My Adventure : Aceh & Sumatera Utara

Dari kecil gue memimpikan untuk menginjak tanah Aceh. Bukan apa-apa, ada historis yang mengubungkan gue dengan serambi Mekah itu. Nyokap gue adalah satu-satunya anak kakek yang ada di pulau Jawa, jadi seluruh anak-anak kakek alias paman-bibi dan sepupu-sepupu masih tinggal disana sampai hari ini. Meskipun sebegitu dekat nilai historis yang seharusnya bisa menghubungkan gue dengan Aceh, nyatanya dari kecil gue gak terbiasa untuk datang ke Aceh, secara kakek gue tinggal di Peureulak, yang saat itu menjadi salahsatu basis GAM yang lumayan kuat. Ada ketakutan-ketakutan dan berbagai macam alasan yang membuat kita gak pernah saling kunjung, cuma surat-suratan dan paling sodara-sodara gue yang di Aceh yang main ke pulau Jawa. Sampai kakek gue wafat, dan kemudian nyokap gue wafat, belum pernah sekalipun gue ketemu kakek gue itu 😦

Keinginan menginjak tanah Aceh tetap menjadi bagian obsesi yang meskipun tidak meledak-ledak tapi tetap tersimpan di alam bawah sadar. Tidak pernah berusaha ngoyo tapi gak tahu kenapa gue yakin one day bakalan sampai kesana juga. Dan feeling gue gak salah ternyata… Gue dapet event roadshow di area Aceh dan Sumatera Utara. Wow.. gue langsung terima job dengan sukacita meskipun gue tahu event ini terhitung cukup berat. Selain keterbatasan manpower yang diberangkatkan karena termasuk event katagori low budget, jarak waktu event satu ke event berikutnya juga sangat tight, dan transportasinya menggunakan JALAN DARAT! Kebayang beratnya tapi gue terima tanpa pikir dua kali.

Dan setelah mendarat di Aceh, gak bisa gue lukiskan perasaan gue. Antara senang karena akhirnya bisa menginjak tanah leluhur, tapi sedih juga karena gue ke Aceh dalam rangka kerja, dengan waktu yang ketat, dan di kota yang bukan tempat tinggal keluarga besar gue, yang artinya gue gak ada waktu untuk mampir ke Peureulak dan ketemu paman bibi sepupu-sepupu. But that’s OK. Keindahan alam Aceh cukup membuat gue takjub dan bersyukur udah bisa nyampe kesana. Dalam ketatnya waktu, gue sempet-sempetin jalan ke PANTAI LAMPUUK, sebuah pantai yang indah banget. Ombak gede, karang dan tebing-tebing yang kokoh, bungalow-bungalow yang nempel di sisi tebing, pohon-pohon pinus dan pasir putih.. sebuah perpaduan yang sempurna.

lampuuk

Perjalanan dari Banda Aceh ke Pantai ini juga menampilkan view-view indah pegunungan dan sawah-sawah.. meskipun sisa-sisa tsunami 2004 masih menyiratkan kenangan buruk atas bencana dahsyat itu, tapi overall kondisinya sudah sangat mantap. Di Banda Aceh juga gue nyoba kuliner khas, AYAM TANGKAP dan MIE KEPITING. Uuueeenakkk.

kuliner

Event pertama ada di SIGLI, sekitar dua jam perjalanan dari Banda Aceh. Pemandangan keren kembali terpampang nyata di sepanjang perjalanan. Melewati perbukitan Seulawah pas menjelang senja benar-benar sebuah hiburan alam yang luar biasa. priceless view.. kalo gak diburu waktu rasanya pengen berenti dan puasin foto-foto 🙂 Event kedua ada di LHOKSEUMAWE, hanya selisih satu hari dari event pertama, dengan jarak sekitar 4 jam dari Sigli. Perjalanan melewati pesisir pantai, dan gak lupa mampir di BEUREUNUEN buat makan SATE MATANG yang hampir mirip dengan Sate Maranggi ala Purwakarta itu. Kesan gue dari Aceh adalah keindahan dan ketertiban. Jalan-jalan antar kota teraspal mulus, nyaris tak berlubang, dan yang penting BERSIH DARI SAMPAH. Pemandangan yang sangat menyejukkan setelah sehari-hari berkutat dengan kotor dan kumuhnya Jakarta.

Dari Lhokseumawe, petualangan selanjutnya dimulai. Event ketiga bertempat di PANYABUNGAN, MANDAILING NATAL Sumatera Utara, dengan jarak tempuh mobil adalah DUAPULUHEMPAT JAM!!! Jarak yang ‘gak santai’ tapi berusaha gue lalui dengan gembira. Kapan lagi bisa keliling Aceh-Sumatera Utara lewat jalan darat gitu. Rute perjalanan kita melewati LHOK NIBONG kemudian PEUREULAK (sedihnya cuma numpang lewat aja hiikzz..), LANGSA, PANGKALAN BRANDAN, MEDAN, PARAPAT, SIPIROK, PADANG SIDIMPUAN, MANDAILING NATAL. Rute yang sangat berat, terutama setelah lepas dari Medan, jalanan rusak berat. Lepas dari Parapat jalanan makin ancur dan sepanjang malam jalan mobil terguncang-guncang. Sungguh ‘perjuangan’ berat secara fisik juga sudah cukup terkuras setelah event di dua kota. Tapi ketika fajar menyingsing dan kita sedang ada di SIPIROK, rasa capek itu mendadak menguap melihat pemandangan alam yang luar biasa indah.

sunrise

Matahari terbit diantara kabut yang cukup tebal menghasilkan nuansa yang tidak terkatakan, dan TIDAK MUNGKIN terjadi di Jakarta. Ketika kabut menipis, pemandangan luar biasa kembali terpampang. Kanan kiri jalan adalah lautan awan tebal, kita benar-benar berjalan di atas awan. AMAZING.

970112_10151601066297179_1423761496_n

Di PADANG SIDIMPUAN, gue takjub pas beli Salak. Daging salaknya berwarna PINK. berasa kayak jambu air dibungkus kulit salak. Unik. Dan rasanya juga beda dengan salak pondoh yang terbiasa mampir di mulut gue. Sayang salak ini cuma ada di Padang Sidimpuan.

20130527-080854.jpg

Event di MANDAILING NATAL sukses. Berlanjut ke SIBORONG BORONG, Delapan jam perjalanan dari Mandailing. Daerah ini luar biasa dingin, sampai berasap ketika gue ngomong. Nuansa tapanuli sangat terasa di daerah ini. Gue nyicipin KACANG SIHOBUK disini, kacang kulit garing yang crunchy dan gurih. Setelah Siborong Borong, event terakhir ada di SIDIKALANG. Perjalanan 4 jam dari Siborong Borong menampilkan view yang juga luar biasa indah. Danau Toba dengan segenap keindahannya ada di sisi jalan. Di Sidikalang sudah pasti gue mencicipi kopinya yang terkenal itu.

Selesai rangkaian event, dan gue harus ke Medan dulu untuk naik pesawat ke Jakarta. Kembali pemandangan indah gue lewatin dari Sidikalang ke Medan melewati Kabanjahe, Brastagi dan Deli Serdang. Event yang berat tapi sebanding dengan apa yang gue dapet. Mudah-mudahan one day gue bisa kembali kesana dalam keadaan santai… gak diburu-buru waktu untuk kerja.

Advertisements