apa yang saya lihat, saya dengar dan saya rasa

itbJudul Album : ITB Menyanyi Bimbo
Artis : Band-Band Alumni ITB
Produser : Bambang Suryoatmono, Nugroho Tri Utomo, Toni P. Sianipar
Produksi : ITB Menyanyi Bimbo

Apa yang bisa dihasilkan oleh ikatan Alumni sebuah kampus ? Merujuk dari yang selama ini kerap dilakukan, biasanya Alumni semacam ini menghasilkan sebuah event, setidaknya membuat reuni akbar atau perhelatan musik tahunan, atau seminar, atau berbagai kegiatan lainnya. Tapi menghasilkan sebuah album rekaman profesional yang dikonsep, diproduksi dan dibawakan sendiri oleh para alumni, barangkali baru Ikatan Alumni ITB (Institut Teknologi Bandung) yang bisa. Tidak hanya di Indonesia, bahkan konon di duniapun baru pernah terjadi.

Adalah album berjudul ITB MENYANYIKAN BIMBO yang menjadi penanda dari kehebatan para alumni. Memang bukan sembarang alumni karena nama-nama yang tercantum di dalamnya bukan nama sembarangan. Dari deretan alumni yang terlibat ada nama TONI SIANIPAR dan FERINA (mantan Elfa’s Singers), PURWACARAKA, ERWIN BADUDU, CANDIL, DONNY SUHENDRA (Krakatau), ACHI (She), DAMON KOESWOYO (Kidnap Katrina) dan FARMAN PURNAMA, bahkan SAM BIMBO!

Di antara para alumni sendiri memang sudah kerap diadakan Festival Band Alumni ITB. Dari sini pulalah ide untuk membuat album rekaman mencuat, lantaran melihat band-band alumni itu kualitasnya tidak bisa dianggap remeh. Proyek rekaman bersama akhirnya diwujudkan dengan mengambil BIMBO sebagai ‘objek’ untuk digarap bersama. Bukan tanpa alasan pemilihan BIMBO ini. Selain SAM BIMBO yang juga alumni ITB sehingga lebih ‘mudah’ dalam hal perizinan, secara material Bimbo punya ribuan lagu dari ratusan album yang sudah dirilis. Disamping itu, lagu-lagu yang diusung Bimbo tidak hanya terpaku pada satu genre sehingga memudahkan bagi band-band yang memang lintas genre itu untuk mengintepretasikan sesuai karakter band.

Hasilnya ?

Ada 25 lagu BIMBO yang didaur ulang di album ini, dibawakan oleh band-band alumni dari era 60an sampai 2000an, plus Band Dosen, Karyawan dan Mahasiswa ITB, Paduan Suara Mahasiswa ITB, sampai kolaborasi lintas alumni yang menyajikan karya dalam karakter mereka masing-masing.

Berikut review berdasarkan track list :

1. CITRA – THE LAST EIGHTIES
Track dibuka oleh lagu yang sempat juga menjadi hits besar saat dinyanyikan dalam irama bossanova oleh RAFIKA DURI. Lewat tampilan THE LAST EIGHTIES, lagu ini tampil segar dalam warna classic disco ala 80an. Pas menjadi track pembuka.

2. NELAYAN TUA – MIGHTY EIGHTY
Versi asli lagu ini dibawakan secara akustik oleh Bimbo dengan menghanyutkan. Nuansa akustik tetap dihadirkan oleh MIGHTY EIGHTY yang menafsirkan lagu NELAYAN TUA dalam balutan nuansa musik India, klop dengan intepretasi FERINA sang vokalis yang membawakannya penuh penghayatan. Fresh sekaligus unik.

3. DI ATAS JEMBATAN SEMANGGI – GEN81
Lagu aslinya sempat dituding ‘menjiplak’ BOHEMIAN RHAPSODY milik QUEEN gara-gara sebaris melodi yang memang sama persis notasinya plus harmonisasi vokal mereka yang memang nyerempet-nyerempet di lagu ini. Uniknya, GEN81 justru tidak mencoba menghilangkan bagian yang mirip itu, meskipun di bagian lainnya justru dibawa lebih ngerock.

4. BUKIT BUKIT SUNYI – ERWIN BADUDU & FARMAN PURNAMA feat. SAM BIMBO
Ini adalah salah satu lagu Bimbo yang mempunyai aura magis. Materi lagu dan aransemen serta intepretasi mereka sudah terdengar megah. Oleh ERWIN BADUDU, lagu ini diaransemen ulang dengan gaya orkestrasi yang grande, plus suara tenor FARMAN PURNAMA berhasil menghidupkan nyawa lagu. Dan meskipun berbeda karakter, paduan vokal bersama SAM BIMBO terhitung pas.

5. ABANG BECA – BALAD 82
Lagu ABANG BECA terhitung lagu Bimbo yang ringan dan masuk dalam katagori lagu yang mereka sebut sebagai ‘Indonesia Antik’. Oleh BALAD 82, lagu ini dibawakan ulang dengan nuansa etnik sunda dan sentuhan keroncong.

6. TAJAM TAK BERTEPI – LASKAR 79
Lagu hasil tulisan IWAN ABDURACHMAN ini memang sudah keren dari sananya. Bimbo telah berhasil membawakannya dengan warna mereka yang khas. Sebuah twist dilakukan dengan cerdik oleh LASKAR 79 yang mengintepretasikan lagu ini dalam warna slow swing yang tenang menghanyutkan.

7. ROMANTIKA HIDUP – BAND ITB 60-AN
Sebuah lagu Bimbo yang bertema kritik sosial tanpa kesan menggurui. Versi aslinya sangat ngetop di era 80an dan asyik terdengar dalam balutan aransemen bernuansa salsa. Saat dibawakan ulang oleh BAND ITB 60-AN, lagu ini dirombak menjadi bernuansa dixie dengan tempo yang lebih lambat.

8. BALADA SEORANG BIDUAN – BANDOS ITB
Lagu aslinya terdengar sangat menyentuh. Nuansa Balada yang menjadi daya pikat Bimbo terdengar kuat. Oleh BANDOS ITB, lagu ini dirubah nuansanya menjadi lebih bertenaga, dengan beat yang lebih cepat dan dinamis.

9. PELABUHAN HATI – PADUAN SUARA MAHASISWA ITB
Satu lagi lagu yang sangat khas Bimbo. Versi aslinya tampil megah dengan harmonisasi vokal yang keren. Memang pas untuk dibawakan sebuah kelompok paduan suara. Dengan aransemen baru yang menunjang, PADUAN SUARA MAHASISWA ITB berhasil membawakan lagu ini dengan nuansa berbeda tapi tetap keren.

10. KUMIS – BABY EATS CRACKERS
Lagu yang sangat catchy ini sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat. Beberapa kali dirilis ulang oleh penyanyi lain dan tetap sukses. BABY EATS CRACKERS membawakan kembali lagu ini dengan tidak jauh berbeda, hanya saja secara aransemen mereka lebih terdengar modern, plus imbuhan permainan violin yang mempermanis lagu.

11. MELATI – MUSICOLOGY
Ini juga lagu yang sangat ngetop dari Bimbo. Versi aslinya sangat syahdu, dan MUSICOLOGY memberi nuansa baru dengan memasukkan sedikit unsur rock.

12. SALJU – ASRI HARDJAKUSUMAH
Asri Hardjakusumah (Achi), pemain violin dari kelompok musik SHE mencoba tampil beda di lagu ini. Tidak hanya mengaransemen tapi juga bernyanyi, meskipun menurutnya itu adalah hal yang sangat susah mengingat dirinya yang bukan penyanyi. Tapi Achi berhasil menunjukkan kalau dia juga bisa bernyanyi. Lagu SALJU versinya terdengar kekinian dan potensial hits. Salah satu lagu yang kuat di album ini.

13. PENGGALI KUBUR – UNFORGETTABLE PIRATES OF 87
Sebuah keberanian sendiri membawakan lagu bernuansa ‘mistis’ dengan judul yang tidak lazim. Tapi secara materi, lagu PENGGALI KUBUR ini memang unik dan mempunyai makna yang dalam. UNFORGETTABLE PIRATES OF 87 menyajikan ulang lagu ini dengan groovy dan berhasil ‘menghilangkan’ nuansa mistisnya. Keren.

14. CEMPAKA KUNING – BANDIT B76
Sebuah intepretasi yang cukup unpredictable dari BANDIT B76. Mengingat personelnya adalah alumni angkatan tahun 1976, mungkin kita akan menganggap mereka akan mengintepretasi lagu CEMPAKA KUNING sesuai ‘zaman’ mereka. Ternyata mereka justru tampil dalam warna kekinian. Lagu yang aslinya syahdu diadaptasi menjadi lagu bernuansa Hiphop, lengkap dengan rap dan dubstep, meskipun suara sang vokalis justru terdengar mirip vokalis aslinya.

15. CINTA KILAT – PURWACARAKA & CANDIL
Dua nama kondang ini berkolaborasi menyajikan ulang lagu kocak yang tergolong alltime hits. Lewat tenggorokan Candil, sudah pasti lagu ini jadi bernuansa rock, dan sepertinya Purwa memang memberikan ruang seluas-luasnya untuk Candil bereksplorasi lewat aransemen musik yang simpel.

16. FLAMBOYAN – TECHNOART
Versi asli lagu ini sangat kuat, dibawakan dengan penghayatan tinggi dan terdengar menggetarkan. Memang susah mengutak-atik lagu yang sudah sangat kuat melekat di masyarakat. Dan TECHNOART mencoba tetap mengambil nuansa asli lagu ini lewat balutan aransemen bernuansa orkestra yang grande.

17. JUMPA UNTUK BERPISAH – GO BAND
Ini juga tergolong lagu yang paling populer dari Bimbo. Versi aslinya dinyanyikan dengan harmonisasi yang keren dan syahdu. GO BAND mengaransir ulang lagu ini dengan format band kekinian dengan warna rock yang kental. Beda dan cukup berhasil.

18. BUNGA SEDAP MALAM – G75
Sebuah intepretasi yang cukup asyik dari G75 atas lagu yang versi aslinya dibawakan IIN PARLINA dengan suaranya yang mendesah. Versi G75 tampil lebih bertenaga, tetap menggemaskan tanpa harus ‘mendesah’. Good Job.

19. ANTARA BOGOR DAN CIANJUR – COOL BEAT 88
Lagu yang sarat kritik sosial ini versi aslinya dibawakan Bimbo dengan warna country ballad, pas dengan kebutuhan lagunya. COOL BEAT 88 mencoba menafsir ulang lagu ini dengan aransemen yang lebih padat beat yang lebih cepat.

20. AKU SAYANG PADAMU – 9.1 ONE
Sebuah lagu yang unik dari Bimbo. Versi aslinya bernuansa pop rock tapi tetap dibawakan dengan harmonisasi vokal khas Bimbo. Oleh 9.1 ONE konon lagu ini sempat dicoba untuk diaransemen dengan gaya Funk, New Age bahkan R&B tapi dirasa belum pas. Akhirnya warna blues-lah yang dipilih untuk membawakan ulang lagu ini dan ternyata memang pas.

21. MELATI DARI JAYAGIRI – DELIMA
Satu lagi alltime hits milik Bimbo yang sudah sangat lekat di benak masyarakat. Tidak heran kalau DELIMA juga tidak jauh beranjak dari versi aslinya. Mengandalkan denting gitar dan harmonisasi vokal seperti versi aslinya, Delima menambahkan bebunyian flute sebagai pemanis.

22. TANTE SUN – BAND EIT-TI-SIX
Lagu jenaka yang ringan ini coba dihadirkan beda oleh BAND EIT-TI-SIX dengan menggubahnya menjadi bernuansa pop rock. Terdengar segar dan berbeda tanpa kehilangan ‘roh’ lagunya.

23. HUJAN DI POLONIA – NINETY GROOVY FUNKY FIVE
Hentakan gendang dan sambaran musik bernuansa batak di intro awal lagu HUJAN DI POLONIA versi NINETY GROOVY FUNKY FIVE ini saja sudah terdengar catchy. Terlebih saat harmonisasi vokal terdengar disusul suara saxophone dan akustik gitar yang nge-jazz, membalut keseluruhan aransemen yang bernuansa groovy etnik. Terdengar jauh berbeda dengan versi aslinya tapi tetap asyik disimak.

24. SENANDUNG RINDU – THE FOLKSTORY
Sesuai dengan nama band-nya THE FOLKSTORY, mereka menafsir ulang lagu SENANDUNG RINDU dengan nafas folk yang kental. Terdengar beda dengan versi aslinya tentu saja. Lebih modern dan kekinian. Mantap.

25. SENDIRI LAGI/ADINDA – THE 8EST4RS
Dua lagu ciptaan TITIEK PUSPA ini coba di mash up oleh THE 8EST4RS. Menghadirkan 4 vokalis tenor, lagu ini dibalut dengan aransemen bernuansa orkestrasi.

Sebagai sebuah tribute, album ini terhitung berhasil menampilkan musik BIMBO yang kaya warna. Masing-masing penampil mencoba tampil dengan gaya masing-masing dan sebagian besar cukup berhasil. Memang tidak semua vokalis yang bernyanyi di album ini adalah penyanyi ‘beneran’ sehingga ada beberapa yang terdengar kurang pas. Tapi itu semua bisa dimaafkan karena tujuan awal dibuatnya album ini memang untuk kalangan sendiri, bukan untuk kepentingan komersial.

Ibarat gado-gado yang terdiri dari berbagai jenis sayuran, album ini adalah gado-gado yang bergizi dan menyehatkan. Sukses. Semoga album ini bukan yang pertama dan terakhir, karena masih banyak musisi dan band legendaris Indonesia yang karya-karyanya juga pantas dibuat album tribute.

Satu lagi, album ini pantas dirilis untuk umum agar semua kalangan bisa menikmati. Sayang kalau album sebagus ini hanya beredar di kalangan internal🙂

mengejar-mengejar-mimpiJudul Buku : Mengejar-Ngejar Mimpi, Diary Kocak Pemuda Nekat
Penulis : Dedi Padiku
Tahun Rilis : 2014
Publisher : Asma Nadia Publishing House

Setiap orang mempunyai mimpinya masing-masing. Bedanya adalah, ada yang hanya menyimpan mimpinya, ada yang sempat berupaya tapi surut setelah tahu menggapai mimpi tidak semudah ‘bermimpi’, tapi ada juga yang dengan gagah berani terus berupaya mengejar mimpi ; pantang berhenti sebelum impian menjadi nyata. DEDI PADIKU boleh jadi masuk di katagori ketiga, setidaknya itulah yang tergambar ketika membaca buku pertamanya MENGEJAR-NGEJAR MIMPI, DIARY KOCAK PEMUDA NEKAT ini.

Impian Dedi mungkin sederhana : menjadi penulis. Di jaman seperti sekarang ini sepertinya menjadi penulis tidak lagi ‘ribet’ seperti era sebelumnya. Di masa lalu, menerbitkan buku membutuhkan proses yang tidak mudah. Selain publisher terbatas, mereka juga sangat selektif dalam menerbitkan karya tulis seseorang yang belum dikenal. Sementara jaman sekarang, teknologi internet telah memungkinkan seseorang menjadi penulis melalui blog, bebas menuliskan apa saja tanpa takut karyanya ‘disetir’ oleh publisher atas nama pasar. Kemudahan juga memungkinkan seseorang menerbitkan bukunya sendiri secara indie tanpa campur tangan publisher. Tapi memang, berhasil menerbitkan buku yang dipublish oleh major publisher seperti punya gengsi tersendiri.

Buku ini -seperti judulnya- memang ditulis dengan gaya bertutur layaknya menulis diary. Dibagi dalam 2 chapter, bagian pertama menceritakan kisah semasa SMK sementara bagian kedua menceritakan pengalaman Dedi selepas SMK. Cerita dutulis secara runtut, menampilkan bagaimana Dedi berupaya mengejar mimpinya dari kota asalnya Gorontalo, kemudian ke Palu, Manado, Makassar dan berakhir di Jakarta.

Yang menarik dari buku ini adalah perjuangan Dedi itu sendiri dalam mengejar mimpinya menjadi penulis. Ada hal-hal tidak terduga yang telah dialami Dedi saat mengejar mimpinya (terutama saat dia nekat pergi ke Jakarta). Apa yang dialami Dedi di Jakarta mungkin banyak dialami juga oleh mereka yang nekad merantau ke Jakarta tanpa tujuan jelas, dari menggelandang di Monas, menjadi kuli bangunan, ditawari menjadi gigolo bahkan hampir direkrut menjadi teroris! Mungkin banyak dari mereka yang mengalami nasib lebih ‘tragis’ dari Dedi saat datang ke Jakarta, tapi di tangan Dedi, kisah itu bisa ditampilkan dengan kocak dan penuh inspirasi.

Dedi berhasil menampilkan sosoknya di buku ini dengan karakter yang lugu, naif, kocak sekaligus positive thinking. Culture shock yang dialaminya di Jakarta digambarkan tanpa ‘malu’ seperti pengalaman pertamanya mengonsumsi tablet vitamin C Effervescent. Alih-alih mencampurnya dengan segelas air, Dedi langsung memasukkan tablet itu ke mulutnya. Bisa dibayangkan ? hehehehe…

Hanya saja, kepolosan dan keluguan ini menjadi agak ‘kontradiktif’. Dedi menulis dengan gaya penulisan yang cerdas, dengan istilah-istilah yang cukup keren, sementara dirinya digambarkan naif dan polos, yang bahkan di bagian kata pengantar dari ISA ALAMSYAH disebutkan sangat jelas kepolosan Dedi menyebut DESIGN dengan DESING, atau SIDE BAR yang disebut SI DEBAR. Boleh jadi buku ini memang sudah melalui proses editing sehingga gaya bertuturnya menjadi berubah.

Apapun, buku ini layak dibaca. Segar sekaligus inspiratif. Tidak heran kalau dalam waktu dekat buku ini akan diadaptasi ke layar lebar. Ceritanya sendiri sudah sangat filmis. Bakal bisa menjadi sesuatu bila ditangani oleh sineas yang tepat.

Mudik Lebaran 2015

Seperti tahun-tahun sebelumnya, lebaran berasa gak lengkap kalo gak mudik. Seumur-umur gue hanya sekali gak mudik, dan beneran berasa mati gaya gak tau mau ngapain. Alhasil tour dari mall ke mall, gak ada kesan sama sekali. Makanya gue usahain setiap tahun mudik meskipun penuh perjuangan.

Sekarang-sekarang ini sih perjuangan sudah tidak begitu ‘keras’ dibandingkan 4-5 tahun lalu. Dulu kalo mudik naik kereta berarti harus bersiap untuk berdiri sepanjang perjalanan kereta yang ditempuh 8 jam ke Purwokerto. Kenapa ? karena walaupun sudah dapat tiket tapi belum tentu dapat kursi, secara tiket yang dijual itu jauh melebihi kapasitas tempat duduk. Beruntunglah sejak PT. KAI dibenahi, sekarang tiket yang dijual benar-benar sesuai jumlah tempat duduk, sehingga mudik lebih nyaman. Resikonya, berebut tiket online sekarang yang menjadi penuh perjuangan karena yaaa gitu deeeh…

Iseng aja motret keluarga kecil yang mau mudik di Stasiun Gambir. They're look so happy..

Iseng aja motret keluarga kecil yang mau mudik di Stasiun Gambir. They look so happy..

Tahun ini gue dapet tiket mudik pas malem lebaran, sama kayak tahun lalu. Malah lebih hits karena tahun lalu gue masih dapet kereta pemberangkatan jam 9 malam, tahun ini gue dapet kereta GAJAYANA yang berangkat jam setengah duabelas malem!! Apapun yang penting nyampe Purwokerto sebelum shalat ied, secara apalah guna mudik tanpa shalat ied yeeekaaan… Naik kereta cukup nyaman secara kereta eksekutif ya.. dapet selimut karena AC nya dingin banget ternyata. Perjalanan ditempuh 5 jam saja, lancar tanpa hambatan. Jam setengah 5 pagi gue udah bisa leyeh-leyeh manja di rumah. Tapi tentu gak mungkin tidur secara sebentar lagi shalat ied kan, jadi ya udah ngobrol-ngobrol aja sama keluarga walaupun ngantuk berat secara di kereta gak bisa tidur.

Kita shalat ied di alun-alun Purwokerto. Cukup jalan kaki ke alun-alunnya karena emang deket banget dari rumah. Sampe alun-alun udah penuh… dan entah kenapa jumlah jamaah perempuan banyaaaak banget… kita sampe kesulitan nyari shaf buat shalat, akhirnya dapet di tengah dan paling belakang pula. Sepanjang hidup gue (kecuali pas gak mudik yang sekali itu), gue selalu shalat ied di tempat ini. Suasana shalat ied di alun-alun ini adalah salahsatu yang paling gue rindukan saat lebaran.

Suasana abis shalat ied, lagi dengerin khutbah.. gue kebagian baris paling belakang

Suasana abis shalat ied, lagi dengerin khutbah.. gue kebagian baris paling belakang

Kelar Shalat ied langsung balik dan makan ketupat opor plus rica-rica mentok, ini makanan khas di keluarga gue yang sepertinya hanya bisa didapatkan saat lebaran. Abis itu salaman keluarga besar, ngobrol ngobrol hahahihi seru-seruan, bagi-bagi angpau, ziarah ke makam bokap nyokap, mampir ke rumah baru kakak gue di Mersi, balik lagi ke rumah… tidurrrr… finally.. setelah sejak dari shalat ied badan udah berasa jadi zombie karena ngantuk berat.

Gitu aja sih cerita lebaran hari pertama. Hari-hari berikutnya diisi jalan-jalan, belanja dan wisata kuliner… ini beberapa tempat yang gue kunjungi pas mudik kemaren…

1. RUMAH BATIK ANTO DJAMIL

salahsatu sudut RUMAH BATIK ANTO DJAMIL. Gelaran karpet mempermudah saat memilih bahan.

salahsatu sudut RUMAH BATIK ANTO DJAMIL. Gelaran karpet mempermudah saat memilih bahan.

Udah dari sejak lama gue pengen nyari-nyari Batik khas Banyumas kalo mudik tapi gak pernah kesampean. Kemaren ini gara-gara gak sengaja malah akhirnya mampir ke sentra batik Sokaraja di daerah Kauman. Di daerah ini ada beberapa toko batik, tapi gue mampir ke toko yang paling kondang yaitu RUMAH BATIK ANTO DJAMIL. Gue kayak nemuin ‘surga’ pas masuk kesini. Memang sih ‘surga’ utama gue tetep Pasar Klewer, tapi disini gue juga nemu banyak batik-batik keren yang bikin pusing karena pengen semuanya hahaha… Disini ada baju-baju batik yang udah jadi, ada juga bahan-bahan batik yang justru menjadi jualan utama. Harga yang ditawarkan juga lumayan reasonable, variatif pula harganya.. dari bahan batik seharga 50 ribu sampai jutaan rupiah ada disini.

Setelah berdebat dan perang batin yang cukup pelik, akhirnya gue ambil 3 potong bahan batik banyumasan, warna hitam-gold, hitam-fuschia, dan merah. Sebenarnya masih banyak yang pengen diambil tapi harus menahan diri secara bisa jebol kantong gue. Tapi ternyataaa… pas nyampe kasir ternyata kakak gue yang bayarin. hadeeeuuuhh… tau gini kan gue ambil banyaaak hahahaha…

2. SROTO KECIK SOKARAJA

ini penampakan SROTO SOKARAJA. hmmmm...

ini penampakan SROTO SOKARAJA. hmmmm…

SROTO SOKARAJA adalah tempat wajib yang ‘harus’ gue kunjung saat pulang mudik. Memang sih di Purwokerto banyak juga yang menjual Sroto, termasuk yang legend kayak SROTO JALAN BANK yang juga enak banget. Tapi rasanya belum mantap kalo belum datang langsung ke pusatnya Sroto di Sokaraja. Ada banyak kedai Sroto disini, berderet sepanjang jalan bersisian dengan kedai GETUK GORENG yang juga berderet-deret. Jaman gue kecil, di tempat yang sama juga berderet pedagang lukisan yang menjajakan dagangannya di trotoar. Entah sejak kapan para pedagang lukisan itu menghilang, gue baru menyadari kemaren pas kesini. Tidak ada satupun pedagang lukisan terlihat, padahal dulu sepertinya menjadi icon disini.

Tadinya kita mau makan di SROTO SUTRI yang katanya lagi hits disini. Ternyata nih Sroto emang bener-bener lagi hits ya.. kita dateng sore ternyata udah sold out di dua outletnya, dua-duanya habisss.. akhirnya kita kembali ke selera asal, makan di Sroto Kecik yang emang udah legend, udah eksis dari jaman gue bayi. Rasanya masih tetep enak kalo menurut gue. Sambel kacangnya pedes mantap. Plus ketupat dan mendoan hangat bikin gue keingetan dan pengen makan lagi SEKARANG😦

Bagi orang di luar daerah Banyumas, Sroto adalah sejenis Soto. Tapi Sroto lebih rame karena kontennya banyak. Ada bihun, kecambah ijo (toge dari kacang hijau), daun bawang, krupuk warna-warni, daging ayam/sapi/babat, plus ketupat. Yang khas adalah sambalnya. Sambal kacang (mirip sambal pecel) membuat kuah jadi kental dan legit. UEEENAAAK pokoknya dehh..

3. BAKSO PEKIH

Penampakan Bakso Pekih, lengkap dengan tetelan. Sayangnya saos tomat merah juara itu kemaren gak ada :(

Penampakan Bakso Pekih, lengkap dengan tetelan. Sayangnya saos tomat merah juara itu kemaren gak ada😦

Di Purwokerto ada banyak kedai Bakso yang terkenal, tapi hanya BAKSO PEKIH lah yang selalu gue datengin setiap mudik, dan selalu gue rekomendasiin setiap ada temen yang ke Purwokerto. Dari jaman lokasinya masih di ujung jalan pekih, bangunannya masih sederhana, kemudian pindah ke jalan pekih bagian depan dengan bangunan yang lebih representatif, lebih lebar dan memuat banyak pelanggan.

Yang membuat bakso pekih ini enak adalah kuahnya, juga tetelannya. Sebagai pelengkap, gue paling suka saos tomat yang warna merahnya juara.. boleh jadi pake pewarna tekstil deh.. merah menyala.. tapi sepertinya gak lengkap kalo gak pake saos yang ini. Biarlah cuma setahun sekali makan pewarna tekstil hahaha…

Tapi sayangnya, pas gue kesini kemaren saos tomat itu malah gak ada😦 jadinya gue pake saos sambal biasa itu. Dan emang rasanya jadi beda.. boleh jadi justru rasa saos tomat itu yang bikin gue tergila-gila hahahaha… nggak sih emang enak bakso pekih..

4. RUJAK BELONG

Ngeliat fotonya aja gue udah ngileer... pengen lagiii :(

Ngeliat fotonya aja gue udah ngileer… pengen lagiii😦

Satu lagi tempat kuliner legend di Purwokerto. Terletak di jalan Situmpur, deket banget sama Mall MORO, sebelahan sama toko oleh-oleh ASLI yang juga legend. Rujak disini bukan rujak ala-ala tukang rujak gerobak dorong di Jakarta yang penyajiannya hanya dipotong-potong terus disiram kuah sambal. RUJAK BELONG menyajikan rujak yang sambal dan potongan buahnya diracik jadi satu, diuleg, dan kita bisa memilih sendiri seberapa pedas karena sambalnya memang dibuat langsung.

Gue sebenarnya lebih suka RUJAK KANGKUNG, tapi ternyata pas gue kesini agak sorean rujak kankung udah sold out, jadinya gue pesen rujak buah yang juga gak kalah enak. Bumbunya legit, rasanya pas, buahnya juga segar, enak banget dahhh pokoknya…

Sebenernya masih banyak tempat yang pengen gue datengin, tapi sayang waktu terbatas. Bahkan gue gak sempet ke alun-alun pas malem-malem, jadi gak bisa liat air mancur hits yang lightingnya berubah-ubah dan sekarang lagi jadi tempat orang-orang selfie itu…

Ntar deh kapan-kapan… mudah-mudahan bisa balik ke Purwokerto dalam rangka liburan… bukan pas mudik🙂
Aamiin…

Legenda Rajawali..

Bagi anda yang mendambakan..
Kenyamanan dan kepuasan..
Dalam menikmati sebuah film
Kini dapat anda wujudkan di Rajawali Theatre
Rajawali Theatre selalu menyajikan film-film bermutu
Rajawali Theatre dengan Dolby Stereo System
Dan central AC..
Dambaan mereka yang berselera tinggi
Selalu tahan gengsi…

Gak tahu kenapa lagu itu tiba-tiba muncul dalam alam ingatan gue dan gak bisa hilang sejak tadi sore. Ya, jangan sedih kalo gak tahu itu lagu apaan karena memang sifatnya sangat lokal. Tapi bagi gue, dan mungkin semua orang yang mengalami masa 80-90an di Purwokerto, yang pernah nonton film di RAJAWALI THEATRE, pasti pernah denger lagu itu. Yap, sebelum film diputar, saat lampu sudah mulai meredup, intro lagu dengan aransemen sederhana itu akan muncul, dan suara laki-laki yang menyanyikan lagu itu akan terdengar. Karena gue suka nonton, dan walaupun jarang nonton di Rajawali karena harga tiketnya tergolong mahal untuk ukuran gue waktu itu, tapi karena lagu itu sedemikian ‘kuat’ menancap di otak gue, maka gak heran kalau gue masih apal SAMPAI DETIK INI.

ratapan-anak-tiri-lirik-lagu-anakGue masih inget pengalaman pertama gue berkenalan dengan sebuah tempat bernama BIOSKOP. Saat itu gue diajak nonton film paling hits di masa itu berjudul RATAPAN ANAK TIRI. Sore-sore udah mandi wangi dan berbedak putih, gue digandeng nyokap memasuki GARUDA THEATRE, Sebuah bioskop yang terletak di dekat Alun-Alun Purwokerto. Gue masih kecil banget, tapi masih jelas terekam kejadian saat itu. Gue excited saat diajak nonton karena it was my first time. Tapi saat langkah gue masuk ke gerbang bioskop gue mendadak ciut. Posisi gedung Garuda Theatre agak jauh dari jalan utama, melewati gerbang dan jalan menurun sekitar 150 meter. Di sisi kanan kiri setelah gerbang itu terpasang gambar lukisan film ukuran besar, dengan gambar kepala pemainnya yang tentu saja sangat besar untuk ukuran gue yang masih berumur 3 tahunan. It was a nightmare. Gue ketakutan ngelihat gambar-gambar itu dan nangis minta pulang. Batal acara nonton RATAPAN ANAK TIRI.

film jadul TIADA SEINDAH CINTAMUSetelah ‘tragedi’ itu, gue tetap dicoba untuk dibawa ke bioskop, dan kali ini gue dibawa ke SRIMAYA THEATRE. Karena di Srimaya tidak ada gambar-gambar ukuran raksasa itu maka gue kalem, sukses masuk untuk menonton sebuah film berjudul SEINDAH CINTAMU. Ya. Ingatan gue luarbiasa keren sampai ingat judul film pertama yang gue tonton di Bioskop. Memang gue gak inget ceritanya apa, lagian karena saat itu diajak nonton malem, maka saat film baru diputar beberapa menit gue udah ngantuk dan tidur. Tapi setidaknya saat pertama lihat layar besar, cahaya dari proyektor memantulkan gambar dan suara, gue benar-benar takjub. Dan setelah itu gue benar-benar jatuh cinta pada film. Film Indonesia.

Setelah gue masuk SD dan udah mulai bisa jalan sendiri kemana-mana, Bioskop adalah salahsatu tempat wajib yang gue kunjungi. Bukan untuk nonton film karena gue gak punya duit tentunya, tapi gue sangat suka liat-liat poster film. Mengamati judul, Sutradara, para aktor dan aktris yang tercantum di poster film, plus photo still adegan-adegan yang terpampang disana sudah membuat gue cukup puas. Pulang sekolah biasanya setelah ganti baju dan makan siang, gue mulai jalan. Yang paling sering adalah ke NUSANTARA THEATRE karena terhitung paling deket sama rumah gue. Jalan kaki melewati rel kereta api melintasi Stasiun Timur Purwokerto, gue akan sampe ke Nusantara Theatre, setelah lihat-lihat poster film, gue akan langsung ke NUSANTARA MUSIC CASSETTE, toko kaset di sebelah bioskop. Disana gue akan lihat-lihat kaset-kaset terbaru. Ya. Film dan Musik memang sudah jadi kecintaan gue dari kecil.

Bioskop Nusantara di era 80an. Foto koleksi Puskom UNSOED

Bioskop Nusantara di era 80an. Pada zaman dulu bioskop ini bernama ELITA. Foto koleksi Puskom UNSOED

Saat itu di Purwokerto ada 6 Bioskop dengan target market yang terbagi dua : menengah atas dan menengah bawah. Untuk kalangan menengah atas ada bioskop NUSANTARA, PRESIDENT dan RAJAWALI. Sesuai dengan segmen yang dituju, harga tiket di bioskop-bioskop ini terhitung mahal. Selain itu secara fisik dan fasilitas bioskop-bioskop ini dilengkapi AC dan tata suara Dolby Stereo, kecuali Nusantara yang tidak ber-AC dan Tata Suara Dolby, maka harga tiketnyapun lebih murah dibandingkan President dan Rajawali. Film-film yang diputar tergolong film-film baru.

PRESIDENT

President Theatre era 80an, Gedung besar di sebelahnya adalah gedung Istana Olahraga (ISOLA). Saat ini baik ISOLA maupun President Theatre sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan. Foto Koleksi Puskom UNSOED

Untuk segmen menengah ke bawah ada bioskop NEW KAMANDAKA, SRIMAYA dan GARUDA. Film-film yang diputar bukan film yang baru rilis, mungkin sudah sebulan atau dua bulan sebelumnya diputar di Nusantara Cs. Harga tiketpun lebih murah, tapi tentu saja dengan fasilitas yang minim semacam toilet yang kumuh dan baunya yang semerbak. Kecuali New Kamandaka yang masih satu kompleks dengan President, gedung dan fasilitas terhitung lebih baik, bahkan lebih bagus dari Nusantara sebenarnya tapi entah mengapa Kamandaka diarahkan menjadi bioskop kelas dua.

SRIMAYA

Bioskop Srimaya awal 90an. Saat diambil gambarnya, Bioskop ini sudah tidak beroperasi. Tidak lama setelah ini, Gedung direnovasi dan berubah fungsi menjadi dealer motor. Pada zaman dulu bioskop ini bernama GLORIA. Foto koleksi Puskom UNSOED

Di akhir 80an muncul lagi bioskop keren bernama DYNASTI yang terletak di area Hotel Dynasti. Bioskop ini mengusung konsep cineplex dengan 3 studio. Pada perkembangannya, RAJAWALI juga berkembang menjadi cineplex. Awalnya satu studio dengan kapasitas 1000 orang yang kemudian dibagi dua sehingga memiliki dua studio, lalu kemudian menambah lagi bangunan sehingga memiliki 4 studio.

Bioskop Rajawali Cinema Purwokerto Siang

Rajawali Theatre era 2000an, masih tetap bertahan sampai sekarang. Foto koleksi Pinoci.Net

Gue lebih sering nonton di Garuda, murah meriah. Banyak film yang gue tonton disini, mulai dari film-film WARKOP DKI, Film-film anak-anak era IRA MAYA SOPHA, RIA IRAWAN, DINA MARIANA dan KIKI SANDRA AMELIA, sampai film-film MERIAM BELLINA, PARAMITHA RUSADY dan sebagainya. Bayar ? TENTU TIDAK !! Lho.. koq bisa ??? Bisa laaah… Secara kondisi gue saat itu gak memungkinkan untuk sering-sering nonton, gue menemukan ‘peluang’ lain untuk bisa nonton. Karena sering main ke Garuda, gue jadi sering mengamati kalau tukang sobek karcis disana kurang teliti sehingga anak-anak kecil suka menerobos masuk ke dalam tanpa diketahui. Temen-temen gue suka melakukan cara ini, istilahnya saat itu adalah ‘nerombol’. Meskipun banyak yang sukses, tapi ada juga yang ketahuan dan akan digelandang lalu diinterogasi macam-macam. Gue gak cukup nyali untuk ‘nerombol’ karena kalau ketahuan pasti orangtua dipanggil ke Garuda. Serem. Maka gue berusaha mencari jalan sendiri untuk bisa nerombol dengan ‘cantik’.

Gue mengamati orangtua yang nonton membawa anaknya. Mereka hanya bawa dua tiket untuk Ayah-Ibu, sementara sang anak yang digandeng tidak perlu membeli tiket. Gue pun akhirnya memberanikan diri untuk ‘berpura-pura’ menjadi anak yang nonton dengan orangtuanya. Gue benar-benar memperhitungkan semuanya. Kalau biasanya ke Garuda dengan baju seadanya, maka gue berusaha mandi sebelum kesana dan memakai baju yang layak untuk ‘dibawa nonton’. Sampai disana, gue akan mengamati calon penonton yang berpasangan. Ketika mereka akan masuk, gue mengikuti tepat di belakang mereka, dan wussss… ternyata GUE BISA MASUK !!! Modus ini cukup sukses membuat gue nonton banyak film tanpa bayar. Memang tidak selalu berhasil kalau ketemu pasangan yang jutek dan terang-terangan tidak ‘mengakui’ gue sebagai anaknya. Kalau ketemu pasangan semacam ini gue akan balik saja. Menunggu besok untuk mencari pasangan yang lebih friendly. Enaknya adalah kalau ketemu pasangan yang baik, mereka tidak jarang justru menggandeng gue masuk ke dalam, seperti sudah paham kemauan gue, walaupun begitu sampai dalam gue akan berlari memisahkan diri mencari tempat duduk sendiri yang memang tanpa nomor, bebas duduk dimana saja. Gue paling seneng kalau ketemu pasangan yang masuk ke kelas 1, karena gue bisa naik ke atas balkon untuk menyaksikan film dengan sensasi berbeda. Ya. Garuda menyediakan balkon di kelas satu ala ala menonton opera.

IMG_0164

Garuda Theatre, tempat nonton favorit karena ‘gratis’🙂 Pada zaman dulu bioskop ini bernama CAPITOL

Masa yang sangat menyenangkan. Hobi gue menonton film bisa tersalurkan tanpa butuh biaya. Ilegal memang, tapi namanya juga anak-anak.. hahaha…

Dibandingkan saat ini, fasilitas bioskop mungkin kalah jauh. Tapi ‘kesakralan’ nonton film menurut gue lebih dapet di masa lalu. Dulu Bioskop adalah sebuah tempat yang memang dibangun sebagai bioskop. Orang kalau nonton akan datang ke Bioskop, dengan tukang jualan kacang rebus yang bisa dibeli untuk dimakan di dalam. Jaman sekarang bioskop adalah bagian dari Mall, kadang orang datang bukan karena niat nonton tapi karena tidak tahu mau ngapain di mall, sehingga akhirnya nonton. Satu hal yang juga sangat khas, saat itu ada mobil khusus yang ‘woro-woro’ menyampaikan film-film apa yang sedang diputar sambil membagikan poster film. Mobil ini akan berkeliling kota, dengan suara musik yang khas. Anak-anak akan berlarian merebut poster yang disebarkan.

Rajawalimob

Mobil semacam ini yang selalu berkeliling kota. Rajawali masih mempertahankan tradisi ini setidaknya sampai tahun 2011 seperti di foto, entah apakah sekarang masih ada

Sayangnya, memasuki pertengahan era 90an saat era Laser Disc dan kemudian VCD mulai marak, ditambah maraknya TV Swasta, orang-orang mulai melupakan bioskop. Terlebih kemudian jaringan 21 merajai, sehingga bioskop-bioskop diluar jaringan menjadi kolaps satu persatu. Demikian juga di Purwokerto. Diawali dengan kolapsnya SRIMAYA, kemudian GARUDA, NUSANTARA, PRESIDENT, NEW KAMANDAKA dan DYNASTI. Untunglah RAJAWALI masih tetap bertahan sampai hari ini, sehingga sejarah itu tidak benar-benar terputus di Purwokerto. Salut untuk pemilik bioskop yang karena kecintaannya pada film rela merugi setiap waktu. Kerugian Rajawali dicoba ditutup dengan pendapatan di usaha yang lain. Ya. selain punya Rajawali, sang pemilik juga punya pabrik kosmetik, pabrik roti dan pabrik wig. Dari usaha lain inilah Rajawali disubsidi.

Satu-satunya bioskop di Purwokerto ini sekarang kembali bergairah, seiring industri film nasional yang semakin kuat, dan gaya hidup masyarakat yang kembali ke bioskop. Kalau di masa terberatnya, Rajawali memutarkan film apa saja yang disodorkan distributor, tidak peduli film itu sudah lama dan sudah tersedia VCD nya di pasaran, maka saat ini film-film yang diputar Rajawali adalah film-film yang sama yang sedang diputar di Jakarta. Semoga tetap bisa seperti ini, karena Rajawali adalah Legenda, satu-satunya yang tersisa dari kejayaan bioskop di Purwokerto pada masa lalu.

1429888508658
Bertemu dan ngobrol dengan orang-orang hebat selalu membuat gue semangat. Inilah salahsatu bagian yang menyenangkan dari seorang Penyiar Radio karena sering mewawancarai orang-orang hebat. Jumat lalu gue kebagian ngobrol sama TIKA BISONO, yang saat ini mungkin lebih dikenal sebagai psikolog kondang. Tapi tentu saja interview gue di acara INDOLAWAS gak akan membahas kiprah Tika sebagai Psikolog, melainkan karirnya di dunia musik yang pernah membesarkan namanya. Berikut hasil interview yang gue tulis ulang.

Karir bernyanyi Tika diawali sejak kelas 4 SD saat bermukim di Riau. Saat itu Tika mewakili sekolahnya mengikuti pop singer anak-anak tingkat Kabupaten, meskipun awalnya ‘dipaksa’ oleh gurunya. Lagu yang harus dibawakannya adalah lagu sedih berjudul MERANTAU, hits dari TITIEK SANDHORA. Tika yang tidak berpengalaman bernyanyi di hadapan banyak orang merasa takut dan grogi sampai akhirnya menangis saking takutnya. Untungnya, meskipun ketakutan, cara bernyanyi Tika tidak salah dan bisa tune dengan iringan musik. Inilah yang menjadi berkah karena Dewan Juri menyangka tangisan Tika karena penghayatan total atas lagu yang dibawakan, sehingga Tika pun keluar sebagai juara pertama!!

Setelah itu karir bernyanyi Tika berlanjut saat membentuk group RIMERKA bersama teman-teman SD nya. Group ini dibuat karena terinspirasi oleh JACKSON FIVE dan THE OSMONDS yang saat itu sedang berjaya. Bersama kelompok ini Tika sering bernyanyi di acara-acara ulangtahun, sunatan, karnaval dan sebagainya. Ini adalah pengalaman yang menurut Tika adalah masa-masa yang sangat menyenangkan.

Selepas SD Tika melanjutkan sekolahnya ke Jakarta, dan kemudian ke Texas, Amerika. Di Texas-lah akhirnya Tika menemukan sesuatu yang kemudian menjadi ciri khasnya : suara falsetto. Awalnya adalah karena disana Tika banyak mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu country, sehingga referensinya kemudian mengacu pada JOHN DENVER, ANNE MURRAY, JOAN BAEZ, JAMES TAYLOR dan sebagainya. Tidak disangka, saat menyanyikan lagu-lagu itu Tika menyanyikan dengan teknik falsetto. Jadilah teknik itu menjadi ciri khas yang terus melekat, meskipun sebenarnya Tika juga mampu bernyanyi menggunakan suara perut sebagaimana penyanyi lain.

lclr 80 copySetelah kembali ke Indonesia, Tika tetap bermusik dengan membentuk vokal group dan juga kursus gitar di YMI. Namanya mulai mencuat saat terpilih menjadi finalis di ajang pemilihan PUTRI REMAJA di majalah GADIS. Saat tampil di malam final, Tika menyanyi sambil bermain gitar. JAMES F. SUNDAH yang malam itu menyaksikan penampilan Tika kemudian kepincut dan mengajak Tika untuk rekaman. Jadilah Tika bernyanyi di ajang bergengsi LOMBA CIPTA LAGU REMAJA PRAMBORS 1980 lewat lagu WAWASAN NUSANTARA, lagu yang cukup banyak mendapat sambutan dari pencinta musik. Kiprah Tika di LCLR juga berlanjut di tahun 1981 lewat lagu BILAMANA dan SANCTA CITRA. Kemudian tahun 1982/1983 lewat lagu MENANTI SARJANA PULANG KE DESA dan PINTA DALAM DOA. Tapi nama Tika paling dikenal saat itu ketika menyanyikan lagu ciptaan GURUH SUKARNO PUTRA dalam album pagelaran UNTUKMU INDONESIAKU berjudul MELATI SUCI.

guruh untuk copyLagu MELATI SUCI sedemikian lekat dengan sosok Tika sampai saat ini, meskipun sudah sempat dirilis ulang oleh beberapa penyanyi. Perpaduan aransemen, materi lagu, serta teknik bernyanyi Tika menjadikan lagu ini terdengar PERFECT. Guruh seperti sangat mengenali karakter suara Tika sehingga berhasil menciptakan lagu yang tepat untuknya. Gue awalnya beranggapan begitu, tapi ternyata salah. Lagu ini dibikin Guruh sebenarnya bukan untuk Tika. Guruh bahkan belum mengenal Tika saat membuat lagu ini. Lagu ini awalnya dibuat untuk dinyanyikan oleh ANNA HARAHAP, salahseorang personel kelompok TRIO BEBEK. Musik yang digarap CHANDRA DARUSMAN pun direkam di Jepang. Tapi sayang, saat suara Anna direkam untuk lagu ini, hasilnya tidak sesuai dengan keinginan Guruh. Lagu ini membutuhkan penyanyi bersuara lembut, halus, megawang-awang. Chandra Darusman sang arranger kemudian teringat dengan Tika, yang lalu merekomendasikan kepada Guruh dan diterima. Pesan Chandra sebelum take vokal lagu ini adalah, dia mengaransemen lagu ini dengan gaya ‘mengawang-awang’ sehingga Tika harus bernyanyi dengan membayangkan suaranya adalah kupu-kupu yang meloncat-loncat di awang-awang. Sebuah metafora yang sebenarnya sulit dipahami tapi bisa diterjemahkan Tika dengan baik, walaupun sebenarnya nada dasar lagu ini kurang tinggi untuk suara Tika. Tika sudah minta nadanya diubah tapi di jaman itu teknologi belum memungkinkan, sementara untuk rekaman ulang jelas tidak mungkin karena dengan begitu harus kembali ke Jepang dan mengeluarkan banyak biaya. Untungnya Tika berhasil menyanyikan dengan baik dan tidak ada yang menyangka kalau nadanya kerendahan. Satu hal yang sebenarnya susah saat menyanyikan nada rendah menggunakan teknik falsetto. Tika memang berhasil menjadi Kupu-kupu yang meloncat-loncat🙂

Fase karir Tika berikutnya adalah kedekatannya bersama kelompok PAHAMA. Pasca ditinggal BRAM MANUSAMA dan DIANE CARRUTHERS yang hijrah ke Australia, PAHAMA kemudian mengajak Tika untuk bernyanyi bersama. Kolaborasi mereka ternyata menghasilkan harmonisasi yang unik, terlihat saat mereka bernyanyi di album SUARA PERSAUDARAAN lewat single HARI INI DIA ESOK SIAPA. Sepertinya semua setuju kalau harmonsisasi mereka di lagu ini sangat ‘mahal’ dan susah disamai. Di fase ini Tika juga membuat album duet bersama DENNY HATAMI salahseorang personel PAHAMA. Hits mereka KENANGAN BERDUA berhasil menjadi lagu wajib patah hati saat itu. Kerjasama dengan PAHAMA juga terus berlanjut saat Tika merilis album solo PAGI dan KETIKA SENYUMMU HADIR, di album-album ini PAHAMA tampil sebagai backing vocal.

tikaAlbum PAGI (1987) digarap Tika bersama arranger-aranger dan komposer handal saat itu seperti CHRISYE, ADJIE SOETAMA, ERWIN GUTAWA, DIAN PRAMANA POETRA, DEDDY DHUKUN, CANDRA DARUSMAN, DODO ZAKARIA dan TITIK HAMZAH. Album ini cukup bagus di pasaran. Berlanjut dengan KETIKA SENYUMMU HADIR (1990) yang sukses besar di pasaran. Saking ngetopnya lagu ini, sebuah film bahkan diproduksi dengan judul sama. Tapi siapa nyana, suksesnya album ini justru menjadi pemicu ‘hengkangnya’ Tika dari dunia musik. Saat karir Tika sedang berada di puncak, Tika tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Suatu hari dia mendatangi ADI NUGROHO dari PRO SOUND, label yang menaunginya saat itu, dan mengatakan “I QUIT !”

Saat ditanyakan alasan pasti kenapa memutuskan untuk pergi, Tika mengatakan bahwa dia merasa mati rasa dengan industri musik yang tidak berpihak pada artisnya. Tika saat itu menemukan ada data yang berbeda antara angka di lapangan dengan angka di back office. Karena tidak mau ‘berantem’ Tika memilih untuk pergi disaat namanya melambung tinggi, dan memilih menekuni profesi baru sesuai latar belakang pendidikannya sebagai Sarjana Psikologi.

Meskipun tidak lagi berkiprah di depan layar, sampai saat ini Tika masih aktif di dunia musik lewat organisasi PAPPRI. Lewat organisasi ini Tika berusaha untuk mengangkat ‘harkat’ artis penyanyi dan pencipta. Saat ini mereka sedang merancang Undang Undang Musik Indonesia.

Bravo Tika Bisono..

Story Behind The Song

Siaran acara INDOLAWAS bikin gue jadi tahu tentang cerita di balik lagu-lagu hits era 80an. Ya, ini memang pertanyaan yang sering gue tanyain sama penyanyi atau pencipta lagu yang jadi bintang tamu. Rasanya seru aja bisa tahu latar belakang penciptaan sebuah lagu, kadang ada cerita-cerita unik yang sayang kalau dilewatkan. Ini beberapa Story Behind The Song yang berhasil gue kulik dari beberapa tamu di Indolawas. cekidoot…

1. KATAKAN SEJUJURNYA (Rinto Harahap – Christine Panjaitan)
christine katakan copyLagu KATAKAN SEJUJURNYA adalah lagu yang sangat hits dari CHRISTINE PANJAITAN, boleh dibilang menjadi salahsatu yang terngetop dari seluruh albumnya. Tapi siapa sangka kalau RINTO HARAHAP menciptakan lagu ini gara-gara curhatan dari RIA RESTY FAUZY ? Ya, salahsatu kebiasaan Rinto sebelum menciptakan lagu untuk seorang penyanyi adalah mengajak penyanyinya ngobrol untuk mempermudah penghayatan bila lagunya sudah jadi. Saat itu Rinto diminta menciptakan lagu untuk Ria sehingga diapun mengajak Ria ngobrol dan akhirnya ‘keluarlah’ curhatan Ria tentang kisah cintanya saat itu yang kemudian menginspirasi Rinto membuat lagu KATAKAN SEJUJURNYA. Ria pun sukses menyanyikan lagu itu dan dipersiapkan menjadi jagoan untuk album debutnya. Hanya saja, ketika sudah siap dirilis, AKURAMA RECORDS tempat Ria bernaung tiba-tiba mengubah ‘image’ Ria dari awalnya disiapkan menjadi penyanyi pop melankolis menjadi penyanyi pop ceria sehingga akhirnya lagu CINTAKU SEDALAM LAUTAN ATLANTIK lah yang dikedepankan menjadi lagu jagoan, dan lagu KATAKAN SEJUJURNYA malah tidak dimasukkan ke dalam album. Rinto sempat ‘marah’ saat tahu hal ini, tapi kemudian lagu ini diserahkan kepada CHRISTINE PANJAITAN dan ternyata.. boom.. lagu ini meledak di pasaran.

2. CINTAKU SEDALAM LAUTAN ATLANTIK (Adriyadie – Ria Resty Fauzy)
riaIni adalah lagu yang awalnya tidak disiapkan menjadi lagu andalan. Bahkan menurut pengakuannya, RIA RESTY FAUZY tidak sreg ketika harus menyanyikan lagu ini. Ria yang merasa lebih tune dengan lagu-lagu pop melankolis ‘terpaksa’ menyanyikan lagu ini untuk memenuhi kuota album yang membutuhkan 10 lagu. Menjelang album pertamanya rilis, tiba-tiba lagu ini ‘naik kelas’ dan dijadikan lagu andalan sekaligus judul album. Ria sempat protes tapi ‘tidak berdaya’ sehingga akhirnya menurut saja. Bahkan untuk recording ulang agar lagu ini lebih ‘layak’ untuk jadi lagu andalanpun tidak dilakukan karena khawatir Ria tidak mood saat menyanyikannya. Maka, lagu yang direkam ‘apa adanya’ karena tidak diniatkan menjadi lagu andalanpun dirilis dan ternyata berhasil meraih penjualan tinggi. Gara-gara inilah Ria akhirnya menyimpan impiannya menjadi penyanyi lagu pop melankolis.

3. KUNCUP HATI LAYU PASTI (Dian Piesesha)
Konon, peristiwa yang dialami sendiri adalah inspirasi paling ‘mudah’ untuk menciptakan lagu. Terlebih bagi seorang pencipta lagu yang juga penyanyi. DIAN PIESESHA adalah satu dari sedikit penyanyi wanita yang juga piawai menciptakan lagu, meskipun tidak menjadi lagu andalan album. Lagu KUNCUP HATI LAYU PASTI adalah salahsatu lagu ciptaannya yang dinyanyikan sendiri yang terinspirasi dari kehidupan perkawinannya saat itu yang baru seumur jagung tapi sudah mendapatkan masalah. Diciptakan dalam keadaan kondisi fisiknya yang sedang sakit, saat sedang menyepi di Surabaya. Malam hari Dian merenung sendiri di belakang rumah, di hadapan kebun cabe dan jagung dan hamparan rawa-rawa. Menggunakan gitar yang dimainkannya sendiri, terciptalah lagu KUNCUP HATI LAYU PASTI, sebagai gambaran dari suasana hatinya saat itu. Lagu ini kemudian masuk di album TAK INGIN SENDIRI yang meskipun tidak diandalkan tapi berhasil menjadi hits.

4. TAK INGIN SENDIRI (Pance Pondaag – Dian Piesesha)
dian takSaat mempersiapkan album keempatnya, DIAN PIESESHA menderita sakit yang cukup berat. Penyakit ini tidak diceritakan kepada siapapun termasuk keluarganya, Dian menyimpan sendiri rahasia penyakitnya itu. Merasa butuh sesuatu untuk membuatnya lebih tegar, Dian kemudian meminta PANCE PONDAAG untuk menciptakan lagu. Pance kemudian menciptakan lagu TAK INGIN SENDIRI. Meskipun lagu ini terkesan sebagai lagu cinta, sebenarnya lagu ini menceritakan harapan Dian yang menunggu keajaiban dari Tuhan. Kesetiaan dan pengharapan pada Tuhan ini dimanifestasikan Pance dalam sebuah lagu pop melankolis yang berhasil dibawakan Dian dengan bagus. Lagu ini berhasil meledak di pasaran, bahkan menjadi salahsatu album terlaris Indonesia sepanjang masa.

5. BILA KAU SEORANG DIRI (Rinto Harahap – Nur Afni Octavia)
Nur Afni_Bila Kau Seorang DiriSaat hendak menciptakan lagu untuk NUR AFNI OCTAVIA, RINTO HARAHAP mengajak Afni ngobrol tentang apa yang sedang dirasakan saat itu. Afni kemudian curhat tentang kesendiriannya sebagai penyanyi daerah yang baru hijrah ke Jakarta. Rinto kemudian berusaha ‘menghayati’ kesendirian yang sedang dirasakan Afni dengan mancing di laut. Suasana hening dan ‘kesendirian’ di tengah laut berhasil memantik ide Rinto untuk menciptakan lagu BILA KAU SEORANG DIRI yang kemudian berhasil dibawakan Afni dengan bagus. Lagu ini kemudian meledak di pasaran dan menjadi salahsatu lagu Afni yang paling terkenal.

6. IBU (Rinto Harahap – Nur Afni Octavia)
afni ibu copyKembali lagu ciptaan RINTO HARAHAP yang terinspirasi dari cerita nyata penyanyinya. Adalah NUR AFNI OCTAVIA yang saat itu baru saja menikah dan harus ‘terpisah’ dari sang Ibu yang selama ini menemaninya kemana saja. Karena sudah berumahtangga maka peran ibu dalam kehidupannya mulai berkurang, dan itu membuat Afni menjadi merasa sedih. Rinto kemudian menciptakan lagu berjudul IBU yang bercerita tentang kerinduan seorang anak kepada ibunya. Melodi yang melankolis dengan lirik yang dalam membuat Afni tidak kuasa menyanyikannya saat harus take rekaman. Baru beberapa baris dinyanyikan sudah membuatnya menangis. Rinto kemudian menghentikan sesi rekaman dan menyuruh Afni menghabiskan tangisnya. Afni pun menangis sejadi-jadinya sampai emosinya terlepaskan, barulah sesi rekaman dimulai lagi dan berhasil. Hasilnya memang terlihat, penghayatan Afni begitu total karena memang sesuai dengan apa yang sedang dirasakannya. Lagu inipun berhasil menjadi hits besar saat dirilis di pasaran.

Segitu dulu yaaaa… nanti diinget-inget lagi…🙂

Judul Film : Filosofi KopiFilosofi-Kopi Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Cerita : Dewi Lestari
Skenario : Jenny Jusuf
Produser : Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono
Cast : Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo Djarot, Jajang C. Noor, Otig Pakis

Mengadaptasi film berdasarkan buku laris memang bukan perkara baru di industri film kita. Di era 70-80an trend seperti ini sempat mewabah, sehingga muncul film-film laris berdasarkan buku laris dari nama-nama penulis seperti MARGA T, MIRA W, IKE SOEPOMO atau EDDY D. ISKANDAR. Di era sekarang, banyak pula judul-judul buku yang diadaptasi ke layar lebar, dan salahsatu penulis yang bersinar -nyaris- sendirian adalah DEWI LESTARI alias DEE. Karya-karyanya satu persatu dihidupkan lewat film-film yang juga diterima baik di pasaran, dimulai dari PERAHU KERTAS 1 & 2, MADRE, RECTOVERSO, SUPERNOVA KSATRIA PUTRI DAN BINTANG JATUH, serta yang terakhir FILOSOFI KOPI.

Berbeda dengan judul-judul sebelumnya yang merupakan novel dan novelette, atau cerpen-cerpen yang disatukan dalam film omnibus, FILOSOFI KOPI adalah sebuah cerita pendek yang diangkat ke layar menjadi sebuah cerita panjang. Cerita aslinya sendiri sudah sangat menarik, dengan ending yang unpredictable, tapi tentu saja masih kurang untuk menjadi sebuah film yang membutuhkan durasi tertentu. Disini dibutuhkan kerja penulis skenario yang harus ‘menambah cerita’ untuk kepentingan durasi, sebuah kebalikan dari proses adaptasi novel ke layar lebar yang harus membuang-buang banyak cerita untuk kepentingan durasi pula. Secara proses tentu lebih susah ‘menambah’ daripada ‘membuang’ karena menambah berarti mengisi banyak hal, memperpanjang konflik, atau menciptakan cerita-cerita dan tokoh-tokoh baru.

Skenario FILOSOFI KOPI ditulis oleh JENNY JUSUF, yang kemudian mengisi kekosongan-kekosongan dengan cukup cerdas. Di versi cerpen, kita hanya mengenal BEN dan JODY yang berkongsi membuat kedai kopi bernama FILOSOFI KOPI. Tapi di film, kita mengenal BEN dan JODY secara utuh, bagaimana masa lalu mereka, bagaimana mereka bisa dekat dan bersahabat, plus penambahan ‘bumbu’ berupa tokoh perempuan bernama ELAINE yang tidak ada di versi cerpen. Cerita tentu saja berubah, meski tetap pada kerangka yang sama dengan versi cerpen, dan tentu saja dengan ending yang berbeda.

Hadirnya tokoh ELAINE ini sempat membuat gue menebak-nebak bahwa akan ada semacam love triangle atau apalah namanya yang akan menjadi salahsatu konflik di film ini, tapi ternyata… konfliknya ada tapi bukan karena love triangle. Mungkin ini twist yang memang sengaja dibuat untuk membuat calon penontonnya penasaran.

Baiklah… seperti biasa gue kulik akting para pemainnya…

BEN dimainkan oleh CHICCO JERIKHO
benAktor terbaik FFI 2014 lewat film CAHAYA DARI TIMUR ini memang pantas diandalkan. Sosok Ben sang peracik kopi berhasil dihidupkan Chicco dengan luwes. Sifatnya yang undpredictable, seenaknya, cuek, temperamental sekaligus sentimentil kalau menyangkut kopi tampil utuh lewat visualisasi sosok Chicco yang berambut gondrong, jaket robek, wajah lusuh tapi tetap ‘bersinar’. Chemistry antara Ben dengan kopi terlihat nyata. Konon karena Chicco sampai harus kursus menjadi barista untuk pendalaman karakter. Good job.

JODY dimainkan oleh RIO DEWANTO
jodySahabat Ben ini tampil bertolak belakang dengan sosok Ben. Jody adalah sosok yang apik, rapi, fashionable, dewasa dan ngemong. Meskipun sering marah-marah karena ulah Ben, tapi Jody lebih terlihat seperti seorang kakak yang sangat menyayangi Ben. Dan Rio tampil pas. Lewat film ini gue baru sadar kalau ternyata tampang Rio itu oriental. Pas.

ELAINE dimainkan JULIE ESTELLE
elEntah karena yang berperan Julie atau memang skenarionya begitu, tokoh Elaine digambarkan sebagai orang Indonesia keturunan Perancis yang tentu fasih berdialog Perancis. Di dunia nyata, Julie berdarah Perancis, dan ini tentu memudahkannya memerankan Elaine, seorang penulis yang keliling Asia untuk mengulas kopi-kopi terbaik. Elaine dihadirkan Julie apa adanya, tidak berbeda dengan permainannya di film-film terdahulu yang stereotip (kecuali aktingnya di The Raid 2). Elaine tampil sebagai pemanis. Yang memang manis.

BAPAK dan IBU SENO dimainkan SLAMET RAHARDJO DJAROT dan JAJANG C. NOOR
senPara senior berhasil tampil pas. Sosok suami istri petani kopi yang bersahaja berhasil dihadirkan Slamet dan Jajang dengan bagus. Mereka dengan telaten menghadapi Ben yang emosional, seperti sosok orangtua kepada anaknya.

Beberapa cameo juga tampil bagus seperti MELISA KARIM dan TANTA GINTING. Meskipun tampil sekilas, mereka cukup mencuri perhatian.

Gambar-gambar di film ini juga keren. Lanskap pegunungan ditampilkan dari atas menghasilkan view yang keren. Tata artistik juga cukup keren menyulap bangunan ruko tua menjadi kedai kopi yang cozy. Soundtracknya juga keren, ada MALIQ N D’ESSENTIAL lewat lagu SEMESTA yang bagus bangeet… ada juga trio GLENN FREDLY, MONICA TAHALEA dan IS PAYUNG TEDUH, dan tentu saja DEWI LESTARI sang empunya cerita yang juga menyumbangkan lagunya. Sayangnya karena film ini disponsori oleh produk kopi dan gadget, maka jangan heran kalau produk-produk itu berseliweran. Tidak mengganggu cerita sih, tapi yaaa gitu dehhh…

Overall, sebagai sebuah karya yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek, FILOSOFI KOPI terhitung berhasil. Mereka yang sudah pernah membaca cerita aslinya justru seperti ‘terlengkapi’ oleh penambahan cerita yang sesuai porsi. ANGGA DWIMAS SASONGKO sebagai sutradara kembali berhasil menunjukkan kelasnya. Memang tidak secemerlang CAHAYA DARI TIMUR tapi jelas film ini bukan film biasa-biasa.

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.