Fariz RM & Dian PP In Collaboration With.. : Melukis masa lalu dalam kanvas masa kini

unnamedJudul Album : Fariz RM & Dian PP in Collaboration With
Artis : Various
Tahun Produksi : 2014
Produser : Seno M. Hardjo
Produksi : Target Pop
Distributor : Swara Sangkar Emas

FARIZ RUSTAM MUNAF dan DIAN PRAMANA POETRA adalah dua nama besar dalam industri musik Indonesia. Dalam bermusik, mereka lahir, berkembang, dan menjadi besar dalam masa yang hampir bersamaan. Fariz lahir sebagai ‘anak ajaib’ yang mampu menghasilkan musik progresif dimasanya, yang mengundang decak kagum karena hasil karyanya bisa maju melampaui masa. Lewat album SAKURA yang fenomenal itu, namanya melambung dan konsisten menghasilkan album laris sampai awal 90an. Sementara itu, Dian lahir dari ajang LOMBA CIPTA LAGU REMAJA PRAMBORS yang kemudian mantap sebagai penyanyi dan komposer handal. Sederet karyanya menjadi hits besar lewat tarikan suaranya ataupun penyanyi-penyanyi lain sepanjang era 80an sampai awal 90an.

Nama sebesar mereka tentu punya rekam jejak yang tidak sedikit. Mereka sudah ‘melukis’ banyak warna dalam industri musik Indonesia, yang keindahannya masih bisa dinikmati sampai detik ini. Tapi sayangnya industri musik itu sendiri sepertinya tidak banyak memberi tempat kepada mereka-mereka yang sudah ikut menorehkan sejarah kejayaan industri. Tidak seperti industri musik dunia (Amerika) yang masih memberi panggung seluas-luasnya bagi musisi besar dekade lalu untuk terus berkarya, industri musik Indonesia seperti hanya memberikan tempat untuk mereka-mereka yang masih segar dan belia. Hanya segelintir saja nama yang sanggup bertahan melampaui beberapa dekade, itupun mengalami pasang surut mengikuti arus industri.

Maka strategipun harus dipikirkan untuk memberi ‘panggung’ kepada para pelukis sejarah musik kita. Satu yang coba ditawarkan SENO M. HARDJO dari TARGET POP adalah membawa FARIZ RM & DIAN PP lebur ke dalam kumpulan mereka-mereka yang masih segar dan ranum dalam industri musik hari ini. Lewat album berjudul FARIZ RM & DIAN PP IN COLLABORATION WITH, karya-karya Fariz & Dian ‘dilukis ulang’ oleh sederet nama populer saat ini seperti SAMMY SIMORANGKIR, FATIN SHIDQIA LUBIS, GLENN FREDLY, CITRA SCHOLASTIKA, MALIQ & D’ESSENTIALS, SANDY SONDORO, INDAH DEWI PERTIWI, dan masih banyak lagi.

Meleburkan mereka dalam karya bersama memang bukan pekerjaan mudah. Trend musik sudah berganti, apa yang dihasilkan Fariz & Dian 30 tahun lalu mungkin akan terdengar ‘usang’ untuk telinga mereka yang lahir di era ini. Merekonstruksi ulang aransemen dan intepretasi penyanyinya sesuai trend mungkin akan ‘memanjakan’ pendengar saat ini, tapi bisa-bisa justru membuat penikmat versi original menjadi tidak ‘berselera’. Disinilah tantangannya.

Lalu bagaimana dengan album ini ? Apa yang dilakukan Fariz & Dian bersama pelaku industri musik masa kini ? berikut review berdasarkan track list:

1. KAU SEPUTIH MELATI (Jockie Suryoprayogo) – Sammy Simorangkir feat. Dian Pramana Poetra
Track dibuka dengan megah oleh lagu yang menjadi hits besar Dian di tahun 1986. Aransemen garapan ANDI RIANTO sangat berbeda dengan versi original yang digarap JOCKIE SURYOPRAYOGO, tapi justru terdengar ‘seperti’ hasil aransemen Jockie, mengingatkan pada megahnya aransemen Jockie era BADAI PASTI BERLALU. SAMMY SIMORANGKIR juga berhasil tampil bagus, lepas dari image lagu ini yang selama ini sangat lekat dengan Dian. Intepretasi ulang yang keren dan kuat. Dian juga ikut bernyanyi di lagu ini, tapi justru ‘tenggelam’ oleh warna Sammy. Kalau tidak teliti mendengarnya, suara Dian yang muncul di beberapa part saja itu seperti tidak terdeteksi karena menjadi ‘mirip’ dengan suara Sammy. Mungkin memang ini disengaja untuk memberi ruang sebanyak-banyaknya bagi Sammy, tapi ‘kalau saja’ Dian tampil dengan gaya khasnya berpadu dengan gaya khas Sammy bisa jadi akan lebih ‘jedarr’. Seperti yang pernah dilakukan almarhum DIANA NASUTION saat membawakan kembali lagunya JANGAN BIARKAN bersama TITI DJ. Kemunculan Diana di bagian akhir lagu menjadi klimaks yang keren walaupun hanya tampil secuil.

2. DEMI CINTAKU (Dian Pramana Poetra) – Fatin Shidqia Lubis
Lagu ini cukup penting bagi karir Dian di era ini. Setelah cukup lama vakum nyaris di sepanjang era 90an, Dian kembali muncul lewat album TERBAIK di tahun 1999 yang menyajikan lagu ini sebagai lagu baru diantara lagu-lagu hits terbaiknya. Nama Dian pun kembali terangkat karena lagu ini, dan sepertinya FATIN SHIDQIA LUBIS tidak perlu ‘bersusahpayah’ mengutak-atik karena Dian yang mengaransemen lagu ini tidak banyak merubah dari versi original. Sebenarnya lagu ini cocok dengan vokal Fatin, tapi entah mengapa Fatin membawakannya seperti terbata-bata, terpatah-patah.

3. SAKURA (Fariz RM & Jimmy Paais) – Sandy Sondoro feat. Fariz RM
Selain NADA KASIH, lagu SAKURA adalah lagu Fariz yang paling sering dirilis ulang oleh penyanyi lain. Melihat lagu SAKURA ada di track album ini sebenarnya membuat kening saya berkerut, ‘kenapa lagu ini lagi?’ Bukankah CHRISYE dan ROSSA sudah cukup membawa lagu ini melejit kembali ? Kenapa tidak lagu SAKURA dalam versi slow yang sempat dibawakan FARIZ bersama BESBARINI dengan judul PELUK ASMARA itu ? Membayangkan PELUK ASMARA dibawakan VIDI ALDIANO (anak BESBARINI) bersama GITA GUTAWA (anak salah seorang personel TRANSS yang menggarap musiknya) sudah membuat saya gemas. Tapi ketika hentakan musik SAKURA garapan YUDHIS DWIKORANA itu terdengar, dan suara berkarakter SANDY SONDORO muncul, saya bisa ‘menerima’ kenapa Sakura harus dimasukkan ke album ini. Versi Sandy terdengar modern dan soulful. Fariz muncul sebagai pemanis. Fresh. Cukup sukses.

4. SEMUA JADI SATU (Dian PP & Deddy Dhukun) – Indah Dewi Pertiwi feat. Richard Schrijver
Lagu original SEMUA JADI SATU adalah lagu yang sukses mengangkat nama MALYDA, sekaligus lagu yang mengawali trend album kompilasi lagu-lagu baru dari banyak penyanyi. 3 DIVA sempat merilis ulang lagu ini tapi tidak begitu berhasil di pasaran. YUDHISTIRA ARIANTO menggarap aransemen lagu ini untuk INDAH DEWI PERTIWI dan RICHARD SCHRIJVER dalam hentakan house music yang kental. Musiknya asik untuk dugem. Dukungan choir dari GLORIFY THE LORD ENSEMBLE menjadi paduan yang unik.

5. ANTARA KITA (Sammy Paitam) – Tuffa
Lagu ini adalah salahsatu hits Fariz setelah berubah ‘haluan’ menjadi lebih ngepop di era 90an. Versi originalnya terdengar lembut dan menenangkan, dan oleh PAY SIBURIAN diaransemen ulang dalam warna pop rock, dibawakan oleh kelompok baru bernama TUFFA. Terdengar lebih bertenaga.

6. BIRU (Dian PP & Deddy Dhukun) – Angel Pieters
Lagu versi originalnya adalah salahsatu hits terpopuler dari VINA PANDUWINATA. Sedemikian lekatnya lagu dengan Vina, maka ketika TRIO LIBELS atau bahkan DIAN PP sendiri merilis ulang lagu ini, image Vina tetap melekat kuat. Sangat cerdik ketika IRWAN SIMANJUNTAK mengaransemen lagu ini jauh dari versi originalnya yang mengingatkan pada lagu SAVING AL MY LOVE FOR YOU milik WHTNEY HOUSTON itu. Di tangan Irwan, lagu manis ini berubah bentuk menjadi lagu medium beat bernuansa country, dan ANGEL PIETERS yang didaulat menyanyikannya juga berhasil membawakannya dengan gayanya sendiri tanpa terpengaruh versi Vina yang sudah sangat kuat. Good job.

7. KURNIA DAN PESONA (Fariz RM & Jimmy Paais) – Citra Scholastika
Lagu ini awalnya dinyanyikan duo HARVEY MALAIHOLLO & RAFIKA DURI, tapi kemudian sukses ketika dibwakan sendiri oleh FARIZ dan menjadi salahsatu hits terbesarnya. Lewat aransemen YUDHISTIRA ARIANTO, lagu ini bermetamorfosa menjadi lagu dance mutakhir ala TIESTO atau CALVIN HARRIS. Bagi penggemar setia Fariz, versi ini mungkin menghilangkan ‘roh’ lagu ini. Tapi bagi pendengar musik hari ini, versi yang dibawakan dengan apik oleh CITRA SCHOLASTIKA ini terdengar menyegarkan.

8. MASIH ADA (Dian PP & Deddy Dhukun) – 3 COMPOSER
Duo DIAN PP bersama DEDDY DHUKUN dalam 2D ibarat ‘soulmate’ dalam bermusik. Lagu MASIH ADA versi mereka terdengar menghanyutkan dan menjadi salahsatu lagu era 80an yang everlasting. Sempat dibawakan kembali oleh kelompok WARNA dan cukup sukses. Sempat juga dibawakan dalam gaya rap oleh kelompok R 42. 3 COMPOSER (BEMBY NOOR, MARIO KACANG, TENGKU SHAFICK) yang didaulat membawakan kembali lagu ini mencoba membawakan dengan gaya mereka. Aransemen simpel oleh NOEY JAVA JIVE memungkinkan mereka bereksplorasi dengan gaya bernyanyi yang berbeda dengan versi original. Cukup berhasil. Versi mereka terdengar beda dan tetap nikmat didengarkan.

9. DI ANTARA KATA (Fariz RM & Jimmy Paais) – Ecoutez
Lagu versi original yang dibawakan Fariz terdengar unik karena teknik bernyanyi falsettonya. Memang, lagu ini punya range yang cukup lebar sehingga falsetto adalah cara ‘aman’ untuk menyanyikannya bila ambitus sang penyanyi tidak cukup lebar untuk menaklukkan lagunya. Ketika dinyanyikan kembali oleh ECOUTEZ, mulai intro sampai verse terdengar asyik dan menghanyutkan. Tapi ketika memasuki reff, alih-alih menggunakan falsetto, ANDREA LEE sang vokalis justru menggunakan nada bawah untuk menyanyikannya sehingga bagi yang terbiasa mendengarkan versi original terasa ada sesuatu yang kurang, seperti urung mencapai klimaks. Boleh jadi untuk yang belum pernah mendengarkan versi original, sesuatu yang kurang itu mungkin tidak disadari.

10. AKU CINTA PADAMU (Dian Pramana Poetra) – Glenn Fredly & Dian Pramana Poetra
Lagu ini adalah satu-satunya lagu baru di album ini. Hasil karya Dian ini dibawakannya bersama GLENN FREDLY. Sesuai dengan sub judul yang tercetak di credit tittle : WEDDING SONG, lagu ini memang pas dijadikan sebagai lagu untuk melatari peristiwa penting itu. Duet Dian & Glenn terdengar padu dengan penghayatan prima. Masing-masing tampil dengan ciri khas dan karakter sendiri, tapi berhasil melebur menjadi harmonisasi yang utuh. Lagu yang kuat. Keren.

11. BARCELONA (Fariz RM) – Maliq & D’Essentials feat. Fariz RM
Salahsatu lagu Fariz yang ‘susah’ sehingga jarang bisa berhasil dibawakan oleh penyanyi lain. Versi aslinya menghadirkan nuansa Eropa yang kental, lengkap dengan flamenco-nya. MALIQ & D’ESSENTIALS terhitung ‘berani’ membawakan lagu ini. Tapi mereka cukup cerdik dengan mempertahankan beberapa elemen dari versi original seperti betotan bass dan progresi keyboard yang menjadi penanda lagu, juga aransemen keyboard pada interlude yang dibiarkan sama, tapi dibalut dengan beat ala mereka yang asyik didengar. Nuansa flamenco memang tidak lagi terdengar, tapi kolaborasi vocal ANGGA bersama FARIZ terdengar saling mengisi. Cukup berhasil.

12. PASEBAN CAFE (Tatoet Yudiantoro, Bagoes AA, Dian PP) – Isyana Sarasvati
Lagu jazzy ini versi originalnya dibawakan Dian dengan sangat baik. RAMONDO GASCARO menggarap ulang aransemennya tidak beranjak jauh dari versi aslinya, tapi terdengar lebih kaya dengan sentuhan string section sebagai pemanis. Dan ISYANA SARASVATI tampil meyakinkan. Suaranya mantap menaklukkan lekukan melodi miring khas Dian. Keputusan bagus memasukkan versi Isyana di album ini karena sebenarnya lagu ini digarap bukan untuk proyek album ini. Bonus Track yang bergizi.

13. JAWAB NURANI (Hafiel Perdanakusuma & Dandung Sadewa) – SORE
Satu lagi bonus track yang menjanjikan di album ini. SORE adalah kelompok indie yang sukses menghasilkan lagu-lagu keren. Lagu JAWAB NURANI adalah hits dari kelompok TRANSS yang dibentuk FARIZ bersama ERWIN GUTAWA, DANDUNG SADEWA, UCE HUDIORO, WIBY AK, JUNDI KARYADI dan HAFIEL PERDANAKUSUMA. Versi originalnya sangat kuat dengan warna fusion jazz dan terhitung lekat dengan cara bernyanyi Fariz. Tapi SORE berhasil merubah lagu ini menjadi seperti lagu mereka sendiri. Asyik.

Seperti yang sudah disebutkan di awal, membuat album semacam ini memang tidak gampang. Dan tentu saja tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak : mereka fans sejati Fariz & Dian atau fans masing-masing penyanyi yang terlibat. Album ini sendiri menurut saya terbilang cukup berhasil. Memang tidak semua lagu sesuai dengan ekspektasi, tapi sebagai pendengar yang terbiasa mendengarkan versi original, saya tetap bisa menikmati versi mutakhirnya. Ibarat lukisan, album ini cukup berhasil melukis masa lalu dalam kanvas masa kini.

Mudah-mudahan makin banyak penyanyi-penyanyi lain yang ‘dikembalikan’ ke panggung industri dalam format seperti ini, sehingga hasil karya mereka tetap bisa dinikmati pendengar musik masa kini. Sukses buat TARGET POP dan semua yang terlibat. Ditunggu project selanjutnya.

Advertisements

Secuil Kenangan Yang Tersisa

Dari kecil gue suka musik. Suka denger radio. Suka liat acara musik di TVRI saat itu kayak SELEKTA POP, ANEKA RIA SAFARI, ALBUM MINGGU, CHANDRA KIRANA, TELERAMA dan sebagainya. Sudah tentu gue menjadi pemerhati album-album rekaman penyanyi Indonesia. Nyaris seminggu sekali gue selalu menyempatkan diri mampir ke Toko Kaset NUSANTARA di Purwokerto. Buat beli kaset ? Tentu tidaaak… mana punya duit gue waktu itu. Yang gue lakukan hanya menjadi pengamat, ngeliat album-album new release yang terpajang di bagian depan toko. Hanya mengamati, ngeliat cover albumnya, dan itu sudah menjadi kebahagiaan kecil buat gue waktu itu.

Di Purwokerto sendiri waktu itu cukup banyak toko kaset. Dari yang kecil-kecil nyempil sampai yang cukup besar dan lengkap. Gue selalu datang ke Nusantara karena letaknya strategis, sebelahnya ada bioskop NUSANTARA THEATRE, seberangnya ada KANTOR POS, dan dua tempat itu juga termasuk sering gue kunjungin karena gue seneng nonton film dan seneng korespondensi. Kelebihannya lagi adalah, gue gak perlu masuk ke dalam toko kalo hanya untuk melihat deretan album new release, karena sudah dipajang di depan pintu masuk. Sementara di toko lain deretan new release dipajang di dalam toko, itu artinya gue harus masuk ke dalam padahal kan gue gak akan beli hehehe…

Gue menjadi pengunjung tetap Nusantara dari jaman gue SD kelas 3 kelas 4 kira-kira, dan gue mulai beli kaset pertama setelah gue SMP dan punya uang saku lebih yang bisa ditabung buat beli kaset. Mungkin gue udah pernah cerita, kaset pertama yang gue beli adalah kasetnya MEGA SELVIA album pertama SENANDUNG RINDU. Ya.. waktu itu memang lagi tergila-gila sama JK RECORDS hahaha… Tentu gue beli kasetnya di Nusantara, selalu di Nusantara walaupun di deket rumah gue kemudian ada toko kaset DELTA MUSIK yang lebih gede dari Nusantara. Boleh dibilang, Nusantara sudah menjadi bagian ‘perjalanan’ hidup gue hehehe.. setidaknya gue banyak belajar dari album-album new release yang dipajang disana, dan itu sangat ngebantu gue ketika berpuluh tahun kemudian gue bikin blog INDOLAWAS.

Setelah gue cabut dari Purwokerto dan hanya pulang setahun sekali ketika lebaran, gue gak pernah lagi mampir ke Nusantara. Kadang pas lewat cuma liat sekilas dari jalanan sambil senyum ingat masa lalu. Waktu berjalan. Industri musik berubah. Dan toko-toko kaset di banyak kota satu-satu bertumbangan, termasuk AQUARIUS yang tergolong besar dan legend. Di Purwokertopun begitu. Meskipun gue gak amati secara khusus, tapi pas gue mudik dan jalan-jalan, satu persatu gue lihat toko-toko itu sudah tutup dan berubah fungsi. Tapi NUSANTARA masih ada sampai hari ini!

Iya, kemaren gue pas balik Purwokerto diluar rencana, gue lewat Nusantara. Takjub toko itu masih ada, akhirnya gue melangkah mendekatinya. Sejenak gue berdiri di depan pintu masuk. Deretan album new release masih terpajang disana, tapi berasa agak ‘getir’ karena isinya adalah album-album rilisan beberapa tahun lalu. Ya, mana ada label yang memproduksi kaset saat ini, ada juga paling album-album the best kompilasi. Jangankan kaset, CD juga sudah menjadi barang cukup langka.

Tampak depan Nusantara. Deretan kaset di etalase depan itu dulunya memajang kaset-kaset new release

Tampak depan Nusantara. Deretan kaset di etalase depan itu dulunya memajang kaset-kaset new release

Gue buka pintu dan melangkah masuk. Terakhir gue masuk kesini yang entah kapan itu gue udah lupa, masih teringat jelas ramainya toko kaset ini. Banyak pengunjung, ada yang sedang melihat-lihat, ada yang sedang mencoba kaset di deretan meja berisi tape deck dan headphone besar. Tapi kemaren itu begitu gue ngebuka pintu, suasananya sudah sangat berbeda. Gak ada siapa-siapa di toko itu, hanya ada satu orang lagi beresin deretan kaset, gue segera mengenali orang itu sebagai pemilik toko, penampilannya tidak banyak berubah. Hanya ada dia seorang, itu artinya toko ini sudah tidak lagi membutuhkan karyawan 😦 mungkin karena memang sudah sangat sepi pengunjung.

Kedatangan gue gak mengusik kesibukannya. Dia tetap membereskan kaset-kaset yang gak rapi. Gue pun akhirnya mengamati deretan kaset, sebenarnya berharap ada kaset-kaset jadul yang mungkin masih tersisa. Dan gue menemukan kaset ANTARA YANG MANIS dari ANITA SARAWAK rilisan tahun 1992 yang masih rapi tersegel, dan kaset RINA SIDABUTAR berjudul BURUNG PUTIH rilisan tahun 1988. Harganya memang sudah ‘dikonversi’ dengan harga kaset saat ini. Kaset Anita menjadi 20.000 perak dari harga sekitar 5.000 rupiah saat dirilis, dan kaset Rina tertulis di bandrol 2.500 perak ditimpa harga saat ini menjadi 17.000 rupiah. Gak masalah sih, karena di lapak-lapak kaset bekas juga harganya sekitar itu. Dan ini masih baru. Masih bersegel. Gue ambil kaset Anita karena memang belum punya, sementara gue tinggalkan Rina karena sudah ada hehehe… Sayangnya hanya dua kaset itu aja yang terbilang lama. Lainnya meskipun cukup banyak tapi rasanya masih bisa didapati juga di DUTA SUARA atau DISC TARRA atau HARIKA di Jakarta ini.

Deretan kaset-kaset. Kebanyakan berisi album-album kompilasi the best

Deretan kaset-kaset. Kebanyakan berisi album-album kompilasi the best

Sebenernya gue pengen ajak ngobrol pemilik toko Nusantara ini. Tapi sepertinya dia sedang sangat sibuk, jadi akhirnya gue langsung menyerahkan kaset Anita untuk dibungkus. Sembari melakukan proses pembayaran, sekali lagi gue sapukan pandangan ke sekeliling ruangan yang makin terlihat senyap. Di deretan yang waktu dulu menyajikan album-album kaset barat, saat ini terlihat sebagian besar sudah melompong kosong. Sementara di beberapa deretan terisi CD, VCD dan DVD film-film Indonesia. Kelar membayar gue mengucapkan terima kasih sambil beranjak. Ketika mencapai pintu, pemilik toko tiba-tiba bertanya, “Tinggal dimana, Mas?”. Gue jawab “Sekarang di Jakarta, dulu disini dan sering kesini..” lalu beranjak pergi sambil tersenyum.

Proses pembayaran. Dulu di bagian tengah itu ada deretan tape deck tempat nyoba kaset.

Proses pembayaran. Dulu di bagian tengah itu ada deretan tape deck tempat nyoba kaset.

Salut untuk eksistensi Nusantara. Ditengah lesunya industri rekaman fisik, terlebih kaset yang playernya saja sudah jarang dijumpai, keberadaan Nusantara menjadi semacam oase. Mudah-mudahan saja bisa tetap bertahan, sehingga secuil kenangan yang tersisa itu akan tetap ada.

Supernova 5 : Gelombang Mimpi Thomas Alfa Edison

gelombangJudul Buku : Supernova 5 – Gelombang
Penulis : Dewi ‘Dee’ Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka, 2014

Sejak muncul pertama kali di tahun 2001, serial SUPERNOVA tulisan DEWI LESTARI memang berhasil memberikan kejutan di dunia penulisan fiksi Indonesia. Episode pertama KSATRIA, PUTERI DAN BINTANG JATUH sukses membetot perhatian banyak kalangan dan berhasil mendapat banyak penghargaan, termasuk menjadi 5 besar KHATULISTIWA AWARD 2001. Selepas buku pertama, seri selanjutnya muncul dan juga berhasil sukses diterima pasar : AKAR (2002), PETIR (2004) dan PARTIKEL (2012).

Tahun 2014 ini, serial terbaru SUPERNOVA kembali dirilis dengan judul GELOMBANG. Bagi pembaca setia Supernova, kisah lanjutan ini tentu sudah sangat ditunggu. Di buku kedua AKAR sudah dijelaskan Dewi bahwa ada tokoh-tokoh yang akan menjadi bagian dari serial ini yaitu BODHI, ELEKTRA, ZARAH dan ALFA. BODHI sudah menjadi sentral di buku AKAR, ELEKTRA berperan di buku PETIR, ZARAH ambil peranan di buku PARTIKEL, dan tentu saja GELOMBANG menampilkan ALFA sebagai pemeran utama.

Tokoh-tokoh itu ditampilkan dengan utuh di masing-masing buku, dengan karakter mereka masing-masing yang sangat kuat, juga latar belakang tokoh yang juga dipaparkan jelas. Di buku kelima ini, tokoh ALFA digambarkan berasal dari SIANJUR MULA MULA, sebuah daerah di Sumatera Utara yang konon kabarnya merupakan asal mula orang Batak. Paruh awal novel ini menceritakan jelas bagaimana masyarakat Batak, bagaimana agama asli yang disebut UGAMO MALIM, serta bagaimana ‘tradisi’ orang Batak yang kerap memberi nama anaknya dengan nama-nama orang besar, termasuk ALFA yang nama lengkapnya adalah THOMAS ALFA EDISON SAGALA, berikut dua kakaknya ALBERT EINSTEIN SAGALA dan SIR ISAAC NEWTON SAGALA.

Digambarkan mereka hidup tentram, sampai sebuah upacara GONDANG merubah hidup Alfa dan keluarganya. Sejak upacara malam itu, Alfa dihantui oleh makhluk misterius yang disebut SI JAGA PORTIBI, sesosok makhluk hitam bersayap dengan sepasang mata kuning yang menyeramkan. Mendadak Alfa menjadi perbincangan di kalangan orang-orang sakti yang memperebutkannya sebagai murid. Alfa juga kerap mengalami mimpi buruk yang akhirnya membuatnya tidak pernah tidur di malam hari.

Alfa terus mengalami kejadian buruk bila tertidur dan bermimpi, seperti ada seuatu yang menunggunya di alam mimpi, bahkan ketika kemudian dia pindah ke Amerika sebagai imigran gelap. Alfa sampai harus terbang ke Tibet untuk mengurai misteri yang hadir dalam mimpi-mimpinya. Disanalah rahasia besar perlahan terkuak.

Buku ini menjadi pemecah misteri tentang ASKO yang sudah disebut-sebut di buku kedua. Sedikit demi sedikit mulai terkuak tentang hubungan BODHI, ELEKTRA, ZARAH dan ALFA, serta GIO dan pencariannya pada DIVA yang hilang. Hanya saja, keping-keping yang tercecer menjadi susah ‘digali’ karena lamanya jarak terbit antar buku. Kalau ingatan kita ‘kuat’ mungkin tidak masalah. Tapi bagi yang daya ingatnya pas-pasan, setidaknya harus membaca lagi buku AKAR kalau akan membaca buku ini karena kaitannya sangat kuat. Banyak hal-hal yang di buku AKAR dibahas sekilas, kemudian dibahas lebih jelas di buku GELOMBANG.

Kekuatan Dewi Lestari dalam menulis adalah kebisaannya merangkum kata-kata yang mengajak pembacanya larut, ikut ‘berpetualang’ dalam alur cerita, dan selalu berhasil ‘memutarbalikkan’ sesuatu yang selama ini kita anggap simpel menjadi sesuatu yang ternyata serius. Di buku pertama ‘keseriusan’ itu tampak nyata dari banyaknya footnote dan membanjirnya istilah-istilah fisika kimia. Setelah membaca buku keempat PARTIKEL, pembacanya juga akan memandang JAMUR dengan cara yang tidak sama lagi. Di buku kelima ini, Dewi mengajak kita untuk memasuki dunia mimpi. Percayalah, setelah membaca buku ini mungkin kita akan mencari ‘jangkar’ sebelum tidur. Apa itu ‘jangkar’? baca dulu buku ini hehehe..

Satu hal yang buat saya agak mengganjal adalah titik awal diadakannya upacara Gondang yang merubah hidup Alfa itu. Digambarkan seorang bernama BONAR SIMARMATA akan maju ‘nyaleg’ DPR dan minta restu kepada leluhur yang dimanifestasikan dengan diadakannya upacara Gondang. Yang ‘mengganggu’ adalah, setting cerita berlangsung tahun 1990, dimana Indonesia masih dalam masa Orde Baru. Tentu kita semua faham kalau di masa itu DPR dipilih tidak melalui Pemilu Legislatif seperti saat ini, jadi belum ada orang yang maju ‘nyaleg’. Atau kalaupun memang ‘maju’ yang dimaksud tokoh Bonar adalah ‘kompetisi internal’ partai, maka setting tahun 1990 juga tidak tepat karena PEMILU di Indonesia diadakan tahun 1987 kemudian 1992.

Overal, buku ini wajib dibaca bagi yang mengikuti serial Supernova. Bagi yang belum pernah membaca buku-buku Supernova, buku ini tetap bisa dinikmati meskipun memang ada beberapa bagian yang akan membuat kening berkerut. Masih ada satu seri lagi dari serial ini yang berjudul INTELEGENSI EMBUN PAGI yang entah kapan akan ditulis dan dirilis, mudah-mudahan dalam waktu cepat agar semua misteri terpecahkan.

Sekarang, mari kita tidur, dan mencari gelombang mimpi kita sendiri 🙂

Gajah : Pemberontakan yang Tulus

bc8ccTulusJudul Album : Gajah
Artis : Tulus
Music Director : Ari Renaldi
Produser : Ari Renaldi
Produksi : Demajors

Jujur dalam bermusik adalah sebuah senjata untuk menembus hati pendengarnya. Kejujuran dalam menciptakan baris-baris lirik yang dibalut melodi dan dinyanyikan dengan jiwa akan memberikan getaran yang berbeda. TULUS adalah salahsatu komposer dan penyanyi yang berhasil ‘jujur’ dengan karya-karyanya. Meskipun terkesan ‘telat ngetop’, album pertamanya mampu melejitkan lagu-lagu semacam SEWINDU, TEMAN HIDUP atau KISAH SEBENTAR. Kekuatan lagu-lagunya adalah karena kejujuran bertutur, dengan lirik puitis tapi tidak bombastis, dan melodi yang mengalir mengikuti alur lirik, kadang tak terduga arahnya.

Album pertama TULUS dirilis 2011, tapi namanya mulai banyak dibicarakan saat single SEPATU diluncurkan pada 2013. Single inilah yang kemudian membuatnya digandrungi banyak orang, terlebih saat kemudian album keduanya berjudul GAJAH yang menyertakan juga lagu Sepatu, dirilis di pasaran. Nama TULUS mendadak menjadi perbincangan dimana-mana, dan lagu-lagunya menjadi ‘lagu wajib’ anak-anak muda, meskipun sebenarnya lagu-lagunya masuk katagori ‘berat’ secara komersial. Tapi karena ‘magnet’ yang dimiliki Tulus, kejujurannya mencipta dan bernyanyi, membuat yang ‘berat’ menjadi terdengar ‘ringan’ dan memang sebenarnya mudah dinikmati.

Tidak seperti album pertama yang kental dalam warna jazz, di album keduanya ini Tulus seperti ingin bereksperimen dengan berbagai jenis musik. Maka muncullah sentuhan rock n roll, country, atau musik ala Motown. Satu yang sedikit mencolok adalah, Tulus seperti sedang ‘memberontak’ di album ini. Tengoklah beberapa lagunya yang liriknya menyiratkan pemberontakan dan pembuktian diri. Ada tersirat ‘dendam’ yang disampaikan dengan manis, entah apakah ini memang kejadian yang sebenarnya atau hanya sekedar tema yang ingin diangkat.

Berikut review berdasarkan track list :

1. BARU
Lagu pertama di album ini langsung menyiratkan ‘pemberontakan’ yang kental. Baris liriknya menohok ‘tak perlu gelitik aku tertawa, tak lagi kulihat ada yang lucu. ini aku yang dulu namanya terus jadi sisipan tiap leluconmu. nikmatilah kejutanku, ini aku yang baru.’ Cerdiknya, lirik penuh kemarahan ini dibalut dengan melodi dan aransemen riang, dengan beat asyik yang mungkin akan terdengar ‘berat’ kalau dinyanyikan oleh penyanyi lain.

2. BUMERANG
Sebuah lagu cinta dengan lirik yang dalam. Tentang pengkhianatan dan dendam. Kembali lirik bernada kemarahan tertuang ‘tak ada maaf untuk dia, nanti aku kan membalasnya..’ tapi tetap terdengar manis, terlebih nuansa country jazz yang membalut aransemen lagu ini terdengar melenakan

3. SEPATU
Inilah lagu yang membawa Tulus dikenal banyak orang. Menggambarkan kemustahilan cinta dengan analogi sepatu kanan dan kiri yang selalu bersama tapi tidak bisa bersatu adalah eksekusi yang cerdas. Siapa sangka lagu berjudul tak lazim itu berisi baris lirik yang dalam dan menyentuh.

4. BUNGA TIDUR
Satu lagi lagu berlirik dalam yang penuh perenungan. Dengan jujur Tulus seperti sedang menggambarkan kondisi dirinya saat ini sebagai public figure yang sering dipandang lebih, sementara kenyataannya sebagai manusia tetap saja punya kelemahan dan kemarahan.

5. TANGGAL MERAH
Lagu ini boleh jadi adalah lagu ‘terberat’ di album ini. Dengan aransemen minimalis hanya diiringi piano dan kontrabas, terdengar sulit bagi telinga awam untuk menikmati. Tema lagunya sederhana, tentang hari libur, tapi tentu saja eksekusinya tidak sesederhana itu.

6. GAJAH
Sebuah ‘pemberontakan’ yang tulus dan manis dihadirkan di lagu ini. Boleh jadi kalau melihat sosoknya yang memang besar, Tulus mungkin di masa kecilnya pernah dibully dengan panggilan GAJAH. Lagu ini justru menggambarkan bahwa panggilan ‘Gajah’ sebenarnya adalah doa karena Gajah punya banyak kelebihan dibandingkan binatang lainnya. Satu baris lirik yang keren adalah ‘yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik.’ Ya, sebuah bully pun bisa menjadi motivasi bila dilihat dari sisi yang berbeda. Cerdas.

7. LAGU UNTUK MATAHARI
Satu lagi lagu yang ditujukan bagi mereka yang sering dibully dan dilemahkan. Sebuah lagu pembangkit semangat yang seperti mengingatkan bahwa kita tidak perlu merasa lemah ketika dianggap lemah. Lagu dengan tema semacam ini biasanya terjebak menjadi lagu yang ‘basi’ dan terkesan menggurui, tapi lagu ini berhasil tampil asyik dengan aransemen yang groovy.

8. SATU HARI DI BULAN JUNI
Nuansa motown yang kental terdengar di lagu ini. Memang menjadi terdengar seperti ‘lagu lama’ karena nuansanya memang kembali ke masa motown. Secara lirik, dibandingkan lagu lain di album ini boleh jadi lagu ini tergolong liriknya ‘biasa’ dan malah terkesan bombastis seperti dalam kalimat ‘kamu cantik meski tanpa bedak’ 🙂

9. JANGAN CINTAI AKU APA ADANYA
Selain SEPATU, lagu ini juga punya andil besar mengangkat nama Tulus. Dengan twist yang tidak terpikirkan tentang idiom ‘mencintai apa adanya’, Tulus berhasil memandang dari sisi yang berbeda tentang cara mencintai, yang menurut lagu ini adalah harus menuntut sesuatu, jangan hanya memuji apapun seperti tanpa cela atas nama cinta. Lagu ini juga terdengar sangat ‘macho’ terutama di baris lirik ‘aku ingin lama jadi petamu, aku ingin jadi jagoanmu’.

Seperti namanya, TULUS memang Tulus dalam menyajikan karyanya. Kejujurannya dalam bermusik telah menghasilkan sesuatu. Dan anggapan yang mengatakan bahwa idealisme terkadang berbenturan dengan kepentingan industri seperti bisa dijawab olehnya. Album ini masih sangat idealis, tapi terbukti bisa diterima oleh banyak kalangan.

Sebuah ‘pemberontakan’ yang tulus dan berakhir manis. Selamat.

Mutlak Fahrul Razi, Brunei rasa Indonesia

photo-3Judul Album : Mutlak
Artis : Fakhrul Razi
Produser : Fakrul Razi & Aszuad Zakaria
Produksi : Cloudworks
Distributor : Warner Music Malaysia

Dibandingkan Malaysia, Philipina atau Singapore, perkembangan industri musik di Brunei Darussalam memang nyaris tidak terendus oleh masyarakat Indonesia. Sementara beberapa penyanyi dari Malaysia atau Philipina sudah berhasil mendapat tempat di hati penikmat musik Indonesia, nyaris tidak pernah terdengar ada penyanyi dari Brunei yang menyembul ke permukaan.

Adalah FAKHRUL RAZI, penyanyi asal Brunei Darussalam yang mencoba ‘keluar’ dari zona nyaman di negara asalnya. Fakhrul sudah mempunyai karir bagus di Brunei, pernah mewakili Brunei dalam ajang World Championships of Performing Arts di Hollywood, Amerika Serikat. Selain itu, namanya juga dikenal sebagai host di Stasiun Televisi RTB, menjadi penyiar di Radio Kristal Brunei, serta termasuk dalam jajaran MC yang sering memandu acara-acara besar di Brunei.

Langkah ke luar Brunei dirasa perlu untuk mengembangkan karirnya agar lebih dikenal di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Philipina, dan tentu saja Indonesia. Maka dirancanglah sebuah album yang mengakomodir ‘kepentingan’ industri di negara-negara tersebut. Fakhrul pun berkolaborasi dengan musisi dari ketiga negara tersebut, tentu saja diharapkan akan mempermudah jalan bila kelak albumnya bakal dipasarkan di negara-negara tersebut.

Dari Philipina, Fakhrul menggaet BOBBY VELASCO, dari Malaysia ada ADAM AHMAD, EDDIE MARZUKI dan AZLAN ABU HASSAN. Sementara dari Indonesia ada ANDREW DARMOKO dan RIEKA ROSLAN. Bersama Rieka, Fakhrul malah sudah lebih dulu diajak berkolaborasi di album RENDEZVOUS milik Rieka, serta sempat pula diajak Rieka menjadi guest star di ajang JAVA JAZZ, meskipun memang kolaborasi mereka tidak berhasil memperkenalkan nama Fakhrul karena memang lagunya sendiri tidak menjadi unggulan di album itu.

Hasil kolaborasi dengan musisi lintas negara memang membutuhkan konsentrasi tersendiri karena bisa-bisa isi album akan menjadi ‘belang’ secara musikal karena perbedaan konsep bermusik. Lalu bagaimana dengan album berjudul MUTLAK milik Fakhrul ini ? Berikut review berdasarkan track list :

1. SENYUMAN GELAPMU (Fakhrul Razi & Syarif Baharudin)
Sebagai pembuka track, lagu ini terdengar cukup mencuri perhatian. Lagu ciptaan Fakhrul bersama Syarif Baharudin ini diaransemen oleh musisi Philipina BOBBY VELASCO. Materi lagunya sendiri terdengar seperti lagu-lagu pop Indonesia yang sedang disukai saat ini, sehingga sebenarnya bisa diandalkan seandainya album ini beredar di Indonesia.

2. CERITA CINTA (Andrew Darmoko)
Fakhrul bernyanyi dengan teknik falsetto hampir di sepanjang lagu upbeat ini. Lagunya sendiri cukup catchy, hanya saja cara bernyanyi dengan teknik falsetto di hampir sepanjang lagu itu (buat saya) justru menjadikan lagu ini menjadi kurang nikmat. Feel lagu ini justru didapat di akhir lagu saat Fakhrul menyanyikannya dengan suara biasa tanpa teknik falsetto.

3. ANDAI ADA BAHAGIA (Adam Ahmad & Nurul Nadzir)
Warna pop Melayu ala Malaysia terdengar cukup kental di lagu ini, dan sepertinya Fakhrul sudah berupaya membawakannya dengan gayanya meskipun nuansa melayu tetap terdengar kuat. Sentuhan string section menjadi pemanis aransemen lagu ini.

4. MUTLAK (Fakhrul Razi)
Sebuah lagu tentang akhir dari pencarian pendamping hidup, terdengar sakral dan pas dibawakan di acara pernikahan. Dengan penghayatan yang bagus, Fakhrul berhasil membawa lagu ini menjadi lebih bermakna.

5. SALAHKAH AKU (Fakhrul Razi)
Nuansa slow rock terdengar mewarnai lagu ini. Sentuhan orkestrasi yang grande membuat lagu ini terdengar megah dan menjadikannya layak seandainya digunakan sebagai lagu soundtrack film.

6. KU TAK PERNAH SENDIRI (Rieka Roslan)
Lagu ini pernah dirilis di album RENDEZVOUS milik RIEKA ROSLAN. Duet Fakhrul bersama Rieka terdengar saling mengisi. Dengan lagu khas ala Rieka, plus aransemen oleh TANTO ‘The Groove’ PUTRANANDITO yang groovy menjadikan lagu ini enak disimak.

7. SHSM (Andrew Darmoko)
SHSM adalah akronim dari SAKIT HATI SAMPAI MATI. Lagu ini adalah single pertama yang diandalkan, sekaligus sebagai senjata untuk menembus persaingan pasar musik. Lagunya sendiri pernah dinyanyian oleh KEITH MARTIN saat mencoba merilis lagu berbahasa Indonesia. Fakhrul berhasil lepas dari gaya bernyanyi Keith, dan bahkan penghayatan Fakhrul terdengar lebih pas. Mungkin karena kendala bahasa sehingga versi Keith terdengar kurang pas, tapi (menurut saya) Fakhrul memang ‘lebih pantas’ membawakan lagu ini dibandingkan Keith.

8. MUTLAK – REVISITED (Fakhrul Razi & Andrew Darmoko)
Ini adalah lagu Mutlak versi Bahasa Indonesia, dengan perubahan lirik menjadi ‘lebih Indonesia’ dibandingkan versi original yang liriknya sangat melayu. Lagu versi ini dirilis di Indonesia dalam album kompilasi THIS IS MUSIC.

9. SHSM – LATE NIGHT VERSION (Andrew Darmoko)
Versi lain dari lagu SAKIT HATI SAMPAI MATI, dengan aransemen minimalis hanya dengan iringan piano. Versi ini terdengar mendekati versi Keith Martin.

Overall, meskipun digarap oleh musisi dari tiga negara, album MUTLAK ini terdengar lebih berasa Indonesia. Lagu-lagunya dekat dengan selera penikmat musik pop Indoenesia saat ini, dan di beberapa bagian terasa terdengar seperti ‘lagunya Afgan’ atau ‘lagunya Rio Febrian’. Materi suara Fakhrul sendiri tidak perlu diragukan lagi. Tapi sayangnya album ini malah tidak (belum) dirilis di Indonesia. Jadi bagi yang ingin mendengarkan seperti apa lagunya, silakan buka youtube saja 🙂

photo-4

Respon “Unhappy Ending”

Selalu menyenangkan kalo ada respon dari mereka yang udah beli dan membaca buku-buku gue :). Apalagi kalo responnya positif hehehe… Tapi kalo responnya negatif juga gak masalah sih, kan bisa buat bahan pertimbangan kalo bikin buku lagi.

Berikut beberapa respon yang gue terima 🙂

un1un2un3un4un5un6un7un8un9un10un11un12un13un15Thanks buat semua responnya…

Yang belum respon ditunggu :). yang belom beli bukunya… ayoooo beliiii…