapi tetap saja film-film itu mengambil setting kekinian. Maka ketika kemudian MIRA LESMANA mengatakan akan membuat sebuah film bertema persilatan ‘beneran’, reaksi pertama gue adalah kaget.

Kaget ? iya lah.. Kenapa ? karena di kepala gue, film-film dengan tema persilatan biasanya diproduksi sebagai film ‘Kelas B’ yang menyasar kalangan menengah ke bawah. Tidak heran film-film semacam ini tidak hanya menyajikan adegan laga tetapi juga adegan seronok sebagai bumbu yang seringkali malah porsinya lebih banyak. Lalu MIRA LESMANA dengan MILES FILMS nya selama ini sudah terbukti menghasilkan film-film ‘Kelas A’, sebut saja PETUALANGAN SHERINA, ADA APA DENGAN CINTA, GIE, atau bahkan LASKAR PELANGI yang sampai saat ini masih memegang rekor sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan jumlah penonton 4,6 sekian juta. Kebayang kan mereka yang biasa menggarap film Kelas A, kira-kira mau seperti apa dalam menggarap tema film yang biasanya digarap sebagai film Kelas B ?

Masa-masa ‘penantian’ itu diisi dengan dirilisnya deretan cast yang tidak sembarangan, Sutradara yang kebetulan gue suka filmnya (SANG PENARI), serta bocoran foto-foto di sosmed yang menampilkan indahnya alam Sumba tempat syuting film berlangsung. Penasaran. Beneran.

Lalu setelah nonton filmnya..

Dari scene awal gue udah pengen tereak ngeliat indahnya alam Sumba. Reaksi yang sama yang gue rasakan saat gue pertama liat film LASKAR PELANGI yang menampilkan keindahan Belitong. Membuat gue jadi pengen kesana. Gue harus ke Sumba. Haruuuusss…

Cerita filmnya sendiri sederhana. Ada perguruan bernama TONGKAT EMAS. Sang pendekar CEMPAKA sudah tua dan sakit-sakitan, berniat akan mewariskan Tongkat Emas dan jurus pamungkas Melingkar Bumi kepada salahsatu dari keempat muridnya : BIRU, GERHANA, DARA, ANGIN. Kemudian ada pengkhianatan, ada balas dendam, ada pelanggaran sumpah, ada yang harus menjalani hukuman. Ada baik ada jahat. Begitulah. Plot semacam ini mungkin sudah menjadi standarnya cerita persilatan. Tapi film ini tentu berbeda.

Menu utama film ini adalah adegan laga, tentu saja. Kalau membandingkan adegan laga film ini dengan film-film The Raid, tentu secara jujur gue akan bilang kalau belum ada yang bisa ngalahin kerennya adegan laga di The Raid. Tapi kalau melihat deretan cast di film Pendekar Tongkat Emas yang nyaris semuanya tidak punya basic beladiri, apa yang dihasilkan mereka tentu patut diapresiasi. Kalau saja gue belum pernah nonton The Raid, adegan laga di film ini tentu akan gue anggap sangat keren.

Penata artistik film ini juga yahud. Gue suka banget set kampungnya ELANG, rumah-rumah di pinggir kali jernih dengan jembatan bambu sepertinya sangat nyaman untuk dihuni. Bangunan-bangunan semacam padepokan juga terlihat real, tidak seperti yang ditampilkan di sinetron-sinetron laga yang terlihat artifisial.

Gambar-gambarnya juga keren. Alam Sumba beneran keren banget ditampilkan di film ini. Musik juga ditata keren. Lagu Soundtracknya FLY MY EAGLE yang dinyanyikan ANGGUN juga pas dan ‘terasa maknanya’ setelah nonton film ini. Sayangnya lagu soundtracknya hanya muncul di bagian akhir pas credit tittle, padahal mungkin bisa menjadi ‘sesuatu’ kalau dimunculkan juga di adegan-adegan akhir.

Sekarang dari segi akting 141386231287848_450x656CHRISTINE HAKIM memerankan CEMPAKA. Tidak usah ditanya lagi totalitas Christine dalam memainkan perannya. Sosok pendekar wanita yang tegas meskipun sedang dalam kondisi sakit berhasil dimainkan dengan pas. Sebuah twist yang cerdas dari Miles Films memasukkan karakter pendekar di film ini menjadi seorang wanita hanya karena ingin ‘memasukkan’ Christine dalam film ini, karena konon dalam cerita aslinya tokoh pendekar ini adalah pria. Scene paling oke dari Christine dalam film ini adalah saat adegan terakhirnya, saat airmatanya meleleh di pipi. intip-serunya-syuting-pendekar-tongkat--4b9a43EVA CELIA memerankan DARA. Sosok pendekar ABG yang masih belum sempurna ilmu silatnya tapi terpaksa harus mengemban tugas yang sangat berat. Sosok ‘kekanakan’ berhasil dibawakan Eva dengan pas, ekspresi bingungnya, ekspresi sedihnya terlihat meyakinkan. Progress yang bagus kalau membadingkannya dengan saat dia menjadi pemain sinetron. Dan adegan laga yang dilakukan Eva juga keren. pendekar tongkat emas inline 3NICHOLAS SAPUTRA memerankan ELANG. Tokoh Elang digambarkan cuek tapi ternyata penuh perhatian. Mirip-mirip dengan sosok RANGGA dalam AADC. Dan entah mengapa gue malah seperti melihat sosok Rangga dalam kostum pendekar. Padahal biasanya Nico selalu terlihat berbeda dalam tiap filmnya. pendekar tongkat emas inline 2REZA RAHADIAN memerankan BIRU. Menjadi tokoh antagonis bukan pertama kali dilakoni Reza, dan selalu sukses. Di film inipun Reza berhasil menampilkan sosok BIRU yang licik dan ambisius, tetapi tetap terlihat cool dan tenang. Konon katanya Reza mendapat bayaran sangat tinggi untuk bermain di film ini. pendekar tongkat emas inline 2-2TARA BASRO memerankan GERHANA. Penampilan yang mengejutkan dari Tara. Sosok antagonis berhasil ditampilkan dengan pas. Ekspresi wajahnya ‘ngeselin’ dan berhasil menerbitkan kebencian gue saat menonton film ini. Gue bahkan berasa pengen bantuin Dara di pertarungan terakhir mereka πŸ™‚ Good job Tara. pendekar_tongkat_emas-20140429-002-ritaARIA KUSUMAH memerankan ANGIN. Sosok satu ini seperti kuda hitam. Mungkin tidak diunggulkan di film ini tapi mencuri perhatian. Meskipun masih anak-anak tapi sosok ANGIN terlihat berani dan bahkan beberapa kali menjadi penyelamat bagi DARA. ARIA tampil keren di film ini meskipun nyaris tanpa dialog. Hanya sebaris kalimat yang diucapkannya, dan justru disitulah sosok Angin terlihat tampil utuh. Keren.

Overall gue terpuaskan melihat film ini. Kostum pemain juga keren-keren, menampilkan kain asli Sumba dengan warna-warna gelap tapi keren. Mungkin hanya satu yang mengganjal buat gue. Tokoh pendekar utama laki-laki digambarkan berambut panjang ala-ala sosok pendekar China. Mungkin untuk mengambarkan keadaan di masa itu yang memang belum ada ‘barber shop’. Tapi para pria figuran dan pemeran pembantu rambutnya pendek-pendek ala ala masa kini, sehingga buat gue mengurangi nilai artistik. Kalau saja para pria semua digambarkan berambut panjang. Memang sih bakal naikin budget untuk wig secara film ini membutuhkan banyak figuran.

Tapi sudahlah… ini salahsatu film keren tahun ini.. dan terbukti kalau film dengan tema persilatan juga bisa menjadi film Kelas A

Supernova KPBJ : Diva sang Gardener

supernova-posterJudul Film : Supernova, Ksatria Putri dan Bintang Jatuh
Cast : Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Fedi Nuril, Arifin Putra, Hamish Daud
Sutradara : Rizal Mantovani
Skenario : Dhoni Dirgantoro
Produser : Sunil Soraya
Produksi : Soraya Intercine Films

Novel SUPERNOVA : KSATRIA, PUTRI DAN BINTANG JATUH adalah karya monumental yang ‘mengguncangkan’ jagat penulisan Indonesia di awal 2000an. Novel dengan format tidak biasa ini -menggabungkan sains dengan roman- mendadak menjadi pembicaraan dimana-mana, terlebih penulisnya DEE yang ternyata adalah DEWI LESTARI pentolan kelompok vokal RIDA SITA DEWI. Meskipun Dewi sudah beberapa kali menulis, tapi lewat Supernova KPBJ inilah namanya meroket menjadi penulis laris.

Novel-novel Dewi kemudian juga laris difilmkan, sebut saja PERAHU KERTAS yang bahkan menjadi dua seri, kemudian RECTOVERSO dan MADRE, serta yang sedang dalam proses adalah FILOSOFI KOPI. Bagi gue sendiri sebagai penikmat dan ‘penggila’ karya-karya Dewi, judul-judul itu terlihat ‘gampang’ diadaptasi ke layar lebar karena novelnya sendiri sudah sangat filmis. Tapi serial SUPERNOVA, apalagi KPBJ, rasanya sangat sulit dialihkan dalam bahasa gambar. Ceritanya sangat kompleks dan merupakan bagian kecil dari cerita panjang yang saling kait mengait, terlebih setelah membaca lanjutan KPBJ dari AKAR sampai GELOMBANG (dan masih akan berlanjut bukunya). Gue sempet berpikir, rangkaian cerita ini baru bisa ‘diapa-apain’ setelah semua bukunya selesai dibuat, karena bisa saja hal-hal ‘sepele’ di buku pertama atau kedua bisa menjadi penting di buku terakhir. Sementara karena bahasa buku dan film dibedakan oleh durasi dan sebagainya, bisa saja cerita dipangkas atau dibelokkan disesuaikan dengan bahasa gambar. Akan sangat fatal kalau yang dibelokkan adalah fondasi dari kisah kelanjutan yang baru diungkap di buku yang belum ditulis.

Maka ketika denger kabar KPBJ bakal difilmkan, gue malah jadi ‘khawatir’. Terlebih ketika kemudian diketahui bahwa karena lagi sibuk menyelesaikan buku SUPERNOVA : GELOMBANG, Dewi Lestari tidak terlibat dalam penggarapan film ini. Dewi sendiri sempat bilang bahwa dia lebih memilih akan memposisikan diri sebagai penonton ketika menonton filmnya. Dengan kata lain, Dewi menyerahkan kepada DHONI DIRGANTORO sebagai penulis skenario dan RIZAL MANTOVANI sebagai sutradara untuk mengintepretasikan sendiri KPBJ. Duo ini sempat sukses menggarap novel 5 CM kedalam bahasa gambar, tapi boleh jadi karena ceritanya sudah filmis, dan Dhoni sendirilah yang menulis novel laris itu.

Ketika deretan cast mulai dirilis, gue mulai menaruh harapan pada film ini, walaupun terasa ada yang tertukar-tukar menurut gue. FERRE yang gagah dan macho mestinya dimainkan oleh ARIFIN PUTRA, sementara HERJUNOT ALI menurut gue secara tampilan lebih pas menjadi DHIMAS. HAMISH DAUD harusnya jadi REUBEN karena profilnya lebih manly. PAULA VERHOEVEN terlihat pas dengan sosok DIVA tapi karena belum pernah main film sebelumnya, gue jadi cukup ‘berdebar-debar’. Sementara RALINE SHAH sejauh ini terlihat tipikal : manis, loveable, jadi mungkin saja akan pas bermain sebagai RANA walaupun agak curious apakah dia bisa tampil sebagai sosok wartawati. Lalu FEDI NURIL sepertinya memang sangat pas sebagai ARWIN.

DAN SETELAH MENONTON FILMNYA…

Opening depan terlihat menjanjikan… narasi tentang Order dan Chaos terasa lebih gampang dicerna dibanding saat pertama membaca bukunya yang membuat kening berkerut. Tapi pengadeganan menjadi terasa lambat dan menjemukan saat DHIMAS dan REUBEN mulai membangun rencana menulis cerita, walaupun Arifin dan Hamish terlihat bermain total. Paruh kedua film, mulai terlihat beberapa akting yang ‘kedodoran’ dalam adegan penting, sampai akhirnya gue hanya berusaha menikmati gambar-gambar yang memang indah, dan berusaha mengabaikan beberapa hal yang membuat gue ‘gatel’ tiba-tiba. Dialog-dialog banyak yang mengambil plek sama seperti di bukunya, indah tapi diucapkan tanpa jiwa. Penggambaran cerita KSATRIA, PUTRI DAN BINTANG JATUH yang merupakan poin penting di film ini sudah sangat pas disampaikan dalam bentuk narasi dan animasi, tapi tidak berhasil ‘menyentuh’ seperti saat membaca bukunya, kurang dramatis. Terlebih endingnya yang berbeda dari bukunya. Entahlah apakah kalau film berikutnya dibuat, kelanjutannya akan mengikuti ending di film atau ending di bukunya, karena ending di bukunya menentukan ‘nasib’ kelanjutan ceritanya. Lalu kemana tokoh GIO ? ini tokoh penting yang selalu ada di buku Supernova, tapi di film ini tiba-tiba saja ‘lenyap’.

Gue akhirnya berusaha menilai akting para pemainnya aja.

B1FYUA7CIAAM6Ch.jpg-largeFERRE dimainkan oleh HERJUNOT ALI. Digambarkan sebagai tokoh muda yang sukses. Sempurna dalam segala hal meskipun tidak beruntung dalam urusan cinta. Sejak muncul pertama di layar, entah mengapa gue tidak melihat sosok Ferre seperti yang ada dalam imajinasi. Junot kurang ‘gagah’ memerankan Ferre. Di beberapa adegan gue malah seperti melihat tokoh ZAINUDDIN yang diperankan Junot dalam TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK, atau tokoh HAMID dalam DIBAWAH LINDUNGAN KA’BAH. Scene yang cukup berhasil dimainkan Junot di film ini adalah ketika akan bunuh diri. Emosinya oke.

Supernova-Membuat-Raline-Shah-Lelah-MenangisRANA dimainkan oleh RALINE SHAH. Sebagai istri yang ‘tidak berdaya’ demi untuk menyenangkan orang-orang di sekelilingnya dan kemudian menjalani cinta terlarang membutuhkan akting yang kuat. Raline tetap tampil tipikal seperti film-film sebelumnya. Airmata meleleh disana-sini tapi terasa tidak tulus. Sosok wartawati tidak berhasil ditampilkan dengan utuh, kontras dengan penampilannya yang cantik dan pakaian-pakaian bagus, seperti tidak mewakili sosok wartawati mainstream di Indonesia. Entah mengapa gue mikir, mestinya yang jadi RANA itu aktris seperti PRISIA NASUTION. Cantik tapi tidak ‘terlalu cantik’.

Supernova-Film-Indonesia-Herjunot-Raline_9DIVA dimainkan oleh PAULA VERHOEVEN. Ini tokoh sentral. Sosok yang cantik, pintar, sekaligus angkuh dan ‘tajam’ mulutnya. Omongannya sarkas. Secara tampilan Paula cocok dengan Diva. Tapi Paula tidak berhasil menghidupkan Diva. Kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya terdengar ampang karena intonasi yang tidak tepat dan bahasa tubuh yang canggung. Saat membaca bukunya, terbayang tokoh Diva ini seperti magnet yang akan membius siapa saja yang ada di dekatnya. Diva digilai karena keangkuhannya. Dan Paula gagal melakukan itu. Sayang.

7052620_20140815061106ARWIN diperankan FEDI NURIL. Dan sejak awal gue yakin kalo ini adalah pilihan tepat. Tanpa banyak bicara Fedi mampu menghidupkan sosok suami yang sangat mencintai istrinya, meskipun tahu istrinya selingkuh. Adegan penting dan sangat berhasil dimainkan Fedi adalah saat Arwin rela melepas Rana. Dramatis dan gue lihat beberapa orang di sekeliling gue mewek pas nonton.

007282900_1417928737-Hamish_Daud__61214__4_DHIMAS dimainkan HAMISH DAUD. Awalnya gue heran kenapa Hamish yang jadi Dhimas ? Sosoknya macho dan manly sementara Dhimas di versi buku adalah sosok yang lebih lembut. Tapi begitu melihat filmnya, Hamish berhasil bermetamorfosa. Bahasa tubuhnya pas, ‘ngondek’nya pas. Salahsatu bibit baru yang mudah-mudahan bisa menjadi sesuatu di industri film kita.

00060574REUBEN dimainkan ARIFIN PUTRA. Sejak tampil di THE RAID 2, sosok Arifin memang menjadi ‘berbeda’. Image sinetron dan FTV yang sebelumnya lekat sudah lenyap. Sosok Reuben berhasil dimainkannya dengan pas. Klop dengan sosok Dhimas. Chemistry mereka nyambung.

Film memang berbeda dengan buku. Dan kalo gue boleh milih, gue lebih milih bukunya. Film ini tidak jelek, tapi juga tidak bagus-bagus amat (menurut gue ya πŸ™‚ belum tentu kalo menurut orang lain). Kekuatan film iniΒ adalah gambar-gambar indah, lanskap Bali dihadirkan keren, Jakarta juga ternyata bagus banget kalo dilihat dari atas. Musiknya juga keren, TIESTO punya. Tapi kenapa harus NIDJI lagi yang ngisi soundtrack nya ? Apakah tidak ada lagi yang lain ?

So far, dari semua novel Dewi yang difilmkan, RECTOVERSO masih menjadi favorit gue.

Wahai DEWI LESTARI, Kalau ada film Supernova selanjutnya.. mohon please pake banget, dirimu harus terlibat ya.. jangan ‘menyerahkan begitu saja’ kepada orang lain walaupun kompeten. Supaya gak kejadian macam DIVA yang di buku pergi ke APURIMAC, tapi di film malah pindah jadi tetangga Rana dan kerjaannya nanemin kembang.

Pliiiiiiiiiiissss…