Marlina, 4 Babak Yang Menggugat

Judul Film : Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts)
Sutradara : Mouly Surya
Skenario : Mouly Surya & Rama Adi
Cerita : Garin Nugroho
Cast : Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egi Fedly
Produser : Rama Adi & Fauzan Zidni
Produksi : Cinesurya & Kaninga Pictures

 

DKk73sHUMAAmFzO

Apa yang bisa dilakukan seorang perempuan, janda, tinggal sendiri di sebuah rumah di tengah perbukitan tandus berumput kering tanpa tetangga, ketika 7 orang penjahat datang dan menyikat habis ternak yang dimilikinya, sekaligus merenggut kehormatannya ? Pasrah pada keadaan, mengakui bahwa kodrat wanita memang diciptakan lemah tanpa daya, terlebih dalam situasi serba tidak memungkinkan seperti itu ? Atau ada pilihan lain?

Marlina (Marsha Timothy), tokoh utama dalam film MARLINA THE MURDERER IN FOUR ACTS atau dalam bahasa Indonesia menjadi MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK mengalami hal tersebut. Dirampok, diteror, diperkosa, serta dalam kondisi serba tidak memungkinkan, tapi Marlina memilih menggugat dengan caranya sendiri. 4 Babak film ini menggambarkan upaya Marlina untuk membuktikan bahwa perempuan punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya, mencari keadilan dalam keteguhan sekaligus kepolosan, serta menunjukkan bahwa perempuan mempunyai dua sisi : kelembutan dan  kekuatan dalam waktu yang bersamaan.

Kelembutan, sopan santun dan kepatuhan yang menjadi tipikal perempuan Sumba berhasil ditunjukkan Marlina saat para penjahat itu menyambangi rumahnya. Tidak ada perlawanan saat mereka mengangkut hartanya ke dalam truk. Tidak nampak juga rasa ketakutan saat Markus (Egi Fedly) menerornya dengan kata-kata yang  mengancam. Marlina justru menimpali kata-kata Markus dengan pasti, tidak melawan tapi juga tidak terlihat ‘menyerah’.

Seperti pada cuplikan dialog Marlina – Markus yang kurang lebih seperti berikut :

Marlina : Apa yang kalian inginkan ?

Markus : Semua uang kamu, semua ternak kamu. Kalau masih ada waktu, kita bertujuh tidur dengan kamu. Malam ini kamu adalah perempuan yang paling beruntung.

Marlina : Saya perempuan yang paling sial malam ini…

Dialog itu diucapkan tidak dengan nada menggelegak penuh emosi layaknya adegan penjahat dalam film-film mainstream. Marlina sang korban pun tidak dengan menangis meratap-ratap ketakutan. Dialog itu datar saja. Tapi justru terdengar menggetarkan.

Marlina tetap menunjukkan kepatuhan dan kesopanannya saat para penjahat itu minta dimasakkan makan malam. Tapi dengan caranya sendiri, Marlina mencoba melepaskan diri dari bahaya yang mengintainya. Dengan kepolosan, kepatuhan dan kesopanan yang ditunjukkan itu, Marlina justru bisa menghabisi para perampok itu lewat masakan sop ayam beracun yang disuguhkannya.

Dan untuk Markus sang pemerkosa, Marlina menghabisi dengan cara memenggal kepalanya. Dan dari sanalah ceritanya dimulai.

Marlina mencoba mencari keadilan dengan menenteng kepala Markus itu menuju kantor polisi, tanpa perlu dibungkus atau dimasukkan ke dalam tas. Menyeramkan? sepertinya iya. Tapi disinilah letak kehebatan film ini (juga akting Marsha tentunya). Adegan yang sebenarnya creepy ini justru terasa ‘dimaklumi’ oleh kita para penonton karena ikut larut dalam cerita, merasakan apa yang dirasakan Marlina. Padahal tidak hanya itu, tidak cukup hanya membawa kepala Markus saja. Sosok Markus tanpa kepala juga terlihat mengikuti Marlina kemanapun Marlina pergi. Kalau ini adalah film thriller atau horor mainstream, pasti para penonton akan saling berteriak. Hebatnya, di film ini penonton diam.

Marlina-si-Pembunuh-dalam-Empat-Babak-BookMyShow-Indonesia-1-e1510040941725

Sebuah pencapaian baru dari film Indonesia. Mouly Surya sang sutradara berhasil menunjukkan kelasnya sebagai sineas muda yang patut diperhitungkan. Tidak hanya berhasil menuangkan ide cerita bikinan Garin Nugroho dengan  tepat, Mouly juga berhasil menggarap keseluruhan elemen dari film ini menjadi satu kesatuan yang solid. Akting pemain sangat terjaga, meskipun hanya ‘menjual’ nama Marsha Timothy tapi Mouly berhasil membuktikan bahwa tanpa deretan pemain bintang yang sedang punya nama besar, dia mampu menghasilkan film yang memikat.

Credit untuk casting director yang berhasil menemukan Dea Panendra yang sangat natural memerankan Novi (teman Marlina, perempuan hamil yang tidak kunjung melahirkan setelah 10 bulan mengandung). Atau Yoga Pratama yang meskipun sudah eksis dari anak-anak tapi jarang tampil. Di film ini Yoga juga tampil keren sebagai salah satu penjahat, penggambaran bahwa ‘penjahat juga manusia’ berhasil ditunjukkan saat dia beberapa kali terlihat menangis, atau saat berdua bersama Marlina di dapur saat Marlina sedang memasak Sop Ayam. Pemain-pemain lain dengan peran kecilpun tampil maksimal, seperti aktris teater kawakan Rita Matu Mona yang kebagian peran jadi ibu-ibu penumpang bus, atau Ozzol Ramdan yang menjadi polisi saat Marlina melaporkan kejadian yang dialaminya.

Akting Marsha Timothy jelas tidak diragukan lagi. Dialah pusat dari pesona film ini. Tidak heran predikat ‘The Best Actress’ berhasil direbutnya di ajang Sitges International Fantastic Film Festival Spanyol dan mengalahkan Nicole Kidman!! Bukan hanya itu penghargaan yang diraih film ini dari berbagai festival. Tercatat antara lain award dari Five Flavours Film Festival yang diselenggarakan di Polandia, juga penghargaan untuk Skenario terbaik pada FIFFS Maroko, Film terbaik Asian NestWave dari The QCinema Film Festival Filipina, serta meraih Grand Prize dalam Tokyo Filmex International Film Festival. Film ini juga diputar dalam festival-festival film internasional bergengsi seperti Directors Fortnight, Cannes Film Festival, Toronto International Film Festival, juga di beberapa festival film negara-negara seperti Denmark, Jerman, India, Spanyol, USA, Taiwan, Polandia dan Switzerland.

film marlina

Kekuatan lain film ini adalah gambar-gambar indah pemandangan alam Sumba yang dihadirkan dalam wide angle. Meskipun perbukitan dengan warna rumput kering yang kuning terlihat memenuhi layar, tetap terlihat memukau. Bahkan scene ketika Marlina dan Novi kencing di rerumputan pun terlihat keren.

Penata make up juga boleh… Marsha Timothy yang putih mulus bisa berubah menjadi berkulit coklat eksotis ala perempuan Sumba. Penata kostum juga mantap. Penggunaan dialek Sumba oleh semua pemain juga menambah nilai plus film ini.  Menunjukkan bahwa Indonesia punya banyak kekayaan tradisi yang sebenarnya masih bisa digali.

Good job Mouly Surya serta semua cast dan crew.

Advertisements

Impian anak gaul jaman old

Tadi sore jalan-jalan. Iseng aja sebenernya karena sejak pagi ngerjain report kerjaan padahal hari minggu yeekan.. makanya kelar ngerjain kerjaan selepas ashar gue langsung aja jalan. Dan seperti biasa kalo jalan-jalan gak niat mau ngapain ini biasanya suka beli yang aneh-aneh.

Kan.. lewat ACE Hardware terus pengen masuk dan akhirnya keluar-keluar nenteng satu set sprei bed cover. Bener-bener unpredictable kan, itulah bahayanya kalo jalan-jalan gak niat.

Niatnya mau balik. Eh, pas lewat tempat pijit ala ala gitu di mall, terus mampir totok wajah biar seger. Tuh kan.. Kelar totok wajah udah maghrib. Mampir ke musholla, terus ke CFC aja sekalian makan karena udah waktunya.

Abis itu mau pulang kan… ehhh.. koq ya mata gue mentok sama sebuah gerai dengan logo yang familiar dan mendadak pikiran gue melayang ke masa lalu…

abf219c5d3a66c27ca0855dc8fcd1f24.PNG

Gerai Hammer di Margo City Depok (photo credit : sopsip.com)

. . . . . . H A M M E R . . . . . .

Untuk anak muda awal era 90an, brand ini udah semacam item wajib yang harus dimiliki kalo mau dibilang gaul. Iklan brand ini di majalah-majalah remaja juga gencar sehingga membuat anak-anak muda masa itu berlomba-lomba untuk membeli dan memakainya. Meskipun di masa itu ada banyak brand lain yang juga cukup kondang semacam Country Fiesta, Osella, Hassenda, Arnett, Basic Element, Oto Ono, Walrus dan banyak lagi, tapi HAMMER memang lebih bergengsi. Selain corak dan bahannya yang keren, harganya juga relatif lebih mahal.

Ya.. Mahalll..

Setidaknya buat gue saat itu yang uang saku sekolah per harinya hanya ngepas buat naik angkot dan jajan pas istirahat. Mau nabung buat sekedar beli T-Shirt Hammer yang relatif lebih murah aja sepertinya susah, karena baru terkumpul dikit-dikit udah langsung buat beli kaset atau majalah. Jadinya gue hanya bisa memandang takjub saat jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan melewati deretan Polo Shirt Hammer yang tergantung di hanger. Gak kebeli. Minta nyokap juga paling bakalan diceramahin. Sementara temen-temen gue udah pada pake Hammer, gue cuma bisa nulis di diary. Iya. Serius. Gue masih inget, gue gunting logo Hammer di majalah, trus gue tempel di lembar diary, dan gue tulis di bawahnya “HAMMER, KAPAN GUE BISA MAKE ELO”

Menyedihkan… hahahahaha… sayang diary gue itu ilang entah kemana. Kalo masih ada pasti kocak.

Dan saking ngebetnya buat pake Hammer, akhirnya gue beli versi bajakannya.. hahahaha… Tapi kwalitasnya KW super karena temen-temen gue gak ada yang nyangka kalo itu palsu. Apakah gue puas ? tentu tidaaaak… karena gue belum bener-bener pake Hammer yang asli.

Demam Hammer emang gila-gilaan saat itu. Kalo gue bela-belain beli produk bajakannya (lumayan lah ya masih ‘modal’), ada temennya temen yang bahkan nekad nyolong di Matahari demi bisa pake produk hits ini. Warbiyasaakkk..

20635100_347216272381055_5721242934758604800_n

Iklan Hammer di majalah era 90an dengan bintang sensasional saat itu : Sophia Latjuba & Titi DJ  (photo credit : @asevw)

Dan sayangnya sampai gue kelar sekolah, ‘impian’ gue buat pake Hammer gak kesampaian. Gue baru bisa beli Hammer ‘beneran’ saat gue udah kerja. Dan saat itu Hammer sudah bukan lagi ikon anak gaul. Udah lewat masanya. Gue beli juga karena iseng aja waktu itu.

Dan sudahlah… gue juga udah gak pernah ‘tertarik’ untuk beli Hammer lagi. Kayaknya terakhir gue beli produk Hammer itu lebih dari 17 tahun lalu.. Buset dah… Sering juga kalo pas jalan lihat produk ini masih dijual tapi gak pernah tertarik beli.

Sampai tadi ini, pas abis makan dan gue udah niat pulang, tiba-tiba gue masuk ke gerai Hammer. Lihat-lihat, sentuh-sentuh.. Secara design ternyata produk ini nyaris gak ada perubahan. Polo Shirt garis-garis yang ikonik itu masih ada. Perubahan hanya di logonya saja. Kalo dulu logonya gambar palu dan ada tulisannya HAMMER, sekarang ini cuma gambar palu aja tanpa ada tulisan. Dan entahlah.. ‘dendam’ anak gaul jaman dulu ini seperti menyeruak ( ah elah bahasanya..). Dari nyentuh-nyentuh dan lihat-lihat, akhirnya gue pilih-pilih.. ke kamar pas.. dan akhirnyaaaaaa…

WhatsApp Image 2017-11-19 at 21.34.39

3 Polo Shirt masuk ke kantong belanja aja sodara-sodara…

Memang kacrut nih kalo jalan-jalan gak niat tapi akhirnya malah belanja banyak. Tapi entah kenapa keluar dari gerai Hammer gue senyum-senyum aja bawaannya. Inget mimpi si anak gaul jadul ini… pengen pake Hammer aja pake nulis-nulis diary.. pake beli yang KW cuma buat nampang… giliran udah mampu beli malah gak pengen beli karena udah gak ngehits…

Hidup kadang memang lucu ya.. Selucu gue yang pulang dari mall tiba-tiba kepikiran buat pake 3 kaos itu terus foto-foto gak jelas dan bikin kolase ala-ala iklan Hammer di majalah jadul. Gak papa kan ya.. itung-itung menuntaskan mimpi masa lalu yang gak pernah kesampaian…

hammm

Gimana ? cukup bikin mual kan posenya ? Hahahahahahahahaaaaa..  udah ah…

Kecopetan :(

Kejadiannya udah 3 minggu lalu sih… Sabtu 21 Oktober 2017. Ceritanya naik kereta Commuterline dari Depok menuju Bekasi. Ini adalah rute yang udah sangat sering gue lewatin dan biasanya aman-aman saja.

Maka hari itu gue naik seperti biasa. Dan di tengah jalan dari Depok menuju stasiun transit Manggarai, gue dengerin lagu pake smartphone gue. Ini juga hal yang walaupun gak selalu tapi sering gue lakukan saat naik kereta CL, dan biasanya juga aman-aman saja. Pas turun di Manggarai gue langsung ke jalur 4 buat nunggu kereta ke Bekasi. Hari itu tumben rameeee banget yang antri kereta gak kayak biasanya. Belakangan baru tau ternyata orang-orang rame pada mau ke Cikarang karena baru dibuka jalur kesana. Tapi gue cuek aja lah ya. Udah biasa kalo naik CL kan emang suka gila-gilaan ramenya yeekan..

Kereta datang, gue pun bersiap dan berdesakan dengan calon penumpang lain yang akan naik kereta, sambil tetep dengerin musik, dan yang lagi keputer adalah lagunya ANGGUN – SNOW ON THE SAHARA. Pas kereta berhenti, gue mulai berusaha naik bersama banyak penumpang lain. Berdesakan. Gue berhasil masuk. Tapi tiba-tiba… Anggun berhenti nyanyi. Dalam keadaan masih berdesakan gue susah buat ngecek smartphone di kantong jeans gue. Jadi butuh beberapa detik buat gue bisa berdiri tegak dulu. Dan yaa… smartphone di kantong udah raib. Tinggal headset yang masih nyantol di kuping gue.

Kejadiannya hanya dalam hitungan detik, dan gue udah gak bisa ngelacak siapa yang ngambil smartphone gue. Orang sekeliling gue juga biasa aja, cuek bebek saat gue panik nyari-nyari dan berharap smartphone gue cuma jatuh di lantai CL. Ada bapak-bapak yang nanya dan gue jawab ‘HP saya ilang. ‘ Dan setelah itu ya udah, pada lempeng semuanya.

Gue langsung turun gak jadi naik. Masih berharap siapa tahu smartphone gue itu jatuh di kolong kereta. Tapi ternyata nggak 😦

Nyesek sih. Secara itu smartphone baru gue beli 3 bulan dan harganya cukup lumayan. Tapi gue ikhlasin aja lah…

Satu pelajaran bahwa jangan lagi-lagi naruh smartphone di kantong pas naik commuterline.

IMG_0784

ini penampakan smartphone yang dicopet 😦 

Mudik Lebaran 2017

Selalu menyenangkan kalo ngomongin soal mudik lebaran.. ya iyalah.. momen setahun sekali yang walaupun ritualnya selalu dari itu ke itu tapi tetep aja ngangenin, terutama buat gue yang memang baru sempet mudik kalo pas lebaran aja.

Tahun ini gue mudik pas malem lebaran, tapi kebagian tiket yang jam 4 sore jadi masih ada waktu cukup panjang di malam lebaran buat istirahat, gak kayak beberapa tahun lalu yang dapet tiket malem lebaran jam 11 malem jadi nyampe subuh dan gak sempet istirahat langsung shalat ied. Gue nyampe Gambir sekitar jam setengah 3, check in tiket trus leyeh-leyeh manja a.k.a. ngampar di lantai stasiun. Kepikiran buat ke Hoka Hoka Bento karena kan bakalan buka puasa di kereta, tapi gue pikir ntar aja lah menjelang boarding. Jadi jam 15.15 gue naik ke Hokben, dan ternyataaaa… antriannya juara. Hadeuuh.. gak kepikiran gue pasti orang2 juga pada beli makanan buat buka puasa di kereta yeekaan… akhirnya gue nyerah gak jadi ngantri, gue cari tempat makan yang antriannya dikit dan akhirnya nemu McD. Ngantri sih tapi gak separah Hokben. Jadilah gue beli paket ayam McD buat buka puasa, lumayan ngantri sekitar 20 menit dan langsung gue boarding. Kereta udah ready. Gue langsung masuk, duduk, dan gak nyampe 10 menit kereta jalan.

Kereta berjalan lancar. Jam 9 malem udah nyampe dan langsung kabarin ponakan buat jemput. Jalanan di Purwokerto lumayan padet dan jalan Jenderal Sudirman diberlakukan satu arah jadi kita muter lewat Tanjung – Jalan Gerilya. Pas di jalan tiba-tiba ponakan gue bilang kalo ada Martabak hits disitu. Ya udah kita berenti dan take away. Gue liat harganya. Astaga… murah bangeeet dibanding harga martabak di Jakarta. Harga martabak paling mahal disini cuma 50 ribu!!! Sayang gue gak sempet nyicipin rasanya karena pas nyampe rumah gue udah tepar dan langsung masuk kamar.

Besoknya lebaran. Seperti biasa shalat ied di Alun-Alun Purwokerto. Ada Mal baru yang udah buka ternyata. Kalo diliat dari luar sih tenant nya kayak yang lumayan gitu ada Pizza Hut, JCo, CGV Cinema dll. Kelar shalat ied langsung seperti biasa ritual maaf-maafan, keluarga besar ngumpul, ziarah ke makam bokap nyokap, mampir ke Bakso Pekih – wajib hukumnya 🙂 – trus balik ke rumah habis ashar, tidur lagiii… malemnya jalan ke Matahari nemenin ponakan, trus jemput ponakan yang baru dateng dari Bandung di stasiun, trus ke rumah kakak gue di Mersi. Jam 10-an malem gue balik dan tidur.

Hari kedua lebaran krucil-krucil pada renang ke Depo Pelita. Gue males ikutan. Akhirnya gue rencana mau nonton film aja. So gue ke Mal baru yang deket alun-alun itu, namanya RITA SUPERMALL. Jalan kaki dari rumah juga gak capek tapi gue minta anter ponakan naik motor :). Masuk ke dalam Mal… yaaa lumayan lah walaupun belum semua tenant terisi. Langsung naik ke CGV tapi antriannyaaa… bikin males. Akhirnya gue urungkan niat gue untuk nonton. Turun ke bawah nyari kopi. Ngopi2 bentar… ehhh ternyata ujan :(, akhirnya gue nunggu ujan reda. Trus gak tau mau kemana. Akhirnya gue jalan kaki aja ke MORO. MORO ini pusat belanja juga ala-ala Mal. Lumayan jaraknya tapi santai aja lah kalo di Purwokerto mah jalan kaki juga asoy. Rencananya di MORO cuma bentar karena pengen nonton ke Rajawali 21 yang deket dari situ. Eh… ujan turun lagi. Akhirnya gue pengen ngisi perut aja dulu. Pas mau jalan ke tempat makan, ehhh… rombongan krucil n kakak gue yang abis renang ternyata ke MORO juga. Ya udah, akhirnya momong krucil2, balik-balik malem. Batal deh nonton ke Rajawali

Hari ketiga lebaran, ada Reuni sama temen-temen SMP. Lumayan seru acaranya, biasa lah kalo ngumpul-ngumpul temen lama pasti banyak yang bisa jadi bahan cerita. Tahun ini agak spesial karena temen satu angkatan yang udah jadi artis top ikutan reuni 🙂 Jadilah jumpa fans dadakan pada minta foto bareng. Habis reunian sempet mampir ke Sroto Pak Sungeb di Jalan Bank. Soto legend ini masih enak juga rasanya. Lumayan ngobatin kangen makan sroto.

Hari keempat lebaran, ada reunian lagi. Kali ini temen2 SMEA yang udah lama banget gak ketemuan. Sayangnya cuma dikit yang dateng 😦 lumayan lah seru2an cerita. Abis reunian nyempetin ke Baturaden, pengen liat Small World yang katanya instagramable banget itu. Ya lumayan sih, cukup keren buat foto2. Abis itu naik lagi ke Kebun Raya Baturaden. Naik dikit udah ngos2an akhirnya udah deh ngopi2 aja sama makan mendoan anget.

Malemnya gue balik ke Jakarta. Ya gitu deh secara beli tiket kereta kan untung2an dapetnya, jadi kebagian tgl 28 balik, padahal masuk kantor baru tanggal 3. Makanya masih banyak tempat yang belom gue datengin secara jadwal padet yeekan… gak sempet ke Sokaraja hunting batik, gak sempet keliling2 kuliner kayak biasanya. Apapun… lumayan lah masih bisa mudik 🙂

10 Tahun Indolawas

Sebenernya udah telat bahas ini, tapi daripada gak sama sekali akhirnya disempetin nulis. Soalnya buat gue ini momentum. Gak kebayang gue bisa bikin dan ngelola blog http://www.indolawas.blogspot.com sampai 10 tahun dan masih terus update biarpun kadang bolong-bolong. Eh tapi udah pada tahu blog indolawas kan ? hehehe.. kalo blom tahu silahkan cusss browsing-browsing disana 🙂

Gue pengen cerita sejarah dibikinnya indolawas kali yaaaa… jadi awalnya karena gue memang pemerhati musik Indonesia. Dari jaman anak-anak gue suka mantengin TV dan dengerin radio buat tahu lagu-lagu rilisan terbaru. Gue juga hobi main ke toko-toko kaset buat lihat-lihat bentuk fisik kasetnya, karena apalah gue seumur itu gak mungkin bisa beli kaset-kaset, jadi dengan main ke toko kaset dan lihat-lihat cover kaset aja gue udah seneng banget. Tanpa gue sadari, kebiasaan gue itu mengasah pengetahuan gue tentang musik-musik Indonesia, karena bukan sekedar ngelihat covernya, gue juga terbiasa nyari tahu siapa-siapa saja yang terlibat dalam pembuatan sebuah album kayak misalnya siapa pencipta lagunya, arrangernya, produsernya, bahkan backing vocalnya hahaha…  Hal ini sangat ngebantu gue saat kemudian gue jadi penyiar radio.. Tanpa ‘bantuan’ script gue bisa tahu latar belakang sebuah lagu (terutama lagu-lagu jadul pastinya). Gue masih inget saat awal-awal jadi penyiar, masuk ruang diskotik (tempat penyimpanan kaset koleksi radio) adalah surga buat gue. Gue bisa dengan puas nyobain kaset-kaset itu, nostalgia abis saat ngelihat kaset-kaset yang jaman gue kecil cuma bisa gue lihat di rak display toko kaset ternyata bisa gue lihat lagi

Tapi cuma sebatas itu aja. Gak kepikiran gue buat koleksi kaset-kaset, terlebih setelah jadi penyiar gue malah lebih sering bikin mixtape daripada beli kaset hehehe. Ide buat koleksi kaset jadul baru muncul saat gue lagi di Stasiun Pasarminggu sekitar tahun 2000an awal. Waktu itu di dalam stasiun masih banyak pedagang kaki lima, dan ternyata ada beberapa lapak kaset bekas disitu. Iseng sambil nunggu kereta gue mampir ke salah satu lapak dan endingnya gue beli 3 kaset, yaitu album FLPI 1981, FLPA 1982 dan YANA JULIO album SATU KEINGINAN. Dari iseng-iseng itu ternyata nyandu. Sejak itu gue hunting kaset-kaset bekas ke berbagai tempat di Jabodetabek, Bandung, bahkan sampai Cirebon. Belum lagi setelah fenomena online shop marak dan banyak juga seller yang menjual kaset bekas.

Saat itu gue cuma niat koleksi aja sih. Sekedar ‘balas dendam’ karena di masa lalu gue gak bisa beli kaset-kaset itu. Jadi fokus gue hanya beli kaset-kaset yang memang gue suka aja, yang ada storinya. Sampai kemudian gue berkesempatan mewawancarai musisi idola gue ERWIN GUTAWA. Waktu itu mas Erwin lagi promo album instrumental, jadi off course gue gak bisa puterin lagu-lagu instrumental di acara gue yang durasinya 2 jam itu (walaupun mas Erwin minta wawancara setengah jam aja). Trus mas Erwin bukan penyanyi juga (pernah sih doi rekaman pas anak-anak tapi kan gak mungkin juga muter lagu anak-anak). Akhirnya gue puter otak. Berdasarkan daya ingat, gue kumpulin lagu-lagu yang melibatkan mas Erwin, baik itu sebagai komposer, arranger, atau lagu-lagu dari group lamanya macam KARIMATA. Sengaja gue pilih lagu-lagu yang udah jarang diputar buat ngasih efek surprise. Dan ternyata… Mas Erwin berhasil gue bikin kaget. Wawancara yang awalnya dia minta hanya setengah jam itu akhirnya molor jadi 2 jam sampai acara gue kelar. Kembang kempis idung gue pas dia bilang pengetahuan gue akan lagu-lagu jadul Indonesia terhitung oke. Trus dia bilang sesuatu yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang… kurang lebih kayak begini…

Jangan disimpen sendiri pengetahuan musik Indonesia jadul lo… harus dibikin sesuatu.. biar orang-orang tahu sejarah.. bikinlah semacam library musik Indonesia…

Waktu itu gue cuma mesem-mesem aja. Istilahnya gue baru ketemu dan bisa ngobrol sama idola gue aja kan udah berjuta rasanya. Tapi setelah itu gue kepikiran. Sepertinya memang apa yang gue tahu itu harus gue share, setidaknya gue jadiin suatu catatan yang bisa dilihat orang. Tapi gue bingung apaan yaaa… Bikin buku ? waduh jaman itu gue gak tahu gimana caranya, gak punya kenalan publisher, dan gak yakin apakah materi yang gue bikin bakalan menarik buat diterbitkan. Sampai kemudian gue nemu blog lapanpuluhan.blogspot.com yang membahas segala sesuatu tentang era 80an. Dari situ gue gabung di komunitasnya, dan mulai aktif main sosmed macam Multiply. Akhirnya kepikiran buat bikin blog yang mengupas lagu-lagu Indonesia jadul. Waktu itu udah ada beberapa blog sejenis kayak musiklawas.blogspot.com atau lagughia.blogspot.com jadi gue harus bikin sesuatu yang beda dari yang udah ada. Karena blog-blog itu hanya memajang cover kaset, track list dan lirik lagunya, maka gue kepikiran untuk nambahin review supaya lebih lengkap. Gue pun bikin akun di blogspot dan akhirnya pake nama INDOLAWAS, gue pikir nama itu udah langsung bisa bikin orang tahu apa isi blog gue. Gue mulai edit-edit template dan design buat blog, beginilah hasil awalnya.

FullSizeRender 2

ini tampilan header awal indolawas

Gue pun mulai posting konten blog. Dan kaset pertama yang gue review adalah album fenomenal soundtrack BADAI PASTI BERLALU. Gue udah lupa kenapa album ini yang terpilih jadi postingan pertama. Sepertinya sih karena gue ngerasa kalau album ini adalah salah satu album terbaik Indonesia sepanjang masa. Postingan itu tertanggal 14 April 2007.

FullSizeRender

Postingan pertama Indolawas : Album Badai Pasti Berlalu

Gue terus posting materi-materi review, tapi sejauh itu belum berani share ke siapa-siapa karena merasa gak pede hahaha… Gue pun otak-atik template design beberapa kali.. Dan sekitar sebulan setelah posting pertama, gue baru berani share link indolawas ke sosmed dan milis lapanpuluhan.

Sambutannya ternyata di luar dugaan gue. Banyak yang suka dengan materi blog gue. Akhirnya guepun keranjingan buat terus update. Sejalan dengan itu, gue pun terus hunting kaset jadul sebagai bahan buat gue review, karena konten indolawas memang harus kaset yang benar-benar gue punya.

Gue menikmati saat-saat gue hunting kaset jadul, gue dengerin lagi lagu-lagunya, gue inget-inget lagi memori tentang story behind the album, terus gue review dan posting di indolawas. Antusiasme para pembaca juga bikin gue makin getol update. Jumlah pengakses semakin hari semakin naik. Tapi gue tetep gak kepikiran kalau blog ini bisa bertahan cukup lama, meskipun ada masa gue berbulan-bulan gak update saat gue hectic dengan pekerjaan.

Dan 10 tahun usia indolawas, sampai gue bikin tulisan ini, blog indolawas sudah diakses sebanyak 5.907.440 kali. Kalo dibagi 10 tahun berarti setiap harinya sekitar 1.600 kali diakses. Lumayan lah 🙂

Screen Shot 2017-05-02 at 5.47.38 PM

Statistik blog Indolawas saat tulisan ini dibikin

Mudah-mudahan gue tetep semangat buat update blog ini, secara blog-blog sejenis yang waktu itu bareng-bareng muncul sudah pada gak aktif lagi.

Thanks buat yang rajin buka indolawas…

Perjuangan Setahun Sekali

Lebay gak sih judulnya 🙂

Iya, setahun sekali emang gue ‘berjuang’. Tepatnya mulai 3 bulan sebelum lebaran. Yap. Yang gue maksud adalah ‘berjuang’ mendapatkan tiket kereta mudik. Gue memang selalu mudik pake kereta, mengingat kalo mudik pake mobil atau bus atau apapun yang lewat jalur jalan raya sudah kebayang gimana macetnya yeekaan?  Dulu pas penjualan tiket kereta mudik masih manual di loket stasiun dan belum ada aturan semua penumpang harus duduk, gue gak pernah ribet ngurusin beli tiket mudik. Gue tinggal dateng ke stasiun pas mau mudik, dateng dini hari sehabis sahur terus ngantri panjaaaaang di depan loket. Dan biasanya jam 6 pagi gue baru dapet tiket TANPA TEMPAT DUDUK. Gak masalah yang penting keangkut meskipun sekitar 8 jam (waktu itu jalur kereta belom double track) gue harus berdiri sampai Purwokerto. Gak bisa dibilang nyaman pastinya, kadang kalo superpenuh itu kereta buat berdiri aja perjuangan banget. Tapi selalu ikhlas menjalaninya (prett..) jadi ya malah indah kalo dikenang sekarang hehehe…

Setelah PT KAI berbenah dan mengubah tata cara pembelian tiket dan mengatur jumlah penumpang kereta agar semuanya duduk, mulailah ‘perjuangan’ perburuan tiket dimulai. Di tahun pertama pemberlakuan, gue sempet kecele karena gak denger informasi kalau tiket tanpa tempat duduk itu udah dihapus. Jadinya gue datang ke stasiun dengan pedenya, dan voila… pas jatah tiket dengan tempat duduk habis, gue masih di jalur antrian yang lumayan panjang. Paniklah gue. Mana gue milih mudik mepet 1 hari menjelang lebaran. Gak mungkin gue nunda buat balik besoknya. Cari info nanya sana sini akhirnya gue putuskan untuk nyari kereta jurusan Tegal, dengan asumsi gue akan nyambung dari Tegal ke Purwokerto pake Bus. Setelah ngantri di loket dengan harap-harap cemas, alhamdulillah gue dapet juga itu tiket ke Tegal. Nyaman memang duduk di kereta sampai Tegal. Tapi pas dari Tegal ke Purwokerto naik bus… hadeeuuhhh… macetnya gilaaaa… kapok asli naik bus meskipun cuma dari Tegal ke Purwokerto 😦

Setelah itu, tahun-tahun berikutnya gue mulai berjuang mendapatkan tiket lewat online, karena memang akhirnya PT KAI ngejual tiket via online mulai 3 bulan sebelumnya. Beli via online ini kedengerannya simpel dan mudah ya, tinggal buka website, klik ini itu terus dapet nomor transaksi untuk pembayaran di ATM. Tapi bisa dibayangin lah ya ketika seluruh mudikers berebut ngebeli tiket via online pada saat yang sama. Segede-gedenya bandwith yang tersedia pastinya bakalan crash. Terbukti gue gak pernah sukses saat mantengin website PT KAI di saat penjualan tiket mulai. Jam 12 malem teng mendadak website gak bisa diakses. Terus dicoba sampe berjam-jam tetep gak bisa masuk. Pas giliran website bisa kebuka, tiketnya udah ludes 😦 . Tapi alhamdulillah, tiap tahun gue tetep bisa dapet tiket mudik. Biasanya gue mantengin itu website tiap hari walaupun udah habis. Berharap ada yang cancel tiket dan kembali available. Dan yes, ternyata taktik gue berhasil juga. Kadang pas gue ngecek, ada aja tiket sisa yang akhirnya gue beli. Meskipun ya memang gak bisa milih tanggal. Sedapetnya aja. Maka gak heran gue pernah dapet tiket untuk mudik pas malam takbiran jam 11, jadi gue nyampe Purwokerto subuh, gak sempet tidur karena langsung shalat Ied dan salaman keliling kesana-sini sampai sore. Alhasil tepar terkapar dari sore sampai tengah malam gak sempet kemana-mana lagi. Atau sempet juga gue kebagian tiketnya pas lebaran hari pertama jam 7 pagi. Paling menyebalkan ini. Gak sempet shalat Ied juga di Jakarta karena keburu kereta jalan. Udah gitu pas nyampe Purwokerto udah gak kebagian acara salam-salaman 😦

Tahun ini gue juga kembali berjuang. Seperti biasa gue tetep usaha mantengin website di jam 12 malem saat penjualan tiket dibuka. Dan kembali gue gak kebagian 😦 Justru pas gue iseng pagi-pagi buka website KAI buat nyari tiket arus balik, eh malah masih ada. Langsung gue sikat lah. Jadinya gue udah dapet tiket buat balik ke Jakarta setelah lebaran. Tapi tiket buat mudiknya malah belum dapet. Gue tiap hari buka website ngarepin ada tiket yang dicancel dan kembali available ternyata gak ada. Jadinya gue tinggal ngarepin penjualan tiket kereta tambahan yang biasanya dijual 2 bulan sebelum masa mudik.

Nah, biasanya kan penjualannya sesuai tanggal. Jadi kalau mau mudik dua hari sebelum lebaran, tinggal itung mundur aja 2 bulan maka tiketnya mulai dijual. Tahun ini pas gue iseng browsing, ternyata ada aturan baru. Semua tiket kereta tambahan dijual di hari yang sama, yaitu tanggal 16 April 2017. Whattt!!! Untung gue baca itu informasi. Kalo gak pasti gue bakalan kecele. Maka gue inget-inget itu tanggal 16 April yang untungnya hari Minggu. Gue niatin gue bakalan pantengin mulai jam 12 malem. Gue harus dapet tiket.

So, mulailah gue siapin 2 smartphone plus 1 laptop buat perburuan ini. Jaringan internet juga dipastiin lancar jaya. Masa sih dengan 3 alat perang ini gue gak bakalan dapet tiket. Jam 12.01 malem gue mulai gerilya… jreeeng… koneksi agak tersendat tapi lumayan setelah beberapa kali diulang, gak seperti tahun-tahun sebelumnya yang langsung hang gak bisa kebuka websitenya. Gue cek tiket kereta tambahan.. Woww… masih sisa ratusan kursi. Excited gila kan. Langsung gue klik sana sini. Isi data endebla-endebla. Tinggal konfirmasi terakhir. Dan… gubraaak… mendadak website gak bisa diakses. Huuuaaaaa…

Gue coba pake smartphone yang udah ada aplikasi KAI. Lebih simpel kan gue gak perlu isi nama alamat no KTP lagi. Tapiii… tetep aja endingnya sama. Di konfirmasi terakhir mendadak website hang 😦 begitu terus dengan menggunakan 3 senjata gue. Sama aja hasilnya. Sekitar jam 2 an gue nyerah. Jumlah tiket sisa juga makin berkurang. Gue pasrah. Gue akan coba lagi besok pagi. Kalopun keabisan, biarlah tahun ini mudik pake mobil. Biarlah macet-macetan. Ditambah gue udah ngantuk banget. Gue pun tidur. Ngambek.

Tetep gak bisa pules sodara-sodara…

Jam 4 akhirnya gue bangun lagi. Buka website lagi. Dan TIKET SUDAH LUDES. Guepun lemes. Gue cari di tanggal-tanggal mepet, bahkan malam lebaranpun ludes. Eh tapi pas gue refresh, tiba-tiba muncul lagi sisa tiket. Kadang 1, kadang 2. Langsung gue sikat. Tapi agaain… di konfirmasi terakhir website mendadak gak bisa diakses. Kampreeet… Adzan subuh gue berenti dan Shalat dulu. Sambil berdoa seperti biasa kaaan.. mudah-mudahan ada keajaiban. Kelar subuhan gue mulai lagi perburuan. Tetep berulang. Sisa tiket 1 atau 2 atau 3 yang bermunculan setelah di refresh, tapi di konfirmasi terakhir mendadak lenyap atau website gak bisa diakses.

Sampai pas gue udah bener-bener hopeless. Udah jam setengah 6 pagi. Tiba-tiba di konfirmasi terakhir KONEKSI NYAMBUNG… aaaaawww… mau lompat rasanya. Tetep masih harus ngeklik pilihan pembayaran kan ya.. sambil deg-degan gue pilih ATM, dan gue klik NEXT… daaaan… jreeeng… muncullah nomor transaksi…

Alhamdulillah… lega banget rasanya… akhirnya gue dapet juga tiket mudik untuk pemberangkatan 1 hari sebelum lebaran di jam 4 sore, which is itu hari Jumat dan gue masih sempet jumatan dulu kan 🙂 Dan ya sihh… buka puasa bakalan di kereta… tapi gak masalahhhh…

Jadi pengen cepet mudik… lah kan masih 2 bulan.. hahahaha…

Sepatu

Kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu…

Puitis banget lagunya TULUS kan ya.. tapi gue bukan lagi mau ngomongin lagu ini. Gue mendadak pengen bahas soal SEPATU ini.. iya.. sepatu yang dipakai di kaki. Gara-gara beres-beres kamar dan gue baru sadar bahwa gue ini hobi belanja sepatu, yang beberapa diantaranya bahkan belum pernah dipakai, atau baru dipakai sekali dua kali terus ngejogrok aja di rak sepatu sampai kemudian ketika mau dipakai lagi ternyata udah gak layak pakai.. hiiiksss..

Iyaaa.. beneran gue sakit hati banget.. ada sepatu yang gue anggap bagus (baca : mahal hehehe) dan memang jarang gue pakai karena ‘sayang’ kalo dipakai sehari-hari, giliran mau dipakai lagi untuk kesempatan khusus ternyata kondisinya memprihatinkan. Entah dari bahan apa itu sepatu, tapi pada mengelupas dan jelek banget. Mau gue keletekin semuanya biar ngelupas sekalian tapi yang ngelupas itu cuma sebagian, sebagian lainnya masih kuat dan gak bisa dikeletek.. 😦

Konon ini karena kesalahan pada penyimpanan. Apalagi semakin mahal sepatu kayaknya memang butuh penanganan ekstra. Sementara gue yang suka asal ini memang gak pernah bener-bener ngerawat. Tinggal taruh aja di rak, entahlah itu kondisi lembab atau malah kepanasan. Karena sepatu yang tiap hari gue pake -entah kenapa- cuma itu-itu aja yang selalu stand by di depan pintu dan gak masuk rak. Sepatu yang tiap hari dipakai adalah sepatu ‘biasa’ yang gue pikir kalau rusak gak bakalan bikin gue sakit hati. Anehnya justru sepatu yang sering dipakai ini malah awet. Sementara sepatu-sepatu lainnya yang gue anggap istimewa dan takut rusak kalau dipakai tiap hari malah terbengkalai, terjogrok manja di rak dan mungkin kesepian karena jarang dibelai dan dipakai sehingga sakit hati dan merusakkan diri sendiri.. halaaah…

Belajar dari kenyataan ini.. akhirnya gue berusaha untuk gak ‘sayang’ lagi make sepatu-sepatu yang selama ini lebih banyak disimpan. Daripada rusak karena didiemin, mending rusak karena sering dipakai kan ?