Launching MARYAMAH KARPOV (Andrea Hirata)

100_1289

Setelah lama ditunggu-tunggu akhirnya novel terakhir dari tetralogi LASKAR PELANGI karya ANDREA HIRATA diluncurkan juga. Novel dengan judul MARYAMAH KARPOV (MIMPI MIMPI LINTANG) ini dilaunching jumat malam 28 November 2008 di MP Book Point Cipete Jakarta Selatan.

Secara gue ngefans abis ama tulisan2 Andrea, gue gak mau melewatkan kesempatan emas ini. Apalagi tempat launchingnya dekeeeet banget sama kantor gue. Ya udah, sepulang kantor dengan diiringi gerimis, gue menyusuri senja berjalan kaki menuju MP. Sampe di MP baru sekitar setengah 6 tapi udah rame. Gue langsung beli Maryamah Karpov… dan karena bakalan ada acara signing book… sementara gue lupa bawa 3 buku sebelumnya… akhirnya gue BELI LAGI 3 buku… jadi gue langsung beli 4 buku tetralogi LP itu… gue pikir kapan lagi gue ketemu Andrea dan menandatangani novel2nya… ini ketololan kedua gue setelah pas acara bedah buku dulu gue juga lupa bawa novel2 buat ditanda tangani… jadi oke deh… beli lagi gak papa lahhhh…

Abis beli novel dan dapet bonus pin (lumayan), gue langsung ke tempat acara yang udah mulai penuh sama orang2. Bener aja makin malem makin banyak yang dateng… tempat yang kecil jadi penuh sama orang… malah tiba2 jeung Enny dan jeung Dini dari komunitas 80an tiba-tiba muncul… karena mereka dateng dah agak menjelang jam 7, dengan pasrah mereka ngedeprok duduk di lantai (hihihi…). Acara pun mulai… penampilan dua pemain gitar plus satu vokalis dengan lagu TENNESSE WALTZ membuka acara, disambung chit chat sebentar antara MC dengan Mas Gangsar Sukrisno dari Bentang Pustaka, trus monolog puisi dari IMAN SOLEH yang cukup menghibur… trus ada quiz, nyanyi lagi ENGLISHMAN IN NEW YORK, monolog lagi kali ini mas Iman bacain mozaik 11 dari novel Maryamah Karpov, dan akhirnya ANDREA HIRATA muncul… gak cuma Andrea, ternyata ada CUT MINI, GIRING NIDJI, MATHIAS MUCHUS dan SALMAN ARISTO. Kata Mas Gangsar sih harusnya 11 anak belitong pemeran Laskar Pelangi dateng juga tapi jadwal syuting di Global TV molor jadi gak bisa dateng :(. Acara tambah seru dengan nyanyi bareng lagu LASKAR PELANGI antara penonton sama GIRING. Abis itu sesi tanya jawab dan diakhiri lagu SEROJA.

Acara launching kelar… yang mau ngantri tanda tangan dipersilahkan ke ruangan bookstore…karena Andrea akan ada sesi tanya jawab dengan pers (gue yakin pasti seputar gosip ‘perkawinan’ itu yang diincer wartawan). Ternyata yang ngantri tandatangan banyaaaaaaaakkkkkk banget…. ampe penuh tuh bookstore… dan kita berjejalan ngantri… gak papa… demi novel bertanda tangan Andrea gue rela.. setelah berpeluh-peluh dan terdorong-dorong, gue sampe di bagian depan antrian… dan tiba-tiba muncul maklumat mengejutkan : YANG BISA DITANDATANGANI HANYA NOVEL MARYAMAH KARPOV….. gubrakkkkkk… kebayang 3 novel yang baru gue beli… wadoooohhh… solusi yang gue anggap cerdik tadi ternyata menjadi KETOLOLAN KETIGA yang gue perbuat. Ya sudah… mungkin Andrea juga udah capek tanda tangan… meskipun tetap menebar senyum… pas novel gue abis ditandatangani muncul maklumat berikutnya : SATU ORANG HANYA BOLEH MENANDATANGANI SATU NOVEL… gue senyum tipis… puassss… akhirnya bukan cuma gue yang gubrakk… karena di belakang gue masih banyak yang masing-masing memegang lebih dari satu novel… ciri khas orang Indonesia, gak mau ngantri… senengnya nitip-nitip…

Akhirnya ya sudahhhh… cuma novel Maryamah Karpov yang bertandatangan Andrea… berarti masih ada PR buat nandatangani 3 buku lagi (atau 6?)… Mudah-mudahan gak ada lagi ketololan keempat…

Advertisements

Hari ini, sepuluh tahun lalu…

“Aku di PHK”

Katamu lirih sambil menyembunyikan genangan air yang mulai mengembang dimatamu. Kugenggam tanganmu, berusaha mengalirkan kekuatan dari sana. Sungguh, aku tak tahu bagaimana cara menghiburmu saat itu. Pekerjaan itu adalah nyawa bagimu. Kamu mencintainya mungkin melebihi cintamu padaku, karena demi kerja kamu sering rela mengabaikan aku. Aku tahu bagaimana rasanya dihempaskan secara paksa dari sesuatu yang sangat kita cintai.

“Sabar Ta.. nanti aku bantu kamu nyari kerja lagi.”

Kata-kata itu akhirnya yang keluar dari mulutku. Sebuah basa-basi yang basi kupikir. Saat itu, 1998, boro-boro kantor nyari karyawan baru. Yang ada malah berusaha seefisien mungkin dengan cara mem-PHK karyawan lama. Dan kamu sendiri sudah merasakan dampak itu. Tapi jawabanku itu membuat kamu tersenyum tipis diantara butiran air yang mengalir dipipimu, yang tidak bisa kamu sembunyikan lagi.

”Makasih… aku tahu kamu pasti bantuin aku”

Kamu kembali tersenyum tipis diantara tangis. Lalu kuseka airmatamu dengan ibu jariku. Ya. Aku pasti akan melakukan apapun sebisaku untuk kamu. Karena bagiku kamu adalah separuh nyawaku. Dan kita berdua, cuma berdua, sejauh ini sudah terpisah jauh dari tanah kelahiran kita. Terpisah jauh dari keluarga yang tidak merestui kebersamaan kita, keluargamu tentu saja karena keluargaku sudah sangat menerima kamu. Selama ini kita bahagia dalam ketidakpastian, tersenyum dalam ketersembunyian. Jadi apapun akan kulakukan untuk kamu. Karena dikota ini tidak ada lagi yang kamu punya selain aku.

”Tapi..”

Kalimatmu tertahan.   

”Tapi kenapa ??”

Kamu tidak segera menjawab. Matamu kosong menerawang, memandang sesuatu yang entah apa diluar jendela. Kugenggam lagi tanganmu, dan kamu menghela napas. Matamu kembali menggenang.

”Aku gak bisa lagi di Jakarta Mas.. aku harus balik.. Tadi pas aku telpon rumah ngabarin aku di PHK, Papa langsung nyuruh aku pulang. Papa malam ini juga mau berangkat ke Jakarta. Jadi besok aku langsung balik sama Papa”

Semuanya tiba-tiba terasa senyap. Lalu lalang orang terlihat seperti gerakan slow motion yang melelahkan. Tidak ada yang bisa kudengar di telinga selain tangis hatiku sendiri yang tiba-tiba meraung-raung. Kamulah alasan utama kenapa aku ada di kota yang kejam ini. Karena kamulah aku berusaha sekuat tenaga menaklukkan Jakarta. Lalu mendadak kamu akan meninggalkan aku tanpa sempat memberiku kesempatan berpikir. Shock teraphy yang hebat.

”Jadi besok kamu udah..”

Kalimatku tak selesai. Menggantung di udara. Dan kamu juga tidak menjawab. Memang sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Lalu kita sama-sama terdiam. Sebuah acara yang hambar untuk momen yang begitu penting : kebersamaan terakhir. Ya… bukankah kamu besok akan pergi.. dan untuk segala seuatu yang berhubungan dengan Papamu aku pasti tidak akan bisa terlibat. Kalau aku nekat mengantarmu ke stasiun besok, aku takut Papamu murka. Beliau tidak tahu kalau aku selama ini juga di Jakarta bersamamu. Dan murkanya Papamu akan berimbas kepadamu. Aku tidak mau tubuhmu lebam oleh sabetan ikat pinggang seperti saat itu.

Jadi begitu saja. Sampai kita berpisah di depan pagar kosmu aku merasa separuh nyawaku hilang. Kamu benar-benar pergi meninggalkan setumpuk mimpi yang sudah mulai kurajut. PHK itu memisahkan kita. Jakarta yang kejam semakin terasa kejam ditengah krisis moneter yang tidak berkesudahan.

Tidak ada kabar darimu sejak kamu pulang.

Kutelepon ke rumahmu selalu keluargamu yang angkat dan sudah pasti langsung kumatikan.

Kamu tidak pernah meneleponku.

Aku mau mati saja rasanya.

Lalu sebuah surat datang untukku. Dari kamu. Tidak terkira bahagianya aku. Kamu cerita tentang hari-harimu di kampung halaman. Permintaan maafmu untuk begitu lamanya tidak pernah memberiku kabar.

Tapi kamu tidak bicara soal kangen. Satu hal yang sudah membuatku nyaris mampus. Apa kamu tidak kangen ?

Lalu di halaman terakhir surat tiga lembarmu itu… dibawah tanda tangan simpel yang sudah sangat kuhapal itu, tertulis namamu dengan tambahan nama laki-laki yang bukan nama Papamu.

Hatiku tertusuk. Dan firasat buruk menyergapku. Ribuan pertanyaan menggema didadaku sendiri tentang nama itu.

Kutelepon rumahmu. Papamu yang angkat dan langsung kumatikan. Lalu kutulis surat balasan. Isinya singkat, mempertanyakan siapa laki-laki yang namanya tertulis dibelakang namamu. Kukirim kilat khusus.

Tiga hari dalam penantian. Seminggu… sepuluh hari… datanglah balasanmu. Aku sudah siap dengan apapun kenyataannya. Tapi suratmu membuatku limbung. Tulisanmu membuat harga diriku runtuh. Suratmu singkat tapi menusuk tepat di ulu hati..

 

”Dia pacarku Mas.. anak Jakarta juga. Dan dia yang nganterin aku pas pulang kemaren sama Papa. Maafin aku Mas selama ini udah ngeduain kamu. Tapi aku memang capek backstreet Mas… abis lebaran kami rencananya mau tunangan.. buat aku yang penting Papa dan keluargaku setuju. Sekali lagi maafin aku”