Jembatan Item Square

Jembatan Item Square ? di daerah manakah itu ?

Jangan bayangkan tempat ini adalah layaknya pusat perbelanjaan modern yang kerap menggunakan kata ‘square’. Tempat ini adalah sebuah jalan di daerah Jatinegara yang bermetamorfosa menjadi Pasar Loak, dikenal dengan nama Jembatan Item karena jalan masuk ke ‘pasar’ ini ditandai dengan sebuah jembatan berwarna hitam. Gara-gara celotehan beberapa orang di dunia maya tentang tempat ini, entah darimana asalnya tiba-tiba saja nama JEMBATAN ITEM SQUARE atau disingkat JIS jadi lebih populer.

Pasar loak ini memang menjual aneka barang-barang bekas, tapi gue rutin kesana dari tahun 2007 karena gue hunting kaset-kaset bekas disana. Ya, banyak kaset-kaset langka yang berhasil gue dapetin disana dengan harga yang sangat bersahabat. Itu dulu waktu yang hunting kaset bekas gak sebanyak sekarang. Sekarang ini banyak yang hunting tapi bukan cuma kolektor, sebagian dari mereka hunting buat dijual lagi. Jadilah kita rebutan hehehe..

Sayangnya tempat ini bukan seperti jalan Surabaya yang memang diperuntukkan untuk penjualan barang-barang bekas dan lebih tertata bahkan menjadi lokasi favorit turis. Di Jembatan Item suasananya bener-bener ‘pasar loak’ dalam arti yang sesungguhnya. Panas, sumpek, kumuh dan tidak semua orang betah berlama-lama disana. Begitupun gue dan temen-temen gue yang sering hunting disini sangat menikmati berada di tempat ini, terutama kalau lagi banyak stock kaset bekas yang kita belum punya. 

Jembatan Item Square sebelum digusur

Jembatan Item Square sebelum digusur

Sayangnya, karena memang ilegal, tempat ini boleh jadi akan hanya tinggal kenangan. Lapak-lapak yang berdiri disana saat ini udah dirobohkan. Para pedagang masih bertahan dengan menggelar dagangan mereka begitu saja di tanah. Tadi gue sempet mampir ke JIS dan mendapati tempat ini sudah sangat berubah. 

Lapak-lapak sudah lenyap. Dagangan digelar di tanah

Lapak-lapak sudah lenyap. Dagangan digelar di tanah

Itu dagangan kaset bekas yang keliatan digelar adalah lapak punya PAK WO. Dulunya Pak Wo punya lapak cukup besar dan koleksi kaset dagangan yang lumayan banyak, terdiri dari lapak berbentuk meja di bagian depan, dan di bagian dalam ada semacam ruangan dari kayu yang menyimpan banyak kaset-kaset bekas. Sekarang dagangan Pak Wo digelar seadanya saja 😦 

Terlihat lebih bersih sih sebenernya

Terlihat lebih bersih sih sebenernya

Jadi tempat parkir motor

Jadi tempat parkir motor

Sisi tengah sebelah masjid sedang digali, entah dibangun apa, sepertinya saluran air

Sisi tengah sebelah masjid sedang digali, entah dibangun apa, sepertinya saluran air

Mudah-mudahan pasar semacam ini tidak benar-benar lenyap. Mudah-mudahan disediakan tempat untuk mereka berdagang. 

Aamiin…

Di Atas Rata Rata : Juara tak kenal usia

IMG_7584.JPG

Mungkin udah telat mengulas album ini, karena album ini udah rilis sejak tahun lalu. Pas abis rilis mau review gak sempet-sempet, sampai akhirnya terlewat moment. Untungnya, album ini kembali rilis dalam versi re-packaged dengan bonus satu single baru dan bonus DVD berisi video klip semua lagunya. Mantappp.. Jadi lesgohhh… Kita mulai aja reviewnya..

Proyek album DI ATAS RATA RATA ini adalah hasil kerja Bapak-Anak ERWIN dan GITA GUTAWA. Dari hasil ngobrol-ngobrol ringan mereka tentang perkembangan musik Indonesia dan keyakinan mereka akan banyaknya anak-anak berbakat di bidang musik yang belum ‘ditemukan’ industri, akhirnya mereka sepakat membuat sebuah proyek yang akan menampilkan anak-anak berbakat di atas rata-rata usia mereka. Lewat serangkaian audisi yang memakan waktu berbulan-bulan, akhirnya terpilihlah 13 anak dari berbagai kota di Indonesia, yang mempunyai bakat musik dan nyanyi yang di atas rata-rata. Mereka kemudian digembleng untuk menghasilkan sebuah album, dengan menampilkan ciri khas mereka yang kuat dan genre musik yang pas dengan karakter vokal mereka. Anak-anak luarbiasa ini berumur antara 9 sampai 14 tahun, terdiri dari 7 penyanyi solo dan 2 grup vokal.

gita-diatas-rata-rata

Bukan Erwin kalau tidak menggarap album ini dengan total. Bersama Gita, mereka memilihkan lagu-lagu yang pas untuk dibawakan. Aransemen juga digarap serius dengan menghadirkan orkestrasi dari CZECH SYMPHONY ORCHESTRA, membuat potensi anak-anak hebat ini menjadi benar-benar terlihat nyata. Tidak berlebihan, anak-anak ini mampu menafsirkan lagu-lagu yang diberikan dengan intepretasi keren.

Berikut review berdasarkan track list:

1. DAMAI BERSAMAMU – BOY SOPRANOS
BOY SOPRANOS adalah grup vokal beranggotakan SABIAN, CHRISTO dan MOSES. Mereka mengintepretasi ulang lagu milik CHRISYE dengan gaya mereka. Lagu yang sudah sangat lekat dengan image Chrisye ini berhasil mereka bawakan dengan gaya klasik yang kental. Suara bening mereka berpadu menghadirkan harmoni yang menghanyutkan.

2. APANYA DONG – SENSEN
Genre Rock diwakili oleh rocker cilik bernama SENSEN. Mendaur ulang lagu superhit EUIS DARLIAH tidak lantas membuatnya keteteran. Sensen sangat cerdas membawakan lagu ini dengan intepretasinya yang keren, tidak meniru Euis ataupun SERIEUS BAND yang juga pernah sukses membawakan lagu ini. Perubahan lirik lagunya menjadi bergaya anak baru gede juga sebuah pilihan cerdik. Sangat segar dan kekinian.

3. DI DUNIAKU – NONI
Lagu DI DUNIAKU adalah salahsatu lagu baru yang dihadirkan di album ini. Membawakan lagu baru juga bukan hal yang mudah karena belum ada referensi, dan NONI berhasil membawakan dengan baik. Materi suaranya yang lentur meliuk membuat lagu bernuansa pop R&B ini semakin enak disimak.

4. KENANGAN TERINDAH – AOREA
Trio NAOMI, RARA dan DEA berhasil membentuk paduan vokal pop yang bertenaga sekaligus komersial. Lagu milik SAMSONS yang sudah sekian lama lekat dengan sosok BAMS berhasil mereka ubah menjadi lagu yang ‘sangat perempuan’. Trio ini sangat potensial untuk bisa menjadi sesuatu di masa depan.

5. DOO BE DOO – RAFI
GITA GUTAWA pernah melejitkan lagu ini dengan intepretasinya yang centil. Dan RAFI secara mengejutkan membawakan lagu ini dalam warna swing jazz yang kental. Materi suaranya meskipun masih terdengar khas anak-anak tapi sudah kuat napas jazznya, lengkap dengan teknik scat singing yang tidak mudah itu. Good job.

6. AYAH – ARI
Melihat lagu milik RINTO HARAHAP ini ada di track list, awalnya timbul pertanyaan apakah ARI bisa menjadikan lagu ini berbeda, karena banyak penyanyi yang sudah membawakan lagu ini (termasuk INDRA LESMANA dan ARIEL NOAH), tapi mereka masih terjebak pada melodi khas Rinto yang susah ‘diapa-apain’ sehingga masih terdengar ‘cengeng’. Cerdiknya, Erwin Gutawa membawa aransemen lagu ini menjadi bernuansa pop country yang grande dengan balutan orkestrasi. Dan Ari dengan suaranya yang bening berhasil membawakan lagu ini dengan sangat baik, tidak terjebak dengan melodi khas Rinto, bahkan bisa membawakan lagu ini dengan penghayatan total sesuai tuntutan lagu tanpa harus menjadi ‘cengeng’ seperti lagu aslinya. Inilah versi lagu AYAH terbaik sejauh ini. Salahsatu lagu terkuat juga di album ini.

7. WALANG KEKEK – WORO
Di jaman ini mungkin sulit menemukan anak-anak yang mau menggeluti seni tradisi. Dan WORO adalah satu dari sedikit itu. Lewat kebisaannya nyinden, Woro mewakili anak-anak yang menyentuh seni tradisional. Lagu hits WALJINAH ini dibawakan dengan kenes dan tetap kental cengkok jawanya meskipun lagunya berlirik bahasa Indonesia. Mungkin memang agak terdengar aneh bagi telinga orang Jawa, tapi overall Woro berhasil tampil bagus.

8. MELATI SUCI – KANYA
Versi asli lagu ini yang dibawakan TIKA BISONO atau versi berikutnya oleh VINA PANDUWINATA sangat kuat cirinya. Lagu yang syahdu sekaligus megah. Dan KANYA tidak ingin mengekor versi terdahulu yang sudah sangat indah. Dia dengan berani membawakan lagu ini dalam warna jazz. Untuk yang sudah terbiasa mendengarkan versi lama mungkin awalnya agak janggal, tapi berulangkali dengar versi jazz Kanya juga layak disimak.

9. KUPU KUPU – DIAN
Lagu milik MELLY GOESLAW ini aslinya memang bermelodi klasik, sehingga sangat pas dibawakan dengan gaya angelic voice seperti materi suara DIAN. Hebatnya, Dian berhasil membawakan dengan intepretasi baru sehingga versi Melly menjadi ‘terlupakan’. Liukan improvisasi yang dihadirkannya menjadikan lagu ini seperti lagu miliknya. Intepretasi ulang yang sangat berhasil. Erwin juga cerdik dengan memasukkan melodi lagu KUPU KUPU KEMANAKAH ENGKAU TERBANG ciptaan IBU SUD di interlude lagu.

10. JANGAN REMEHKAN – ANAK ANAK DARR
Ini adalah lagu yang dinyanyikan oleh semua anak-anak DI ATAS RATA RATA. Kolaborasi yang keren, yang berhasil menampilkan karakter semua penyanyinya. Lagu yang segar, meskipun mengingatkan pada lagu-lagu yang dibikin Erwin untuk drama musikal LASKAR PELANGI.

11. TUHAN – ARI (BONUS TRACK)
Ini adalah lagu bonus yang ada di versi repackaged. Lagu religi legendaris milik BIMBO yang sudah menjadi lagu ketuhanan yang bersifat universal. Kembali ARI berhasil membawakan lagu ini dengan penghayatan keren dan berbeda dari versi yang sudah lekat dikenal.

Sayangnya, album superkeren ini tidak mendapat sambutan keren juga dari penikmat musik. Sejak diluncurkan, gema album ini tidak seperti yang diharapkan. Terlebih, agak susah mencari album ini di pasaran. Padahal keberhasilan album ini akan sangat menentukan nasib proyek ini selanjutnya.

Tapi sangat menggembirakan juga mendengar hasil karya para ‘juara’ kecil ini yang memang tidak mengenal usia. Apa yang mereka lakukan tidak hanya di atas rata-rata sebaya mereka, tapi juga para penyanyi dewasa yang sampai saat ini masih banyak muncul tanpa bakat yang memadai.

Kabar baiknya adalah, saat ini Erwin dan Gita konon sedang bersiap menggarap generasi dua dari proyek ini. BRAVO !!!

Photomorphosis

Sejak dulu gue memang seneng difoto. Dari jaman anak-anak gue ngerasa takjub kalo liat selembar kertas berisi gambar-gambar diri sendiri. Gak heran pas masih SD pun saat punya duit gue suka mampir ke studio foto buat dipotret, secara jaman itu kamera bukan barang yang bisa dimiliki setiap rumah. Atau lebih tepatnya, tidak semua orang menganggap kamera dan kegiatan berfoto adalah sesuatu yang penting. Foto-foto dibutuhkan ketika hajatan, berwisata, atau kalo pas lagi butuh pasfoto.

Maka jaman gue kecil, kegiatan berfoto adalah kesempatan langka yang hanya bisa didapatkan saat kakak gue kawinan atau pas lebaran. Padahal gue seneng banget difoto, tapi jangan harap bisa foto sendirian karena satu roll film maksimal hanya berisi 36 kali jepretan sehingga harus digunakan dengan seksama. Satu-satunya cara ya ke photo studio meskipun difotonya pas balik sekolah dan masih pake seragam SD. Dasar anak-anak.

fujifilm_36_400_film

Salahsatu momen yang cukup memuaskan bagi gue adalah saat gue ngedapetin 2 roll film Fuji isi 36 dari penukaran kupon di studio foto kondang di Purwokerto saat itu. Kuponnya boleh nemu padahal hahahaha.. Dengan 2 roll film itu gue pinjem kamera kakak gue dan berfoto sepuasnya. Saking ‘euphoria’ nya karena bebas motret secara itu film punya gue sendiri, apapun gue potret, sampai-sampai bereksperimen mereproduksi kalender bergambar MARISSA HAQUE dan ALAN NUARY lagi pelukan. Iya… Tebak sendiri mereka eksis di tahun berapa untuk menunjukkan setting waktunya hehehe..

Karena cuci cetak foto tergolong mahal untuk anak SD, maka dengan penuh perjuangan, roll film itu hanya dicuci dulu menjadi klise negatif, dan cetak fotonya dicicil lembar demi lembar. Tapi gue sangat puaasss… Sayangnya foto-foto itu raib entah kemana gara-gara pindah rumah.

Gue pertama punya tustel sendiri setelah kerja. Bukan kamera SLR karena ribet. Kamera pocket pun lumayan lah buat iseng-iseng kalo pas ada acara. Itupun jarang karena gue lebih seneng difoto, dan biasanya kalo bawa tustel justru jadi pihak yang tidak banyak difoto hahaha.. Era kamera digital gue juga beli kamera yang kemudian sering gue pake karena ringkes gak pake roll film. Beberapa kali ganti dan terakhir gue punya FUJI FINEPIX J 38 dengan resolusi 12.2 Mega pixels. Masih ada sampe sekarang tersimpan rapi di lemari sejak beberapa tahun lalu gara-gara gue kenal iPhone.

fujifilm-finepix-j38

Ya. Era ponsel berkamera memang mengubah wajah perfotografian. Sekarang semua orang bisa berfoto dimana saja kapan saja sesukanya. Kemudahan teknologi yang kemudian menghasilkan trend selfie, aplikasi camera360, instagram, tongsis dan sebangsanya. Buat orang yang seneng difoto, teknologi ini tentu sangat menyenangkan. Ringkes gak pake ribet. Hasil fotonya juga spektakuler ala ala model kondang dengan bantuan aplikasi edit foto. Sayangnya teknologi ini sudah melibas banyak orang yang sebelumnya bergantung dari dunia foto konvensional..

Studio cetak foto banyak yang tutup. Tukang foto keliling apalagi. Terus tukang foto Polaroid di tempat-tempat wisata juga sekarang gak ada karena pengunjung bisa foto pake HP sendiri. Yah, resiko kemajuan teknologi.. Harus ada yang ‘dikorbankan’

Seperti yang gue bilang di awal. Gue sangat takjub melihat momen-momen yang terabadikan di foto. Buat gue dengan membuka album foto-foto lama bakal ngobatin stress dan bisa senyum bahkan ketawa ngakak melihat gaya-gaya keren masa lalu yang saat ini sudah sangat amat layak dibilang norak 🙂 itulah kenapa iseng-iseng gue bikin kolase fotomorfosis gue.

Sayangnya foto-foto jaman gue bayi udah musnah gara-gara bolak-balik pindah rumah. Jadi foto tertua yang tersisa di dokumentasi gue adalah saat gue berumur 3 tahun. Selebihnya ada pas jaman SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja dan jaman sekarang. Sengaja gak gue urutin per masa, gue acak aja. Dan hasilnya ternyata cukup menghibur.

Yesss.. These are me.. My photomorphosis..

IMG_7558.JPG