Tak Bisa

Aku ingin bersikap biasa

menghadapimu..

Menganggap kamu bukan siapa-siapa

Sama seperti beratus juta

orang-orang diluar sana

 

Nyatanya tak bisa,

Karena kamu bukan mereka

Menghadapimu aku kelu

 

Dendamkah aku ?

Sementara aku tahu,

Mencintaiku tak penting bagimu

Artiku tak lagi nyata

 

Jadi mengapa ?

Kusiksa diriku sendiri

dengan seribusatu tanya ?

Advertisements

Review : Maryamah Karpov (Mimpi Mimpi Lintang)

marJudul : Maryamah Karpov (Mimpi Mimpi Lintang)
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Cetakan Pertama : November 2008
Halaman/Bab : xii + 504 halaman / 73 Bab
ISBN :978-979-1227-45-2
Harga : Rp. 79.000,00 + discount 10%

Lama banget nunggu buku terakhir dari tetralogi LASKAR PELANGI tulisan ANDREA HIRATA terbit, akhirnya ketika buku terakhir berjudul MARYAMAH KARPOV (MIMPI MIMPI LINTANG) dirilis, gak nunggu lama-lama langsung aja datang ke acara launching supaya bisa dapetin itu buku sesegera mungkin. Dan sepertinya memang banyak orang yang berpikiran sama dengan gue, gak heran acara launching itu padat pengunjung, dan tentu saja tumpukan Maryamah Karpov yang memenuhi area MP Bookstore langsung menyusut dengan cepat. Konon bahkan hanya dalam waktu dua hari buku itu udah habis (padahal cetakan awal buku ini adalah 100.000 eksemplar… jumlah yang fantastis !!!).
Buku terakhir ini sekaligus menjadi buku yang paling tebal diantara 3 buku lainnya. Dan sepertinya Andrea memang ingin merangkum 3 buku sebelumnya dalam buku terakhir ini. Maka di buku ini hampir semua tokoh dari ketiga buku sebelumnya muncul, mulai dari 11 anggota Laskar Pelangi, A Ling, Tuk Bayan Tula, Arai, Bang Zaitun, Maryamah dan Nurmi, Dosen dan teman-teman Ikal di Sorbonne, dan tentu saja tokoh-tokoh baru seperti Drg. Diaz Tanuwijaya.
Seperti biasa, Andrea sangat mahir menuliskan kata-kata yang membuat pembacanya mengharu biru : sedih, senang, tertawa, berganti-ganti sejak dari lembar pertama. Dua bab awal dengan ironis menceritakan nasib Bapaknya Ikal yang ‘naik pangkat’, satu peristiwa yang menjadi alasan kuat mengapa Ikal bertekad mencari ilmu setinggi-tingginya, tidak seperti bapaknya yang menjadi anggota ‘republik tak berijazah’. Bab-bab selanjutnya melompat ke ujian tesis Ikal sampai akhirnya lulus dan kembali ke Belitong. Di Belitong-lah sebagian besar cerita terjadi. Bagaimana nasib Ikal menjadi ‘pengangguran paling intelek’ di Belitong, bagaimana pertemuan kembali Ikal dengan anggota Laskar Pelangi, bagaimana juga nasib percintaan Arai dan Zakiah Nurmala, Bang Zaitun sang flamboyan yang ditinggal keempat istrinya dan memulai kehidupan baru sebagai sopir bus, Lintang yang tetap brilliant dan genius dan bahkan menemukan ‘dalil lintang’, dan banyak cerita-cerita sederhana yang ditampilkan Andrea dengan istimewa.
Membaca buku ini gue jadi tambah pengetahuan baru, tentang budaya orang Melayu di Belitong yang senang bergosip dan menjuluki orang seenaknya bahkan sampai ketika orang itu meninggal, di nisannya yang tertulis adalah nama julukan, bukan nama asli. Gue ketawa pas ngebaca julukan-julukan ajaib orang-orang Melayu Belitong seperti : TANCAP bin Seliman, Mustahaq DAVIDSON, Munawir BERITA BURUK, Rustam SIMPAN PINJAM, Syamsiar BOND dan masih banyak lagi. Bahkan Cik Maryamah pun mendapat julukan KARPOV sehingga menjadi Maryamah Karpov. Apa dan bagaimana proses pemberian julukan itu sepertinya lebih enak dibaca sendiri di novelnya…
Seperti juga di Laskar Pelangi yang ‘mengeksploatasi’ kecerdasan Lintang, di Maryamah Karpov Lintang juga ‘dieksploatasi’ untuk memecahkan masalah-masalah pelik. Kali ini adalah obsesi Ikal untuk mengarungi Selat Karimata menuju Batuan mencari A Ling, sementara perahu tidak punya dan Ikal memutuskan untuk MEMBUAT SENDIRI perahu itu !!! Dengan bantuan Lintang berdasarkan rumus-rumus ilmiah, akhirnya Ikal berhasil membuat perahu serta memunculkan kembali sebuah perahu yang sudah karam ratusan tahun dibawah jembatan sungai Linggang.
Ikal akhirnya bersama Mahar dan dua tokoh baru (Kalimut dan Chung Fa) berlayar menembus Selat Karimata menemui Tuk Bayan Tula dan meminta bantuannya agar bisa sampai ke Batuan, sebuah pulau Bajak Laut, untuk mencari A Ling. Ya. Ikal akhirnya memang bertemu A Ling… mereka mengulangi lagi-lagi romansa komidi putar seperti masa lalu… A Ling bahkan minta ‘dicuri’ oleh Ikal dari pamannya, sebuah bahasa halus untuk siap dipinang. Tapi apakah mereka benar-benar menikah ??? Baca sendiri ya novelnya… 🙂
Secara keseluruhan buku ini asyik dibaca. Meskipun ketika merefleksikan keseluruhan isi buku dengan judul MARYAMAH KARPOV sepertinya gak nyambung. Membaca judul dan melihat design cover yang sangat cantik dengan perempuan menggesek biola, awalnya gue berpikir buku ini bakal banyak menceritakan tentang perempuan ini. Ternyata gue salah. Peran tokoh Maryamah Karpov dalam cerita ini sangat kecil, bahkan kalaupun dihilangkan juga tidak berpengaruh. Bahkan sebenarnya sub judul MIMPI MIMPI LINTANG malah bisa lebih pas dijadikan judul, karena itulah nama yang diberikan Ikal pada perahu bikinannya. Seperti biasa Andrea menuliskan sesuatu dengan ‘bombastis’ atau kata anak sekarang ‘lebay’… suka gak realistis. Ini terjadi ketika Ikal digambarkan bisa membuat perahu sendiri (dibantu anggota Laskar Pelangi), atau menimbulkan kembali perahu jaman baheula yang udah terkubur lumpur ratusan tahun di bawah jembatan sungai Linggang. Memang Andrea dengan lihai membeberkan teori dan rumus-rumus yang memungkinkan semua peristiwa itu make sense secara ilmiah, tapi tetap saja ‘lebay’ buat gue. Sempet juga ada kejanggalan, kalau dalam istilah dunia perfilman adalah blooper alias tidak continuity antara adegan satu dengan adegan lain. Di buku ini, saat menceritakan teman-teman Laskar Pelanginya saat reuni di SDN Muhammadiyah Gantong, Ikal mengatakan bahwa tidak ada anggota Laskar Pelangi selain dirinya yang merantau keluar Belitong. Padahal di buku Laskar Pelangi diceritakan bahwa Syahdan mendapat kesempatan kuliah di Tokyo !!! Memang tidak mempengaruhi keseluruhan cerita, tapi kenapa bisa begini gak ngerti juga… Hal yang sama juga sebenarnya terjadi di buku kedua SANG PEMIMPI, yang menceritakan Ikal merantau ke Jakarta berdua saja dengan ARAI, padahal di buku Laskar Pelangi diceritakan Ikal merantau ke Jakarta bersama dengan SYAHDAN dan KUCAI (seharusnya TRAPANI berencana ikut tapi tidak datang ke dermaga karena tidak bisa berpisah dari ibunya). Untuk sebuah tetralogi yang mestinya keseluruhan cerita nyambung jadi satu, blooper seperti ini rasanya cukup mengganggu.
Apapun, tetralogi ini memang fenomenal. Film LASKAR PELANGI saja berhasil memecahkan rekor penonton 4.3 juta (data dari jaringan bioskop 21 tanggal 28 November 2008) hanya dari kota utama. Ini angka fantastis… tidak heran buku kedua SANG PEMIMPI sedang disiapkan untuk difilmkan, dan rencananya akhir 2009 sudah bisa ditonton. Untuk Maryamah Karpov sendiri Andrea Hirata secara pribadi bilang, ingin melihat buku ini difilmkan.
Oke… 3 Bintang untuk MARYAMAH KARPOV dari gue, sama seperti EDENSOR. Sementara 4 bintang buat LASKAR PELANGI.. dan 5 bintang untuk SANG PEMIMPI. Yup… buat gue pribadi, SANG PEMIMPI adalah buku tervavorit dari rangkaian tetralogi ini.